Usia sekolah disebut sebagai periode emas dalam perkembangan fisik dan intelektual anak. Dalam konteks itu, gagasan pembentukan Undang-Undang Gizi Sekolah kembali mengemuka sebagai upaya memperkuat perlindungan kesehatan generasi mendatang.
Pada 11 Agustus 2026 pagi, Kementerian Pendidikan dan Pelatihan menggelar lokakarya bertajuk “Mendampingi – Membangun Masa Depan – Untuk Vietnam yang Sehat”. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan komunikasi tentang kesehatan sekolah serta menghubungkan sumber daya sosial guna melaksanakan Program Kesehatan Sekolah periode 2026–2035. Lokakarya dipimpin Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, diselenggarakan oleh Departemen Kemahasiswaan dan Surat Kabar Pendidikan dan Waktu, dengan dukungan TH Group.
Direktur Riset dan Pengembangan TH Group Pham The Quyen menyampaikan pandangan bahwa masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh cara bangsa tersebut berinvestasi pada generasi muda. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan perlu diawali dengan memastikan setiap anak tumbuh sehat, memiliki kapasitas fisik dan intelektual, serta potensi berkembang secara menyeluruh. Karena itu, investasi pada sumber daya manusia, terutama pada usia dini, dinilai sebagai investasi jangka panjang yang paling berkelanjutan.
Dalam lokakarya tersebut juga dikutip pernyataan Sekretaris Jenderal sekaligus Presiden To Lam yang menekankan prioritas pengembangan sumber daya manusia untuk generasi muda. Ia menyebut periode 2025 hingga 2045 hanya berjarak 20 tahun, dan anak-anak yang lahir pada rentang itu akan menjadi generasi muda serta calon pemimpin Vietnam. Untuk menuju 2045 dengan visi Vietnam yang maju secara komprehensif, orientasi pengembangan sumber daya manusia—khususnya generasi muda—dipandang sebagai prioritas strategis.
Sejumlah temuan ilmiah turut disoroti, antara lain bahwa 86% tinggi badan maksimal dan 80% perkembangan otak disebut selesai pada rentang usia 2–12 tahun. Masa ini dinilai menentukan perkembangan fisik dan intelektual, sehingga investasi kesehatan anak pada periode tersebut dipandang penting untuk membangun fondasi masa depan bangsa.
Pendiri dan Ketua Dewan Strategis TH Group, Thai Huong, dalam pernyataan yang disampaikan pada kesempatan itu, menyuarakan harapan agar anak-anak mendapatkan “perisai” perlindungan berupa payung hukum. Ia mengusulkan adanya Undang-Undang Gizi Sekolah yang mencakup program segelas susu, yang disebut sebagai susu sekolah nasional.
TH Group menyatakan telah menjadikan dukungan terhadap program kesehatan sekolah sebagai komitmen jangka panjang sejak awal berdiri. Kontribusi yang disebutkan mencakup kegiatan terkait nutrisi, pengembangan fisik, komunikasi dan pendidikan, penelitian ilmiah, dukungan infrastruktur, serta kolaborasi multipemangku kepentingan untuk meningkatkan kesehatan, postur tubuh, dan kapasitas intelektual generasi masa depan.
Perusahaan tersebut juga memaparkan pengalamannya dalam program susu sekolah yang dimulai pada 2013 melalui kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, Institut Gizi Nasional di bawah Kementerian Kesehatan, pakar gizi independen dari Vietnam serta luar negeri (Prancis dan Jepang), dan lembaga terkait. Program ini kemudian dikembangkan menjadi model percontohan makanan sekolah yang menekankan gizi seimbang dan peningkatan aktivitas fisik, yang diterapkan pada tahun ajaran 2020–2021 di 10 provinsi dan kota yang mewakili lima wilayah ekologi utama.
Dalam pendekatan Model Makanan Sekolah, menu disusun dengan penggunaan bahan alami dan memanfaatkan keunggulan pertanian setempat. Susu segar dimasukkan secara ilmiah ke dalam rencana makan, dengan penyediaan segelas susu segar murni lima hari per minggu, didukung 400 menu. Siswa juga didorong berolahraga setidaknya 60 menit setiap hari.
Menurut paparan TH Group, setelah satu tahun pelaksanaan, model percontohan ini dilaporkan menghasilkan peningkatan kesehatan fisik, penurunan kekurangan gizi dan kelebihan berat badan, serta peningkatan konsentrasi, disiplin, dan kepercayaan diri anak. Model tersebut disebut menjadi dasar ilmiah untuk pengembangan kebijakan gizi sekolah yang terkait dengan pendidikan holistik, dan mendapat respons positif dari orang tua serta sekolah yang menginginkan kelanjutan program.
Pham The Quyen menyatakan bahwa setelah lebih dari lima tahun, Model Makan Siang Sekolah masih mempertahankan nilai acuannya dalam upaya mencari solusi peningkatan kondisi fisik dan postur anak, mulai dari penyusunan rencana makan sesuai kelompok usia, keseimbangan kelompok nutrisi, penambahan susu segar, hingga peningkatan aktivitas fisik harian.
TH Group juga menyebut bahwa pendekatan berbasis ilmiah dari model tersebut dapat distandarisasi dan direplikasi secara nasional. Hal itu dikaitkan dengan bagian “Tugas dan Solusi” dalam Keputusan 973/QD-TTg Perdana Menteri yang menyetujui Program Kesehatan Sekolah 2026–2035, yang antara lain memuat arahan untuk mereplikasi model makanan sekolah yang memastikan nutrisi tepat disertai aktivitas fisik, termasuk pengembangan menu yang memenuhi persyaratan program pendidikan prasekolah.
Di luar aspek nutrisi, TH Group menyatakan ikut memperluas kontribusi dalam membangun ekosistem kesehatan sekolah, termasuk pelaksanaan S-RACE, sebuah ajang lari nasional untuk siswa yang dilakukan bersama Kementerian Pendidikan dan Pelatihan serta mitra, dengan tujuan menyebarkan kebiasaan latihan fisik dan gaya hidup aktif. TH juga menyebut model pendidikan TH School sebagai bagian dari filosofi pengembangan manusia holistik, serta kemitraan dalam proyek pembangunan 1.000 toilet sekolah dan komunikasi kebersihan pribadi untuk mendukung lingkungan belajar yang aman dan ramah.
Berbagai seminar ilmiah, forum profesional, dan program komunikasi mengenai gizi sekolah juga disebut telah dilakukan dengan melibatkan lembaga pengelola dan pakar dari dalam dan luar negeri, untuk memperbarui bukti ilmiah, berbagi pengalaman praktik, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran gizi serta gaya hidup sehat dalam perkembangan anak.
Dalam lokakarya itu, perwakilan TH Group menilai Keputusan 973/QD-TTg membuka fase baru bagi pekerjaan kesehatan sekolah, namun menekankan perlunya kerangka hukum yang lebih berkelanjutan agar implementasi berjalan efektif. Mereka mengajukan sejumlah usulan, termasuk penetapan standar staf gizi di sekolah beserta fasilitas pendukung makan siang dan kebersihan; kepastian sumber daya keuangan dengan perhitungan biaya yang wajar dan mekanisme pendanaan transparan antara negara, orang tua, dan kemitraan bisnis; serta mekanisme penawaran yang transparan untuk susu segar dengan kriteria teknis terkait keamanan, kualitas, dan ketertelusuran.
Usulan lainnya mencakup penyelenggaraan program makan siang sekolah yang disesuaikan dengan kondisi lokal berdasarkan keunggulan pertanian dan rutinitas harian, serta penguatan komunikasi untuk membangun pemahaman dan konsensus sosial di kalangan siswa, orang tua, guru, dan masyarakat.
Namun, poin yang disebut paling penting adalah kebutuhan Undang-Undang Gizi Sekolah untuk melembagakan kebijakan peningkatan kesehatan fisik dan mental serta kualitas generasi muda. Dalam pemaparannya, TH Group menyinggung contoh Jepang yang bereksperimen dan kemudian memberlakukan Undang-Undang Makan Siang Sekolah pada 1954 setelah perang, yang disebut berkontribusi pada perubahan kondisi postur masyarakat dalam jangka panjang. Mereka menilai Vietnam telah memiliki peta jalan, riset, serta verifikasi ilmiah dan profesional yang dapat menjadi landasan bagi penyusunan undang-undang serupa.
Thai Huong menyatakan keyakinannya bahwa kebijakan gizi sekolah bukan semata solusi medis atau pendidikan, melainkan investasi paling mendasar dan krusial bagi masa depan bangsa. Dalam penutup, lokakarya menegaskan kembali bahwa investasi di bidang gizi tidak hanya ditujukan agar siswa lebih sehat saat ini, tetapi juga untuk membangun generasi warga negara yang kuat secara fisik, intelektual, dan moral di masa depan.