Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong generasi muda menjajaki bisnis waralaba sebagai alternatif memulai usaha. Menurutnya, model waralaba dapat mempermudah wirausaha pemula sekaligus membuka peluang pengembangan merek lokal ke pasar internasional.
Pernyataan itu disampaikan Budi saat membuka Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) ke-27 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Pantai Indah Kapuk (PIK 2), Kosambi, Tangerang, Jumat (9/10/2026).
Budi menilai sistem bisnis waralaba yang sudah tersedia dapat membantu pelaku usaha pemula mempelajari pengelolaan bisnis melalui mekanisme yang telah teruji. Ia mengatakan, generasi muda yang ingin memulai usaha dapat memilih waralaba karena alur bisnisnya sudah tersedia dan tinggal dijalankan.
Ia juga menyoroti potensi produk lokal Indonesia untuk dikembangkan melalui skema waralaba, terutama di sektor kuliner. Sejumlah usaha kuliner, mulai dari bakso hingga soto, disebut telah menggunakan model bisnis tersebut.
Karena itu, Budi menilai promosi waralaba lokal perlu diperkuat agar semakin dikenal masyarakat dan mampu bersaing dengan merek asing. Pengembangan bisnis waralaba juga dipandang berpeluang memperluas pasar produk Indonesia, termasuk ke luar negeri.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, Kementerian Perdagangan mendorong pengembangan bisnis kuliner Indonesia melalui program Rasa Rempah Indonesia (S’RASA) bersama sejumlah kementerian terkait. Program ini didukung 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara, termasuk atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), yang ditugaskan mengembangkan potensi waralaba Indonesia di pasar negara tujuan ekspor.
Selain itu, Kemendag mengajak pelaku usaha waralaba dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan fasilitas promosi ekspor, salah satunya melalui penjajakan bisnis (business matching). Melalui skema ini, pelaku usaha dapat mempresentasikan produknya kepada perwakilan perdagangan RI untuk dibantu menemukan calon pembeli di pasar internasional.
Kemendag mencatat, sepanjang 2025 program business matching memfasilitasi 622 sesi dengan nilai transaksi ekspor mencapai US$ 134,87 juta. Pada periode Januari–Agustus 2026, jumlahnya meningkat menjadi 711 sesi dengan nilai transaksi sebesar US$ 346,99 juta.
Budi juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 untuk memperluas jaringan bisnis dan menjajaki peluang ekspor. Pameran tersebut dijadwalkan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.
Salah satu fitur yang disiapkan dalam pameran itu adalah Zona KoTeKa, yang ditujukan untuk mempromosikan produk kopi, teh, dan kakao Indonesia kepada pembeli internasional.
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Ginting Supit menyatakan keberhasilan industri waralaba tidak hanya diukur dari pertumbuhan jumlah merek dan gerai, tetapi juga dari kontribusinya dalam menciptakan wirausaha baru, membuka lapangan kerja, serta memperluas keterlibatan UMKM dalam rantai pasok. Ia menekankan perlunya kolaborasi pelaku industri dan pemerintah untuk membangun ekosistem waralaba nasional yang sehat dan berdaya saing.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Juan Permata Adoe turut menekankan pentingnya sinergi pemerintah dan dunia usaha untuk meningkatkan daya saing serta memperluas akses pasar ekspor. Ia mengapresiasi upaya Kemendag membuka peluang perdagangan internasional, termasuk melalui perundingan perjanjian perdagangan Indonesia-Uni Eropa atau Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA). Juan berharap dukungan pemerintah terhadap dunia usaha berlanjut agar peningkatan kapasitas UMKM sejalan dengan penguatan daya saing bisnis nasional di pasar global.