Rasa cinta kerap dianggap sebagai sesuatu yang datang begitu saja dan akan bertahan dengan sendirinya. Namun, cinta yang matang justru tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan secara sadar dan konsisten—baik dalam hubungan dengan pasangan maupun dalam relasi dengan diri sendiri.
Dalam buku All About Love: New Visions, bell hooks menekankan bahwa cinta lebih tepat dipahami sebagai kata kerja, bukan sekadar kata benda. Ia mendefinisikan cinta sebagai kombinasi kepedulian, komitmen, pengetahuan, tanggung jawab, rasa hormat, dan kepercayaan. Dari sudut pandang ini, cinta adalah sesuatu yang dipraktikkan dan dirawat, bukan sekadar dirasakan.
Menumbuhkan cinta pada pasangan
Upaya menumbuhkan cinta pada pasangan dapat dimulai dari kesediaan untuk terus mengenal satu sama lain, alih-alih merasa sudah sepenuhnya memahami pasangan. Cinta cenderung menguat ketika kedua pihak merasa dilihat, didengar, dan dihargai dalam keseharian.
Salah satu kunci kedekatan adalah keterbukaan diri. Amanda Forest, asisten profesor psikologi dari University of Pittsburgh, menyatakan bahwa ketika seseorang mengungkapkan tujuan dan perasaan kepada orang lain, pihak tersebut mendapat kesempatan untuk benar-benar mengenal dan memahami dirinya.
Sejumlah langkah yang disebut dapat membantu menumbuhkan rasa cinta pada pasangan, antara lain:
Pertama, mengenali kembali dunia batin pasangan dengan mengajukan pertanyaan terbuka, misalnya yang dimulai dengan “apa” atau “bagaimana”, bukan sekadar pertanyaan rutin. Rasa ingin tahu dinilai penting karena setiap orang terus berubah seiring waktu.
Kedua, membangun komunikasi yang jujur dan terbuka. Berbagi cerita, harapan, dan kerapuhan diri tanpa saling menghakimi dapat memperdalam ikatan emosional.
Ketiga, meluangkan waktu berkualitas. Dalam hubungan romantis, quality time bukan terutama soal durasi, melainkan kualitas perhatian saat bersama.
Keempat, memahami bahasa cinta masing-masing. Cara orang menerima kasih sayang bisa berbeda, seperti melalui kata-kata, sentuhan, hadiah, waktu, atau tindakan. Mengenali kebutuhan pasangan membuat ekspresi cinta menjadi lebih tepat.
Kelima, mengungkapkan apresiasi dan rasa syukur. Ucapan terima kasih atas hal kecil dapat membangun kedekatan dan membuat pasangan merasa dihargai.
Keenam, menghadirkan sentuhan fisik dan kontak mata. Disebutkan bahwa oksitosin—yang kerap dijuluki hormon cinta—dilepaskan saat berpelukan dan bersentuhan. Kontak mata selama beberapa menit juga disebut dapat meningkatkan kedekatan emosi.
Ketujuh, menjadi pribadi yang dapat diandalkan. Kepercayaan dibangun lewat konsistensi dan kejujuran, termasuk menepati janji dan komitmen, yang pada akhirnya memperkuat rasa aman dalam hubungan.
Menumbuhkan cinta pada diri sendiri
Selain relasi dengan pasangan, cinta pada diri sendiri disebut sebagai fondasi kesehatan mental. Cinta diri bukan sikap egois, melainkan kemampuan menghargai diri sehingga seseorang dapat memberi tanpa merasa kosong.
Deborah Khoshaba, psikolog klinis yang dikutip dari Psychology Today, menyatakan bahwa cinta pada diri adalah keadaan menghargai diri yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis, dan spiritual seseorang.
Beberapa langkah yang disoroti untuk menumbuhkan cinta pada diri sendiri meliputi menerima diri apa adanya, termasuk merangkul kelebihan dan kekurangan. Selain itu, seseorang dapat melatih cara bicara yang lebih lembut pada diri sendiri—misalnya mengganti pertanyaan bernada menyalahkan dengan pertanyaan yang lebih memahami situasi.
Langkah lain adalah menetapkan batasan yang sehat, termasuk berani berkata “tidak” pada hal yang tidak sanggup dipenuhi. Perawatan tubuh dan pikiran—seperti makan sehat, tidur cukup, dan olahraga—juga disebut sebagai bentuk nyata dari cinta diri. Di samping itu, memberi ruang untuk aktivitas yang membahagiakan dan mengurangi ketergantungan pada validasi eksternal dinilai dapat membuat cinta diri lebih stabil.
Merawat cinta agar terus bertumbuh
Setelah cinta mulai tumbuh, tantangan berikutnya adalah merawatnya dalam jangka panjang. Disebutkan bahwa studi New York University pada 2015 menemukan fase “bulan madu” rata-rata bertahan sekitar 30 bulan sebelum gairah awal mereda. Karena itu, upaya sadar dibutuhkan setelah fase tersebut.
Suzann Pileggi Pawelski, dikutip dari Penn Today, menyatakan bahwa pasangan yang paling bahagia justru aktif memupuk emosi positif. Dalam praktiknya, langkah yang disarankan antara lain memprioritaskan emosi positif dengan menjadwalkan kegiatan yang memunculkan kegembiraan, ketenangan, dan rasa syukur.
Selain itu, pasangan dapat menikmati hal-hal baik dan membingkai ulang hal buruk dengan tidak terpaku pada kekurangan. Konflik juga disarankan dihadapi dengan empati, menciptakan ruang aman agar kedua pihak bisa terbuka tanpa takut dihakimi. Upaya untuk terus bertumbuh bersama—saling mendukung tujuan masing-masing tanpa memaksa atau mengendalikan—juga disebut dapat memperdalam cinta.
Kebiasaan kecil yang menjaga hubungan tetap hangat
Di luar langkah-langkah besar, kebiasaan sederhana disebut dapat berdampak besar bagi hubungan. Dalam buku The Road Less Traveled, psikiater M. Scott Peck mendefinisikan cinta sebagai “kehendak untuk memperluas diri demi memelihara pertumbuhan spiritual diri sendiri maupun orang lain.” Dari sudut pandang ini, cinta yang bertahan dinilai tumbuh lewat usaha yang konsisten.
Kebiasaan yang disebut dapat membantu antara lain kencan rutin meski sederhana, kejutan kecil seperti catatan singkat atau camilan favorit, serta tertawa bersama. Ucapan terima kasih harian juga dinilai dapat menjaga kehangatan. Di saat yang sama, menghargai ruang pribadi penting agar masing-masing tetap dapat menjadi diri sendiri. Konsistensi menunjukkan perhatian—melalui tindakan sederhana yang stabil—disebut lebih berarti daripada gestur besar yang hanya sesekali.
Seputar pertanyaan umum tentang cinta
Rasa cinta yang memudar disebut masih bisa tumbuh kembali. Perasaan yang meredup tidak selalu berarti cinta habis, tetapi dapat menjadi sinyal bahwa hubungan membutuhkan perhatian ulang. Komunikasi terbuka, waktu berkualitas, dan usaha sadar dari kedua pihak dinilai dapat memulihkan kedekatan secara bertahap.
Adapun perbedaan jatuh cinta dan menumbuhkan cinta terletak pada prosesnya. Jatuh cinta digambarkan sebagai fase awal yang penuh gairah dan sering terjadi otomatis, sementara menumbuhkan cinta merupakan proses sadar yang dibangun lewat komitmen, tindakan, dan perhatian. Gairah awal bisa mereda, tetapi cinta yang dirawat disebut berpotensi menjadi lebih dalam seiring waktu.
Pada akhirnya, cinta yang kuat disebut lahir dari pilihan kecil yang diulang setiap hari, bukan dari satu momen dramatis. Langkah sederhana—menyapa hangat, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, atau bersikap lebih lembut pada diri sendiri—dapat menjadi awal bagi cinta yang tumbuh dan mengakar.