BERITA TERKINI
Lima Cara Menyimpan Jamu Tradisional agar Tetap Segar Lebih Lama

Lima Cara Menyimpan Jamu Tradisional agar Tetap Segar Lebih Lama

Jamu tradisional dikenal sebagai minuman herbal berbahan alami yang umumnya dibuat tanpa tambahan pengawet. Karena itu, cara penyimpanan menjadi faktor penting untuk menjaga rasa, aroma, dan kualitas jamu agar tidak cepat berubah atau basi. Di tengah tren membuat jamu sendiri di rumah—mulai dari kunyit asam, jahe, hingga temulawak—masih banyak orang yang belum memahami penyimpanan yang tepat.

Sunarsih (57), penjual jamu tradisional di Kota Yogyakarta yang berjualan sejak 2012 dan akrab disapa Mbak Sih, membagikan sejumlah langkah praktis agar jamu bisa bertahan lebih lama. Berikut rangkumannya.

1. Simpan di kulkas setelah jamu dingin
Menurut Mbak Sih, jamu sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke kulkas saat masih panas. Jamu perlu didinginkan terlebih dahulu sebelum disimpan di lemari pendingin. Menyimpan jamu dalam kondisi panas dapat memicu uap air berlebih di dalam wadah, yang berisiko mempercepat perubahan rasa dan aroma. Suhu dingin membantu memperlambat pertumbuhan bakteri dan menjaga kualitas rempah di dalam jamu.

2. Gunakan wadah yang bersih dan tertutup rapat
Kebersihan wadah menjadi kunci karena jamu tradisional umumnya tidak memakai pengawet. Botol atau wadah perlu dicuci bersih dan dipastikan kering agar tidak ada sisa air maupun kotoran yang dapat memicu pertumbuhan bakteri. Selain itu, penutup rapat penting untuk mengurangi kontak dengan udara luar yang dapat mempercepat perubahan aroma dan memicu fermentasi alami. Mbak Sih menyebut wadah kaca kerap dianggap lebih baik karena tidak mudah menyerap aroma dan membantu menjaga rasa jamu tetap alami dibanding beberapa wadah plastik biasa.

3. Hindari membiarkan jamu terlalu lama di suhu ruangan
Mbak Sih mengingatkan agar jamu tidak dibiarkan terlalu lama di meja dapur, terutama dalam kondisi terbuka. Karena tanpa pengawet, jamu lebih sensitif terhadap suhu ruangan, terlebih saat cuaca panas. Jika tidak segera diminum, jamu sebaiknya dipindahkan ke wadah tertutup dan disimpan di tempat dingin. Membiarkan jamu terlalu lama di suhu ruang dapat memicu rasa asam berlebih akibat fermentasi alami.

4. Panaskan secukupnya saat akan diminum
Bagi yang menyukai jamu hangat, Mbak Sih menyarankan memanaskan jamu hanya sesuai porsi yang akan diminum. Memanaskan ulang terlalu sering dapat mengubah rasa dan aroma rempah, serta berpotensi menurunkan kualitas jamu. Karena itu, ia menyarankan agar tidak memanaskan seluruh isi wadah berulang kali agar sisa jamu tidak cepat rusak.

5. Buat jamu dalam jumlah secukupnya
Membuat jamu terlalu banyak berisiko membuat minuman terbuang karena tidak habis dalam waktu singkat. Meski disimpan dengan benar, jamu tetap memiliki daya tahan terbatas karena berbahan alami tanpa pengawet. Mbak Sih menyarankan pembuatan jamu disesuaikan kebutuhan harian atau konsumsi keluarga. Selain lebih praktis, jamu yang baru dibuat umumnya memiliki aroma rempah lebih kuat dan rasa yang lebih nikmat dibanding jamu yang sudah disimpan terlalu lama.

Pertanyaan umum seputar jamu
Sejumlah pertanyaan kerap muncul terkait konsumsi jamu. Pagi hari sering dianggap sebagai waktu terbaik untuk minum jamu karena tubuh dinilai lebih siap menyerap kandungan herbal. Jamu umumnya aman diminum setiap hari selama dalam jumlah wajar dan menggunakan bahan yang bersih. Beberapa jenis jamu seperti kunyit, jahe, dan temulawak juga dipercaya dapat membantu metabolisme. Sementara itu, jamu tradisional cepat basi karena mudah mengalami fermentasi alami akibat tidak menggunakan pengawet. Konsumsi jamu pun tidak terbatas usia; anak muda kini juga banyak yang menjadikannya bagian dari gaya hidup sehat alami.