Nuryadi, yang akrab disapa Mas Nur, menapaki perubahan hidup dari pengemudi ojek online menjadi pemilik usaha kuliner Baso Aci Mastyo. Berangkat dari rumah sederhana di gang sempit, ia mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan platform digital dan dukungan komunitas.
Mas Nur bergabung sebagai mitra pengemudi pada 2019. Di sela pekerjaannya, ia mengamati tren makanan yang sedang diminati masyarakat. Pengalaman di lapangan itu membentuk keyakinannya bahwa layanan pesan-antar berbasis aplikasi akan menjadi jalur penting bagi bisnis kuliner.
Sebelum merintis Baso Aci Mastyo, Mas Nur sempat menjalankan usaha Salad Buah Arjuna saat tren menu sehat menguat. Namun, ketika pandemi COVID-19 datang dan minat terhadap salad buah menurun, ia memilih mengubah arah usahanya. Ia melihat kudapan bercita rasa pedas seperti seblak dan baso aci tetap memiliki peminat yang stabil. Dari pertimbangan itu, ia memulai Baso Aci Mastyo pada 2020.
Nama “Mastyo” diambil dari nama putra sulungnya. Mas Nur menyebut usaha ini sebagai simbol harapan bagi keluarganya. Ia juga menautkan tekad tersebut dengan latar belakang pendidikannya yang hanya sampai tingkat SMK karena keterbatasan ekonomi, serta keinginannya memberi peluang pendidikan yang lebih tinggi bagi anak-anaknya.
Lokasi usaha di dalam gang sempit sempat menjadi tantangan karena tidak mudah mengandalkan pembeli yang datang langsung. Mas Nur kemudian menitikberatkan strategi pada digitalisasi agar jangkauan pasar tidak terbatas pada lingkungan sekitar. Ia memaksimalkan fitur GrabAds untuk meningkatkan visibilitas toko di aplikasi, serta menjalankan promosi seperti voucher gratis ongkir hingga Rp20.000 untuk pesanan dalam jumlah besar.
Strategi tersebut berdampak pada penjualan. Menu Baso Aci Tulang Rangu dengan sensasi kriuk menjadi andalan. Mas Nur menyebut hampir 90% penjualan berasal dari pesanan online, dengan rata-rata 70 hingga 80 porsi terjual setiap hari.
Di balik operasional harian, Mas Nur dibantu istri, adik, dan karyawan. Ia juga aktif dalam komunitas merchant sebagai ruang berbagi strategi dan bertukar pengalaman menghadapi persaingan. Dukungan komunitas ini disebut turut menguatkannya saat ia harus menutup dua cabang di Gandul dan Pintu Air akibat fluktuasi pasar pasca-pandemi.
Dalam menjalankan usaha kuliner online, Mas Nur menekankan pentingnya amanah dan kejujuran. Menurutnya, pelanggan tidak dapat melihat langsung proses memasak, sehingga menjaga rasa dan kebersihan menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar. Ia memandang kepercayaan pelanggan sebagai aset yang lebih berharga daripada keuntungan sesaat.
Kepada calon pelaku usaha, Mas Nur berpesan agar tidak terlalu lama ragu untuk memulai. “Kalau ingin memulai usaha, mulai saja dulu. Jangan terlalu takut. Bisnis yang tidak pernah berjalan adalah bisnis yang tidak pernah dimulai,” ujarnya.

