Sebuah perjalanan bisa berawal dari pemandangan indah, pantai, atau situs bersejarah. Namun, bagi banyak wisatawan, kenangan yang paling lama justru kerap terkait makanan: semangkuk pho hangat di Hanoi pada pagi hari, sup mi daging sapi di Hue, banh mi di jalanan Saigon, atau hidangan sederhana yang dinikmati di pasar lokal.
Dalam beberapa tahun terakhir, makanan tidak lagi dipandang sekadar kebutuhan selama bepergian. Kuliner semakin menjadi bagian penting dari pengalaman wisata karena membantu pengunjung memahami budaya, masyarakat, dan cara hidup di tempat yang mereka datangi.
Pengakuan terbaru datang dari NZ Herald Travel Readers' Choice Awards 2026. Berdasarkan hasil yang diumumkan pada 17 Agustus, Vietnam menempati peringkat pertama dalam daftar 10 destinasi kuliner terbaik. Posisi berikutnya diisi Italia, Jepang, Thailand, Singapura, Melbourne (Australia), Prancis, Auckland, Wellington, dan Hawke's Bay (Selandia Baru).
Capaian ini dinilai menonjol karena Vietnam melampaui sejumlah destinasi yang selama ini identik dengan peta kuliner dunia. Di tengah persaingan yang kian ketat antarnegara dan kota, pengakuan tersebut menjadi keuntungan bagi Vietnam yang memiliki keragaman kuliner regional, kekayaan cerita budaya, serta kemampuan menghadirkan pengalaman makan dari yang santai hingga berkelas.
Dengan investasi yang tepat, kuliner bahkan dapat berkembang sebagai produk pariwisata yang berdiri sendiri. Dampaknya antara lain membantu mempertahankan wisatawan, memperpanjang masa tinggal, meningkatkan pengeluaran, sekaligus membentuk identitas unik bagi merek destinasi.
Perubahan cara pandang terhadap kuliner terlihat dari tren global. Informasi yang dikutip Administrasi Pariwisata Nasional Vietnam dari Organisasi Pariwisata Kuliner Dunia menyebutkan 81% wisatawan internasional tertarik menjelajahi kuliner lokal dan bersedia mengalokasikan sekitar 25–35% anggaran perjalanan untuk makanan dan minuman. Angka ini menunjukkan bahwa makan-minum bukan lagi sekadar pengeluaran wajib, melainkan bagian penting dari pengalaman perjalanan. Karena itu, pelaku industri semakin memasukkan wisata kuliner sebagai produk tersendiri, bukan hanya aktivitas tambahan.
Vietnam memiliki modal besar untuk menjawab tren tersebut. Setiap wilayah memiliki sistem hidangan, bahan, metode memasak, serta kebiasaan makan yang berbeda. Perbedaan masakan Utara, Tengah, dan Selatan membentuk lanskap kuliner yang beragam dalam satu negara.
Daya tarik lainnya, makanan Vietnam kerap melekat pada kehidupan sehari-hari. Pho, banh mi, pedagang kaki lima, dan pasar tidak hanya berbicara soal rasa. Di baliknya ada cerita tentang sejarah, iklim, hasil bumi, pekerjaan, adat, hingga perilaku sosial. Nilai seperti inilah yang dicari pariwisata modern: pengalaman lokal yang otentik.
Sejumlah nama seperti pho, banh mi, bun cha, nem ran, dan banh xeo kini dikenal luas. Banyak wisatawan datang dengan tujuan yang lebih spesifik: mencari hidangan yang pernah mereka lihat atau dengar melalui media maupun jejaring sosial.
Banh mi menjadi salah satu contoh paling menonjol. Dari makanan jalanan, banh mi berkembang menjadi ikon yang dikenal secara internasional. Festival khusus banh mi di Kota Ho Chi Minh secara konsisten menarik perhatian warga lokal dan wisatawan. Pada 2026, Festival Roti Vietnam keempat disebut akan menghadirkan sekitar 150 gerai, serta menawarkan ruang pengalaman kuliner dengan beragam kegiatan di luar aktivitas makan.
Peristiwa semacam ini memperlihatkan bagaimana satu hidangan dapat dikembangkan menjadi ekosistem produk wisata. Wisatawan tidak hanya mencicipi, tetapi juga menyaksikan proses pembuatan, mempelajari asal-usul, mengambil foto, membeli produk, mengikuti kegiatan pengalaman, hingga membagikan cerita perjalanan.
Di luar festival, pasar, warung kecil, kios pedagang kaki lima, maupun ruas jalan yang dikenal sebagai sentra makanan tradisional juga dapat menjadi tujuan wisata. Pengunjung bisa duduk dekat warung pho, melihat penjual menyiapkan makanan, berbelanja bersama warga, belajar membuat kue, atau mencoba menyiapkan hidangan tradisional.
Tren wisata kuliner terus menarik minat pelancong, mulai dari menjelajahi pasar terapung, berburu makanan jalanan, hingga mengikuti kelas memasak. Platform Traveloka juga menunjukkan pengalaman kuliner menjadi pendorong penting dalam pengambilan keputusan perjalanan di Asia Tenggara, dengan Vietnam muncul sebagai salah satu destinasi yang menarik bagi pencinta makanan.
Perubahan ini sejalan dengan pergeseran karakter pariwisata: tidak lagi sekadar “melihat”, melainkan ingin “hidup” di destinasi. Wisatawan ingin mengetahui apa yang dimakan penduduk setempat, bagaimana bahan dipilih, dan mengapa sebuah hidangan memiliki rasa tertentu. Dalam konteks ini, makanan bisa menjadi pelajaran budaya, kisah sejarah, sekaligus kenangan perjalanan.
Di saat yang sama, Vietnam juga mengembangkan segmen kuliner kelas atas. Kehadiran Michelin Guide dalam beberapa tahun terakhir menambah lapisan pengakuan baru bagi dunia kuliner Vietnam. Pada 2025, Michelin Guide memilih 181 tempat makan di Hanoi, Ho Chi Minh City, dan Da Nang, mencakup restoran berbintang Michelin, Bib Gourmand, dan Michelin Selected.
Pada 2026, daftar Michelin di Vietnam disebut akan bertambah menjadi 193 tempat makan. Rinciannya meliputi 11 restoran dengan satu bintang Michelin, 72 tempat makan penerima Bib Gourmand, 110 tempat makan Michelin Selected, serta 3 restoran yang tergabung dalam komunitas Michelin Green Star.
Deretan angka ini dipandang penting bukan hanya bagi restoran yang masuk daftar, tetapi juga bagi pariwisata. Pengakuan internasional dapat memengaruhi persepsi wisatawan terhadap Vietnam sebagai destinasi kuliner. Seorang pelancong mungkin datang untuk menikmati pemandangan, namun informasi tentang restoran yang dinilai tinggi dapat menjadi alasan tambahan untuk memilih dan mengeksplorasi negara tersebut.
Pertumbuhan segmen kelas atas juga tidak meniadakan nilai masakan sehari-hari. Keduanya dapat saling melengkapi: kuliner berkelas membangun citra kualitas dan kreativitas, sementara makanan harian menjaga identitas, kedekatan, dan cerita keseharian.
Keunikan kuliner Vietnam, pada akhirnya, terletak pada rentang pengalaman yang luas: bisa dimulai dari hidangan pinggir jalan dengan harga beberapa puluh ribu dong dan berakhir pada sajian yang dirancang cermat di restoran kelas atas. Jika nilai tradisional dilestarikan, kualitas ditingkatkan, kreativitas dipupuk, dan cerita disampaikan dengan tepat, hidangan-hidangan Vietnam berpeluang menjadi “duta” yang memperkuat posisi negara itu di peta pariwisata dunia.