BERITA TERKINI
Mahasiswa Atur Jadwal Kuliah dan Produksi untuk Efisiensi Usaha Kuliner

Mahasiswa Atur Jadwal Kuliah dan Produksi untuk Efisiensi Usaha Kuliner

Seorang mahasiswa pelaku usaha kuliner menjadikan efisiensi produksi dan pembagian waktu sebagai strategi utama untuk menjaga bisnisnya tetap berjalan di tengah jadwal perkuliahan. Ia mengatakan, jadwal kuliah yang berlangsung empat hari dalam sepekan membuatnya memanfaatkan tiga hari lainnya untuk mengelola usaha dan memantau produksi.

Dalam program Beranda Astacita “UMKM Berbicara”, Senin, 28 September 2026, ia menjelaskan bahwa pada hari-hari kuliah, operasional usaha sudah ditangani karyawan. “Saya ada kelas empat kali seminggu, lalu saya bebas selama tiga hari. Jadi, untuk minggu ini, saya fokus pada studi saya. Saya sudah punya karyawan, jadi pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, semuanya sudah diurus,” ujarnya.

Menurutnya, karyawan membantu menangani produksi sekaligus menjaga stan ketika ia mengikuti perkuliahan. Sementara itu, pada akhir pekan ia biasanya turun langsung untuk menjaga tempat usaha.

Dari sisi produksi, ia tidak membuat makanan setiap hari. Ia menyebut produksi dilakukan sekitar tiga kali dalam sepekan agar lebih efisien, kemudian produk yang sudah dibuat disiapkan sebagai stok untuk penjualan. “Tidak setiap hari. Mungkin tiga kali seminggu untuk produksi. Jadi lebih efisien,” katanya.

Untuk produk dimsum, ia mengatakan proses produksi dilakukan dari awal, termasuk membuat isian sendiri. Setelah itu, produk disimpan di freezer sebelum dibawa ke stan untuk dikukus kembali saat akan dijual.

Ia menuturkan, kapasitas produksi dimsum saat ini dapat mencapai sekitar 300 buah dalam satu kali produksi. Angka tersebut berbeda dibandingkan masa awal usaha ketika pesanan melalui sistem pre-order bisa mencapai sekitar 300 hingga 500 porsi dalam sehari.

Selain pembagian waktu, ia juga menekankan pentingnya konsistensi rasa dan tekstur produk. Menurutnya, hal itu dijaga dengan penggunaan resep dan takaran yang sudah ditentukan, termasuk menimbang setiap bahan. “Setiap kali saya ingin membuat sesuatu, saya harus punya resepnya dan saya menimbang semuanya. Jadi, harus sesuai dengan pengukuran asli,” ucapnya.

Di tengah aktivitas kuliah dan usaha, ia mengaku tetap berupaya menjaga waktu istirahat serta bersosialisasi. Ia menyebut keberadaan karyawan membuat kegiatan usaha tetap berjalan saat ia menghabiskan waktu bersama teman. “Saya menghadapinya adalah dengan keluar rumah, nongkrong, menghabiskan waktu bersama teman-teman. Produksi tetap berjalan karena bisnis tetap punya karyawan,” katanya.