Pastel, jajanan tradisional yang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, kembali menarik perhatian seiring meningkatnya minat terhadap makanan ringan bercita rasa autentik. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melaporkan adanya kenaikan permintaan pastel, baik untuk konsumsi harian maupun untuk berbagai kebutuhan acara.
Menurut para pelaku usaha, pastel kini kerap dipesan sebagai sajian dalam acara keluarga, pertemuan bisnis, hingga kegiatan sosial. Kondisi ini mendorong pelaku UMKM untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas variasi produk agar sesuai dengan selera konsumen yang beragam.
Secara umum, pastel dibuat dari kulit berbahan dasar tepung terigu dengan isian yang bervariasi, seperti bihun, wortel, kentang, ayam, telur, maupun sayuran. Setelah diisi, pastel digoreng hingga berwarna keemasan, menghasilkan tekstur renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam.
Dalam beberapa tahun terakhir, inovasi pada produk pastel semakin berkembang. Selain mempertahankan resep tradisional, banyak pelaku usaha menghadirkan varian baru, antara lain pastel isi daging sapi, keju, jamur, tuna, serta pilihan rasa pedas yang menyasar kalangan anak muda.
Sejumlah produsen juga menawarkan pastel beku (frozen) sebagai alternatif bagi konsumen yang ingin menyimpan lebih lama dan menggoreng sendiri saat akan disajikan. Produk ini dinilai membantu menjawab kebutuhan masyarakat yang menyukai makanan praktis namun tetap memiliki cita rasa rumahan.
Media sosial turut menjadi faktor yang dinilai memperluas jangkauan pasar. Promosi melalui platform digital memungkinkan produk pastel dikenal hingga ke luar daerah, termasuk melalui sistem pemesanan dan pengiriman.
Salah seorang penjual pastel di Bandung, Rina Setiawati, mengatakan permintaan produknya meningkat sejak awal tahun. Ia menyebut pelanggan tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari berbagai kota yang memesan pastel beku melalui layanan pengiriman.