Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menyatakan dukungannya terhadap kolaborasi lintas subsektor ekonomi kreatif, khususnya antara kuliner dan penerbitan, melalui konsep library-cafe. Menurutnya, integrasi ruang baca dengan sajian kuliner dapat membuka sumber nilai tambah baru bagi pelaku usaha sekaligus memperkuat budaya literasi di masyarakat.
Riefky menilai konsep tersebut sebagai inovasi yang mencerminkan arah masa depan industri kreatif. Ia mengatakan kolaborasi lintas sektor berpotensi meningkatkan nilai tambah produk lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ia juga menyebut integrasi subsektor kuliner dan penerbitan strategis untuk memperluas ekosistem ruang baca publik, terutama melalui tren model bisnis library-cafe yang kian diminati. Dalam pandangannya, ruang usaha dapat berfungsi tidak hanya sebagai tempat transaksi, tetapi juga ruang pertemuan komunitas, gagasan, karya, dan berbagai produk ekonomi kreatif.
Data Kementerian Ekraf mencatat subsektor kuliner menjadi penyumbang kontribusi terbesar terhadap ekonomi kreatif, yakni 41,06 persen pada 2025 dengan pertumbuhan 8,44 persen. Pada periode Januari–April 2026, subsektor ini mencatat nilai ekspor sebesar 0,28 miliar dolar AS.
Sementara itu, subsektor penerbitan berkontribusi 5,35 persen terhadap ekonomi kreatif pada 2025 dengan pertumbuhan 3 persen. Nilai ekspor subsektor penerbitan tercatat mencapai 4,47 juta dolar AS pada Januari–April 2026.
Sejalan dengan itu, Riefky mendukung pembukaan AKC Library & Cafe di Jakarta. Tempat ini disebut sebagai ruang publik berkonsep book club dan kafe kebijakan luar negeri pertama di Jakarta yang diinisiasi diplomat senior Indonesia, Dino Patti Djalal. AKC Library & Cafe menghadirkan ruang baca, ruang diskusi isu global, serta koleksi buku nonfiksi yang berasal dari donasi tokoh nasional dan diplomat.
Riefky berharap AKC Library & Cafe dapat menjadi inkubator kreativitas bagi pelaku industri untuk bertukar gagasan dan menghasilkan karya. Ia juga menyatakan Kementerian Ekraf akan terus mendukung inisiatif serupa guna memperluas akses masyarakat terhadap ruang edukasi yang berkualitas.
Dino Patti Djalal menjelaskan, nama AKC diambil dari akronim tiga anaknya, yakni Alexa, Keanu, dan Chloe. Ia mengatakan tempat tersebut dirancang sebagai ruang yang tenang untuk membaca, menulis, berpikir, serta berdiskusi mengenai isu-isu global, dengan koleksi buku nonfiksi dari donasi tokoh nasional, pemikir strategis, hingga diplomat.
Dino menyebut visinya adalah menjadikan AKC sebagai wadah bagi anak muda untuk datang, berpikir, dan menulis. Ia menekankan kehadiran tempat itu bukan semata untuk mencari keuntungan, melainkan agar pengunjung dapat menemukan ruang untuk mengembangkan diri.
Kementerian Ekraf menilai keterlibatan diplomat dan tokoh nasional dapat menjadi momentum membangun jejaring kemitraan global, sekaligus mengembangkan model kolaborasi donasi buku bagi pegiat literasi binaan kementerian. Ke depan, Kementerian Ekraf berharap model kolaborasi lintas subsektor seperti ini dapat tumbuh di berbagai daerah untuk menciptakan lebih banyak ruang kreatif dan memperluas peluang usaha bagi pelaku ekonomi kreatif.