BERITA TERKINI
Pakar Ingatkan Tren “Fiber Maxxing” Tetap Perlu Sesuai Anjuran, Serat Bisa Dipenuhi dari Makanan

Pakar Ingatkan Tren “Fiber Maxxing” Tetap Perlu Sesuai Anjuran, Serat Bisa Dipenuhi dari Makanan

Tren “fiber maxxing” yang ramai di media sosial mendorong masyarakat untuk memaksimalkan asupan serat demi kesehatan usus, bahkan hingga 50–100 gram per hari. Namun, pakar gizi masyarakat IPB University, Ali Khomsan, mengingatkan bahwa kebutuhan serat pada umumnya dapat dipenuhi melalui pola makan bergizi seimbang tanpa harus mengandalkan suplemen.

Menurut Ali, fiber maxxing pada dasarnya merupakan upaya meningkatkan konsumsi serat karena manfaatnya bagi kesehatan saluran pencernaan. Meski demikian, ia menegaskan konsumsi serat tetap harus mengikuti anjuran.

“Sesuatu makanan atau sumber gizi apabila dikonsumsi secara berlebihan tentu saja bisa menimbulkan gangguan kesehatan. Serat yang dikonsumsi berlebihan juga dapat mengganggu serapan zat gizi lain,” ujarnya.

Ali menjelaskan, kebutuhan serat orang dewasa berkisar 20–30 gram per hari. Jumlah tersebut umumnya dapat dicukupi dengan rutin mengonsumsi sayur, buah, serta biji-bijian utuh (whole grains).

Ia menambahkan, seseorang yang sudah menerapkan pola makan sehat dan beragam tidak memerlukan suplemen serat. Suplemen baru dibutuhkan pada kondisi tertentu, seperti lansia yang mengalami penurunan nafsu makan, pasien dalam masa pemulihan, atau orang dengan gangguan kesehatan sehingga sulit memenuhi kebutuhan gizi dari makanan.

“Jadi, suplemen diperlukan dalam batas tertentu dan tergantung pada problem makan yang sedang dihadapi,” katanya.

Ali juga menyoroti rendahnya konsumsi sayur dan buah di Indonesia. Berdasarkan berbagai survei, sekitar 90 persen masyarakat belum memenuhi kebutuhan konsumsi sayur dan buah, sehingga asupan serat ikut rendah.

Padahal, sumber serat alami dinilai mudah ditemukan di Indonesia. Berbagai jenis sayuran dan buah disebut menjadi pilihan terbaik, termasuk apel dan pir yang dianjurkan dikonsumsi bersama kulitnya setelah dicuci bersih.

“Pada kulit apel dan pir terdapat serat larut yang baik untuk membantu mengendalikan kolesterol sekaligus menjaga kesehatan saluran cerna,” ujarnya.

Ali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengikuti tren yang hanya menonjolkan satu jenis zat gizi. Ia menilai Pedoman Gizi Seimbang dan konsep “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan tetap menjadi acuan.

Ia menyebut anjuran minimal konsumsi lima porsi sayur dan buah setiap hari atau sekitar 400 gram sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dengan pola makan yang beragam, kebutuhan serat dinilai lebih mudah terpenuhi dan kesehatan dapat terjaga secara berkelanjutan.