Kuliner kian menjadi faktor utama dalam menentukan tujuan perjalanan wisatawan Vietnam pada musim panas 2026. Bagi sebagian pelancong, daftar makanan yang ingin dicoba bahkan disusun lebih dulu sebelum rencana mengunjungi tempat-tempat populer.
Quynh Hoa (34), warga Hanoi, misalnya, mengaku menghabiskan waktu lebih banyak untuk menyusun daftar toko es krim alpukat, restoran salad ikan, hingga tempat makan seafood yang direkomendasikan di media sosial, sebelum perjalanannya ke Da Nang pada awal Juli. Menurutnya, ia biasanya memilih menu makanan terlebih dahulu, lalu merencanakan jadwal wisata. Ada pula tempat yang ingin ia datangi semata karena mendengar makanan khas lokalnya lezat. Bagi Hoa, menikmati kuliner lokal adalah cara cepat untuk memahami budaya suatu daerah.
Tren serupa juga terlihat dalam data pencarian destinasi musim panas dari Agoda. Berdasarkan data pencarian akomodasi wisatawan Vietnam di Agoda pada 1 April hingga 30 Juni 2026 untuk masa inap 1 Juli sampai 31 Agustus 2026, daftar lima destinasi domestik dan lima destinasi internasional yang paling banyak dicari mencakup kota-kota pesisir Vietnam hingga kota-kota metropolitan besar di Asia.
Untuk pasar domestik, lima destinasi teratas seluruhnya merupakan kota pesisir. Hal ini mencerminkan minat pada liburan santai yang dipadukan dengan eksplorasi kuliner pada periode akhir musim panas.
Da Nang berada di posisi pertama, menarik wisatawan dengan hidangan khas seperti mie Quang, sup mie ikan, serta beragam seafood segar yang banyak tersedia di sepanjang pantai. Kedekatan antara objek wisata, pantai, dan tempat makan di pusat kota juga disebut memudahkan wisatawan menggabungkan agenda wisata, relaksasi, dan pengalaman kuliner dalam satu perjalanan.
Di urutan kedua, Nha Trang dikenal melalui hidangan seperti sup mie ubur-ubur, lumpia bakar Ninh Hoa, dan lumpia kukus bertumpuk. Hidangan sederhana tersebut dinilai membentuk identitas khas kota pesisir itu dan menjadi pengalaman yang dicari banyak wisatawan.
Tiga destinasi domestik lain dalam lima besar adalah Vung Tau, Phan Thiet, dan Ha Long. Vung Tau disebut populer dengan banh khot (panekuk gurih mini), kue bolu telur asin, dan sup ikan pari. Phan Thiet menarik pengunjung dengan banh can (panekuk tepung beras), salad ikan mai, banh bot loc (pangsit singkong), serta es krim kelapa. Sementara Ha Long tidak hanya dikenal lewat keajaiban alamnya, tetapi juga melalui kue cumi Quang Ninh yang telah menjadi simbol kuliner wilayah tersebut.
Pada kategori destinasi internasional, pilihan wisatawan Vietnam didominasi kota-kota metropolitan besar di Asia yang menawarkan keragaman makanan sebagai bagian penting dari pengalaman wisata. Dari pedagang kaki lima dan pasar tradisional hingga pusat makanan lokal dan tempat makan kasual, setiap kota memberi kesempatan untuk mengenali budaya melalui cita rasa.
Bangkok menempati peringkat teratas destinasi internasional, dengan daya tarik kuliner seperti kari Khao Soi, nasi ketan mangga, serta suasana semarak di kawasan jajanan kaki lima. Singapura berada di posisi kedua, menonjol lewat keragaman kuliner yang memadukan pengaruh komunitas Tionghoa, India, Peranakan, dan lainnya, termasuk hidangan seperti Kaya Toast dan Bak Chor Mee.
Seoul dan Tokyo menempati peringkat ketiga dan keempat. Seoul dikenal dengan makanan jalanan seperti tteokbokki dan samgyetang (sup ayam ginseng). Tokyo disebut sebagai salah satu tujuan kuliner dengan pilihan seperti sushi, ramen, serta makanan khas lain seperti unagi don (nasi belut), kari Jepang, dan natto (kedelai fermentasi).
Daftar lima besar ditutup Kuala Lumpur, yang dinilai merepresentasikan multikulturalisme melalui hidangan seperti nasi lemak dan char kway teow. Pasar malam dan pusat kuliner di kota ini juga memudahkan wisatawan menikmati cita rasa Malaysia.
Country Director Agoda Vietnam, Vu Ngoc Lam, mengatakan kuliner memainkan peran yang semakin penting dalam perjalanan wisatawan Vietnam. Menurutnya, baik warung makan dekat hotel, pasar lokal, maupun kawasan kuliner, setiap hidangan dapat memperlihatkan sisi lain dari budaya dan kehidupan setempat.
Secara keseluruhan, tren pencarian destinasi musim panas 2026 menunjukkan kuliner tidak lagi sekadar pelengkap perjalanan, melainkan menjadi nilai tambah penting dalam keputusan wisatawan. Hidangan lokal pun dipandang berkontribusi dalam memperkenalkan budaya sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi di peta pariwisata.