PADANG PARIAMAN — Upaya pencegahan stunting dinilai tidak hanya bertumpu pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga pada kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Kebiasaan mencuci tangan dengan benar, memilih makanan sehat, serta pemantauan tumbuh kembang melalui Posyandu disebut dapat memberi dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.
Berangkat dari gagasan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP) yang bertugas di Nagari Balai Baiak Malai III, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, menjalankan tiga program dalam Pilar Pencegahan Stunting. Program itu meliputi sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah dasar, edukasi gizi seimbang bagi remaja, serta pendampingan digitalisasi pencatatan data Posyandu.
Ketiga program dirancang saling melengkapi. Anak-anak dibekali kebiasaan hidup bersih sejak dini, remaja diberi pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang, sementara kader Posyandu diperkuat melalui pemanfaatan teknologi untuk pengelolaan data kesehatan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi PHBS di SD Negeri 20 IV Koto Aur Malintang yang diikuti siswa kelas II, III, dan IV. Berdasarkan pengamatan tim KKN, masih banyak siswa yang belum terbiasa mencuci tangan menggunakan sabun setelah bermain maupun sebelum makan. Kebiasaan membeli jajanan yang kurang sehat juga masih sering dijumpai di lingkungan sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN menekankan pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dengan langkah yang benar serta memilih makanan sehat. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana, dilanjutkan demonstrasi enam langkah mencuci tangan, praktik bersama, permainan edukatif, dan kegiatan kreatif membuat kolase sayuran dari kertas origami.
Sejumlah siswa tampak antusias mengikuti kegiatan. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti gerakan saat praktik, hingga mampu mengulangi urutan langkah mencuci tangan tanpa arahan. Melalui kolase, siswa juga dikenalkan pada beragam jenis sayuran dan pentingnya sayur serta buah dalam pola makan sehat.
“Sekarang saya tahu kalau habis main harus cuci tangan pakai sabun dulu sebelum makan. Ternyata langkahnya juga ada urutannya,” ujar Denis, salah seorang siswa, usai kegiatan.
Program pencegahan stunting kemudian dilanjutkan untuk kelompok remaja melalui sosialisasi gizi seimbang di SMP Negeri 2 IV Koto Aur Malintang. Masa remaja dipilih karena merupakan periode penting pertumbuhan yang memerlukan asupan gizi cukup dan seimbang.
Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal siswa. Setelah itu, materi yang disampaikan mencakup pengertian gizi seimbang, komponen zat gizi, pedoman Isi Piringku, pentingnya pemenuhan gizi pada masa remaja, serta dampak jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi. Penyampaian dilakukan secara interaktif dengan mengaitkan contoh makanan yang kerap dikonsumsi siswa, sekaligus diskusi mengenai kebiasaan makan sehari-hari.
Di akhir kegiatan, peserta mengikuti post-test sebagai evaluasi. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa sebesar 31 persen dibandingkan sebelum sosialisasi. “Saya baru tahu kalau makan kenyang belum tentu berarti gizinya sudah cukup. Sekarang saya jadi lebih paham bagaimana memilih makanan yang lebih sehat,” kata Julia, salah seorang peserta.
Selain edukasi, tim KKN juga melakukan pendampingan digitalisasi pencatatan data Posyandu di Nagari Balai Baiak Malai III Koto. Program ini menyasar kader Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak. Tiga kader Posyandu mendapatkan pelatihan penggunaan sistem pencatatan berbasis spreadsheet untuk mengelola data berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, serta lingkar kepala bayi dan balita.
Pendampingan dilakukan bertahap agar kader memahami proses penginputan dengan baik. Para kader tidak hanya menyaksikan, tetapi juga mempraktikkan langsung hingga mampu melakukan pencatatan secara mandiri.
Ali Murnita, kader Posyandu Padang Bayur, menyebut pelatihan tersebut memberi pengalaman baru dalam pengelolaan data. “Awalnya kami terbiasa mencatat semuanya di buku, jadi ketika diperkenalkan pencatatan digital terasa cukup sulit. Namun setelah didampingi satu per satu, ternyata penggunaannya tidak serumit yang dibayangkan. Sekarang pencatatan menjadi lebih rapi, data lebih mudah dicari, dan kami merasa lebih percaya diri untuk menggunakannya pada kegiatan Posyandu berikutnya,” ujarnya.
Tim KKN menyatakan keberhasilan program tidak hanya dilihat dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari perubahan yang mulai tampak. Anak-anak disebut mulai memahami pentingnya mencuci tangan dengan benar dan memilih jajanan lebih sehat. Pada kelompok remaja, peningkatan pengetahuan gizi seimbang tercermin dari kenaikan hasil evaluasi sebesar 31 persen. Sementara itu, tiga kader Posyandu telah mampu mengoperasikan sistem pencatatan digital secara mandiri.
Rangkaian kegiatan tersebut menegaskan bahwa pencegahan stunting memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi antara sekolah, kader kesehatan, pemerintah nagari, dan mahasiswa KKN diharapkan dapat memperkuat fondasi kebiasaan hidup bersih, pemahaman gizi seimbang, serta pencatatan kesehatan yang lebih baik sebagai investasi kesehatan jangka panjang.