Penerimaan pajak daerah dari sektor makanan dan minuman di Kota Bontang masih menunjukkan kinerja yang kuat. Hingga semester pertama 2026, realisasi Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) makanan dan/atau minuman tercatat mencapai Rp15,38 miliar.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bontang, Natalia Trisnawati, menilai capaian tersebut menjadi indikator bahwa bisnis kuliner di Bontang masih memiliki prospek yang baik. “Makan minum masih menjanjikan,” ujarnya.
Berdasarkan data target dan realisasi pajak daerah hingga Triwulan II 2026, PBJT makanan dan/atau minuman ditargetkan sebesar Rp31,36 miliar sepanjang tahun. Sampai akhir semester pertama, penerimaan yang terkumpul mencapai Rp15.385.270.189 atau setara 49,06 persen dari target tahunan.
Dengan capaian itu, sektor makanan dan minuman masih perlu mengejar sekitar Rp15,98 miliar untuk memenuhi target hingga akhir 2026.
Natalia menyebut hampir tercapainya separuh target dalam enam bulan pertama menunjukkan aktivitas usaha kuliner di Bontang masih bergerak. Ia juga menyinggung mulai masuknya sejumlah jaringan franchise sebagai salah satu faktor yang turut mendukung dinamika pasar.
Ia menyambut positif bertambahnya jaringan usaha tersebut karena dinilai memperlihatkan Bontang masih memiliki pasar dan berpotensi memperluas basis wajib pajak. “Pokoknya saya senang sekali kalau franchise masuk. Mudah-mudahan buka banyak franchise di sini,” katanya.
Sejumlah gerai seperti Kopi Kenangan, Tomorrow, hingga Roti-O disebut mulai meramaikan pasar kuliner Bontang. Bapenda juga menilai keberadaan franchise memberikan keuntungan dari sisi administrasi perpajakan, karena usaha jaringan umumnya memiliki sistem yang sudah tertata dan kewajiban pajak yang ditetapkan manajemen pusat. “Kalau franchise itu dari pusat sudah terpola dan dia otomatis disuruh bayar pajak. Memang sudah dari atas,” tutur Natalia.
Secara keseluruhan, realisasi PBJT Bontang hingga semester I 2026 mencapai Rp41,14 miliar atau 50,11 persen dari target Rp82,09 miliar. Selain sektor makanan dan minuman, penerimaan PBJT juga berasal dari tenaga listrik, jasa perhotelan, jasa parkir, serta jasa kesenian dan hiburan.
Natalia berharap geliat usaha kuliner dapat bertahan hingga akhir tahun. Bertambahnya restoran, kafe, gerai makanan, dan jaringan franchise dinilai dapat memperkuat penerimaan pajak sekaligus mendorong Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bontang.