DPD LDII Kota Surabaya menggelar seminar wanita yang diikuti sekitar 300 peserta. Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu (19/7/2026) di GSG Sabilurrosyidin, Surabaya, Jawa Timur, dengan fokus materi pada parenting food atau pendampingan pola makan anak.
Seminar bertajuk “Parenting Skill: Meneladani Pola Makan Rasulullah Guna Membangun Generasi Sehat, Cerdas, dan Berakhlakul Karimah” itu diselenggarakan oleh Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPD LDII Kota Surabaya. Materi yang diberikan ditujukan sebagai bekal orang tua untuk mendampingi tumbuh kembang anak melalui kebiasaan makan bergizi dan seimbang.
Wakil Ketua DPD LDII Kota Surabaya, Khamim Tohari, menyampaikan seminar tersebut merupakan upaya membekali para ibu dengan pengetahuan dan keterampilan membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga. Ia menekankan pembentukan generasi unggul tidak hanya ditentukan pendidikan formal, tetapi juga kebiasaan yang ditanamkan orang tua sejak usia dini. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan memberi bekal kepada para ibu LDII Kota Surabaya dalam mendidik dan membina anak sesuai teladan Rasulullah SAW, dengan harapan lahir generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlakul karimah.
Salah satu pemateri, Sofiatun, dosen Prodi Fisioterapi D IV Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa pola makan Rasulullah SAW yang mengedepankan prinsip tidak berlebihan dinilai selaras dengan konsep gizi seimbang saat ini. Ia mengingatkan pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, dan minyak, serta memperbanyak sayur, buah, protein, dan aktivitas fisik. Ia juga menekankan pemenuhan gizi perlu dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Sementara itu, psikolog dan hypnotherapis Karlin menyoroti food parenting sebagai upaya membentuk kebiasaan makan sehat melalui keteladanan orang tua, bukan sekadar mengatur menu. Ia menyatakan anak tidak lahir sebagai picky eater, melainkan terbentuk oleh pengalaman makan yang diciptakan di lingkungan keluarga. Karlin mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan makanan sebagai hadiah atau membiasakan anak makan sambil menggunakan gawai. Sebaliknya, ia mendorong terciptanya suasana makan bersama keluarga untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat sekaligus mempererat hubungan orang tua dan anak.