Mie Mapan dikenal sebagai salah satu bakmi legendaris yang berawal dari Surabaya dan kini berkembang ke berbagai kota. Saat ini, Mie Mapan memiliki 26 cabang yang tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Bali, Surabaya, dan Sidoarjo. Perjalanan panjangnya membuat banyak orang bertanya, apa yang membuat usaha keluarga ini tetap bertahan di tengah persaingan bisnis kuliner yang kian ketat.
Komunitas CAK KAJI (Cangkrukan Kompasianer Jatim) sempat bertemu dengan jajaran komisaris dan direksi Mie Mapan, yakni Jang Nathalia, Jang Ingrid, Jang Steven, dan Jang Bambang. Keempatnya merupakan kakak beradik yang melanjutkan usaha keluarga tersebut.
Menurut Jang Steven yang kini menjabat Direktur Utama, Mie Mapan bermula pada 1992 dari sebuah kedai di garasi rumah keluarga Jang Hwa Han di kawasan Rungkut Mapan, Surabaya. Usaha itu dibuka oleh sang ibu, Tieng Yek Shin, dengan tujuan menambah penghasilan keluarga. Dari sana, Mie Mapan mulai dikenal pelanggan, terutama warga Rungkut dan sekitarnya.
Steven menjelaskan, pada masa awal, orang tuanya sempat berjualan di pujasera sebuah supermarket selama kurang lebih dua tahun sebelum kemudian berjualan di garasi rumah. Seiring waktu, Mie Mapan berkembang, meski prosesnya tidak selalu mulus.
Di tengah kemunculan merek mie kekinian, Steven menyebut ada lima prinsip yang terus dipegang keluarga untuk menjaga keberlangsungan usaha: kerja keras, ketelatenan, perhatian kepada pelanggan, menjaga mutu, dan inovasi. Ia mengakui perjalanan bisnis tidak lepas dari tantangan, termasuk kabar burung terkait bahan yang digunakan dalam produksi mie. Menurutnya, tantangan tersebut dihadapi dengan kerja keras, inovasi, loyalitas, menjaga dan meningkatkan kualitas produk, serta keseriusan mengurus sertifikasi halal.
Steven juga menceritakan masa-masa sulit ketika depot belum ramai. Ia mencontohkan, pernah dalam sehari hanya terjual satu porsi nasi putih yang diminta dikirim ke rumah pelanggan. Permintaan itu tetap dipenuhi sebagai bagian dari layanan. Ia menilai perhatian terhadap pelanggan menjadi salah satu cara membangun ikatan yang kuat, termasuk melalui hal-hal kecil. Salah satu kisah yang ia sampaikan adalah ketika keluarganya memberikan syal kepada seorang anak kecil yang sedang makan di tempat saat hujan turun, agar tidak kedinginan.
Dari sisi operasional, keluarga Mie Mapan menekankan pentingnya menjaga mutu. Jang Nathalia menyampaikan bahwa quality control dilakukan secara ketat. Hal itu diperkuat dengan keberadaan Central Kitchen yang memasok kebutuhan bahan baku hidangan untuk seluruh cabang.
Meski dijalankan oleh keluarga besar, Mie Mapan juga melibatkan tenaga profesional, termasuk dengan meng-hire konsultan bisnis kuliner sebagai upaya pengembangan. Di sisi lain, nilai “melayani dengan hati” disebut menjadi pendekatan yang konsisten dijalankan dalam pemasaran dan penguatan merek.
Steven menambahkan, keluarganya juga menekankan pentingnya kerukunan dan komunikasi dalam menjalankan usaha. Ia menyebut budaya kerja yang terus dijaga di Mie Mapan adalah tanggung jawab dan kepedulian, agar seluruh karyawan memiliki acuan yang sama meski datang dari latar belakang yang beragam.