Kuliner pasar masih menjadi daya tarik yang membuat banyak orang datang ke pasar tradisional, termasuk saat mereka tidak sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga. Aroma rempah, jajanan tradisional, makanan siap santap, hingga minuman khas menghadirkan pengalaman yang berbeda dibanding tempat lain. Di Surabaya, tidak sedikit warga sengaja meluangkan waktu pada pagi hari untuk sarapan di pasar sebelum memulai aktivitas.
Kuatnya peran pasar tradisional juga tercermin dari jumlahnya yang besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia memiliki 17.443 pasar rakyat pada 2024. Jawa Timur menjadi provinsi dengan pasar rakyat terbanyak, mencapai 2.574 unit. Keberadaan pasar dalam jumlah besar ini turut menjaga keberagaman kuliner lokal karena menjadi titik temu produsen bahan pangan, pedagang makanan, dan konsumen.
Berbagai makanan tradisional bertahan karena terus dipasarkan di pasar rakyat. Menu seperti lontong balap, rawon, pecel, bubur madura, kue basah, hingga aneka jajanan pasar masih mudah ditemukan sejak pagi. Pedagang umumnya memanfaatkan bahan baku yang baru dibeli dari area pasar yang sama, mulai dari sayuran, bumbu, ikan, hingga daging, sehingga kesegaran bahan membantu menjaga kualitas rasa.
Di Surabaya, Pasar Pabean dikenal bukan hanya sebagai pusat perdagangan hasil laut, tetapi juga menawarkan beragam makanan khas yang menjadi tujuan warga maupun wisatawan. Aktivitas kuliner berlangsung berdampingan dengan perdagangan kebutuhan pokok, menciptakan suasana khas yang membuat pasar tradisional kerap dianggap bagian penting dari perjalanan kuliner sebuah kota.
Dari sisi ekonomi, usaha makanan berskala kecil menjadi salah satu penggerak di kawasan pasar. Banyak pedagang memulai usaha dari gerobak sederhana, kemudian berkembang seiring bertambahnya pelanggan tetap. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan UMKM berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Sebagian besar pelaku usaha kuliner tradisional masuk dalam kategori usaha mikro dan kecil.
Kuliner pasar juga menciptakan permintaan yang stabil terhadap hasil pertanian, peternakan, dan perikanan. Rantai ini membuat manfaat ekonomi tidak berhenti pada pedagang makanan saja, tetapi mengalir hingga ke daerah penghasil bahan baku. Aktivitas sederhana seperti membeli sarapan di pasar ikut mendukung keberlangsungan banyak usaha lokal.
Di tengah kemudahan layanan pesan antar, banyak orang tetap memilih datang langsung ke pasar. Salah satu alasannya, rasa yang ditawarkan sering dianggap lebih autentik. Resep yang digunakan umumnya diwariskan secara turun-temurun, dipadukan dengan teknik memasak tradisional, bumbu segar, serta penyajian sederhana yang menghasilkan cita rasa sulit ditiru oleh makanan produksi massal.
Selain itu, kuliner pasar menawarkan variasi yang dapat berubah mengikuti musim dan ketersediaan bahan pangan. Kondisi ini membuat pengalaman berkunjung terasa berbeda setiap waktu. Tidak sedikit wisatawan menjadikan pasar tradisional sebagai destinasi awal untuk mengenal karakter kuliner suatu daerah.
Sejumlah kota besar mulai memandang pasar tradisional sebagai bagian dari wisata budaya dan kuliner. Pasar tidak hanya dilihat sebagai tempat transaksi, tetapi juga ruang yang memperlihatkan identitas lokal. Di Surabaya, pasar seperti Pabean, Keputran, dan Wonokromo menyimpan cerita panjang tentang perdagangan serta perkembangan kuliner khas Jawa Timur. Pengunjung dapat melihat langsung proses jual beli bahan segar sekaligus menikmati makanan yang diolah dari bahan tersebut.
Perpaduan aktivitas ekonomi dan kekayaan kuliner membuat pasar memiliki daya tarik yang bertahan meski gaya hidup masyarakat berubah. Generasi muda pun mulai kembali mengunjungi pasar untuk merasakan pengalaman yang dinilai lebih autentik dibanding sekadar menikmati makanan di pusat perbelanjaan modern. Kuliner pasar menunjukkan bahwa cita rasa tradisional tetap memiliki tempat di tengah perkembangan industri makanan yang semakin modern.
Pada akhirnya, pasar tradisional menghadirkan lebih dari sekadar pilihan menu. Tempat ini mempertemukan sejarah, budaya, pelaku UMKM, serta kekayaan bahan pangan lokal dalam satu ruang yang terus hidup bersama denyut aktivitas masyarakat Surabaya setiap hari.