BERITA TERKINI
Kuliner Lokal Menguatkan Daya Tarik Wisata Berbasis Komunitas di Dataran Tinggi

Kuliner Lokal Menguatkan Daya Tarik Wisata Berbasis Komunitas di Dataran Tinggi

Destinasi wisata berbasis komunitas di kawasan dataran tinggi seperti Lam Thuong, Nghia Lo, Mu Cang Chai, Tu Le, Bac Ha, Sa Pa, hingga Y Ty tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga pengalaman kuliner yang lekat dengan kehidupan warga setempat. Beragam hidangan disiapkan dari hasil bumi lokal, memperlihatkan bagaimana makanan menjadi bagian penting dari daya tarik wisata komunitas.

Di Lam Thuong, kuliner khas etnis Tay dikenal menggugah selera melalui penggunaan ikan sungai, bebek Muscovy, ayam, sayuran liar, serta bumbu seperti biji dổi, biji mắc khén, dan daun jeruk nipis. Sejumlah hidangan disebut menjadi favorit, mulai dari salad ikan dengan tulang ikan goreng renyah, perut babi yang difermentasi dengan daun padi merah, hingga kue pisang Pẻng cuổi yang harum dan kenyal.

Sementara itu, di Tú Lệ, serpihan beras ketan muda yang dibuat dari butiran susu, dipanggang dan ditumbuk dengan metode tradisional, menjadi sajian istimewa. Dalam tradisi kuliner masyarakat etnis Thái di Nghĩa Lộ, pa pỉnh tộp dan daging kerbau asap menonjol berkat cara pengawetan dan persiapan yang khas.

Di Sa Pa, Bac Ha, dan Y Ty, kekayaan kuliner etnis Mong, Dao, dan Ha Nhi tercermin dalam ragam hidangan seperti thang co (semur tradisional), daging babi lokal, sosis asap, sayuran liar, serta kue-kue tradisional. Setiap sajian terkait erat dengan hasil bumi setempat, kondisi alam, dan gaya hidup masing-masing komunitas.

Nilai kuliner lokal tidak semata terletak pada rasa, melainkan juga pada muatan budaya yang diwariskan melalui proses memasak dan penyajian. Ketan lima warna, misalnya, dibuat dari pewarna alami yang berasal dari daun, akar, dan buah-buahan. Hidangan ini mencerminkan konsep harmoni antara manusia dan alam, sekaligus menyiratkan harapan akan perdamaian dan kemakmuran.

Berbagai teknik memasak—mulai dari pemilihan ikan sungai, perendaman bumbu, pemanggangan di atas arang, hingga pengasapan untuk mengawetkan daging—disebut sebagai pengetahuan yang diturunkan lintas generasi. Di sejumlah destinasi wisata komunitas, pengunjung juga dapat ikut serta bersama keluarga tuan rumah menyiapkan bahan, membuat kue, mewarnai beras ketan, menangkap ikan, atau berkumpul di sekitar api unggun. Pengalaman ini membuat kuliner tidak hanya dinikmati lewat rasa, tetapi juga menjadi pintu masuk memahami kehidupan, adat, dan budaya masyarakat dataran tinggi.

Seorang wisatawan asal Hanoi, Pham Hong Sang, mengatakan pengalaman menikmati masakan lokal di rumah panggung memberi kesan berbeda. “Setiap kali saya datang ke dataran tinggi, saya ingin mencoba masakan lokal. Menikmati nasi ketan warna-warni, ikan bakar, atau hidangan daging langsung di rumah panggung, di dekat api, terasa sangat berbeda dari makan di restoran,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah daerah di provinsi tersebut mempromosikan pariwisata berbasis komunitas yang terhubung dengan kuliner tradisional. Rumah tangga homestay bertahap meningkatkan kualitas layanan, dengan perhatian pada keamanan dan kebersihan makanan, dekorasi, serta upaya menghidupkan kembali hidangan khas. Keterkaitan antara produksi pertanian dan pariwisata juga kian terlihat, disebut menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, sekaligus mendorong pelestarian produk dan metode pengolahan tradisional.

Pemilik homestay Cuong Chinh di kawasan perumahan Deu 2, kelurahan Nghia Lo, Ha Thi Chinh, menyebut makanan telah menjadi bagian integral dari layanan wisata. “Sejak mengembangkan pariwisata berbasis komunitas, makanan telah menjadi bagian integral dari penawaran bagi wisatawan. Banyak bahan makanan ditanam dan dipelihara oleh keluarga, yang tidak hanya memberikan penghasilan tambahan tetapi juga membantu masyarakat untuk tetap sadar akan pelestarian masakan tradisional,” katanya.

Meski demikian, agar kuliner benar-benar menjadi produk wisata yang kompetitif, daerah setempat dinilai perlu menyeimbangkan pelestarian dan pengembangan. Selain menjaga cita rasa asli, pelaku pariwisata perlu memperkuat aspek keamanan dan kebersihan pangan, meningkatkan keterampilan pengolahan, penyajian, presentasi, serta promosi produk.

Ke depan, industri ini disebut akan terus mendorong daerah dan pelaku wisata komunitas memanfaatkan kekuatan kuliner yang terkait budaya etnis, dengan fokus pelatihan pengolahan, penyajian, keamanan dan kebersihan makanan, serta promosi. Masyarakat juga perlu dibekali kemampuan menceritakan kisah budaya di balik setiap hidangan, yang dipandang menentukan lahirnya pengalaman wisata komunitas yang khas.

Dari hasil bumi sederhana di pegunungan dan hutan, tangan terampil warga setempat menjadikan hidangan tradisional perlahan berkembang sebagai produk wisata. Ketika rasa dan kisah budaya dijaga bersama, kuliner tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkuat identitas serta daya saing pariwisata di Lao Cai.