Di kawasan perumahan Bon Dơng, Kelurahan Lang Biang, Da Lat, rumah keluarga pengrajin Pang Ting Jợt kerap menjadi tempat singgah wisatawan yang ingin merasakan pengalaman budaya setempat. Pada suatu sore, suasana di rumah itu tampak lebih ramai ketika stoples-stoples anggur beras disiapkan untuk menjamu para tamu.
Pang Ting Jợt telah menekuni kerajinan pembuatan anggur beras tradisional selama lebih dari satu dekade. Ia menyebut prosesnya menuntut ketelatenan, mulai dari pemilihan bahan, pembuatan ragi, fermentasi, hingga pemantauan selama proses berlangsung. Keterampilan tersebut, sebagaimana dituturkan dalam kisahnya, diwariskan dari generasi ke generasi di kalangan perempuan K’ho.
Setelah melewati fermentasi yang panjang dan mencapai aroma serta rasa yang diinginkan, anggur beras disajikan kepada wisatawan. Setiap bulan, keluarga ini memproduksi sekitar 100–200 botol anggur beras untuk memenuhi kebutuhan pengunjung yang ingin belajar dan merasakan budaya lokal.
Bagi Pang Ting Jợt, anggur beras tidak sekadar minuman. Ia memandang setiap guci menyimpan cerita tentang kehidupan komunitas, adat menyambut tamu, festival, serta kegiatan budaya masyarakat K’ho yang terus dijaga. Karena itu, keluarganya tidak hanya memproduksi anggur beras untuk dijual, tetapi juga menggelar kegiatan pertukaran budaya. Dalam kegiatan tersebut, wisatawan dapat mencicipi anggur beras, menikmati hidangan tradisional yang disiapkan keluarga, menyaksikan pertunjukan budaya, dan mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat setempat.
“Melestarikan kerajinan tradisional juga berarti melestarikan budaya nasional kita. Ketika wisatawan datang, jika kita dapat memperkenalkan mereka pada anggur beras, masakan lokal, lagu, tarian, dan adat istiadat yang diwariskan dari leluhur kita, maka budaya itu akan terus dikenal,” ujar Pang Ting Jợt. Ia berharap kerajinan tradisional dapat terus dipertahankan sekaligus membantu meningkatkan penghasilan keluarga dan memperkenalkan budaya kepada lebih banyak orang.
Pengalaman serupa juga terlihat pada aktivitas komunitas lain, seperti para pengrajin M’nong di Komune Duc An yang menyiapkan hidangan tradisional untuk diperkenalkan kepada teman dan wisatawan dari berbagai daerah. Dalam suasana seperti itu, makan dan minum menjadi bagian dari proses mengenal budaya, karena setiap hidangan dan cerita yang menyertainya membantu pengunjung memahami tempat yang mereka datangi.
Nguyen Quoc Viet, wisatawan asal Kota Ho Chi Minh, mengatakan ia paling menikmati kesempatan mencicipi langsung anggur beras dan hidangan etnis sambil mempelajari budaya lokal. “Saya menikmati perasaan mengalami budaya secara langsung dalam kehidupan masyarakat setempat. Melalui makanan dan anggur beras, saya memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang adat istiadat, cara hidup, dan budaya mereka,” ujarnya.
Di tingkat provinsi, Lam Dong setelah reorganisasi memiliki luas wilayah alami lebih dari 24.233 km², mencakup 124 komune, kelurahan, dan zona khusus, dengan populasi lebih dari 3,8 juta jiwa. Dari jumlah itu, lebih dari 683.000 merupakan etnis minoritas atau sekitar 17,6% dari total penduduk. Provinsi ini menjadi rumah bagi 49 dari 54 kelompok etnis, termasuk kelompok asli Dataran Tinggi Tengah seperti K’ho, Ma, Churu, M’nong, Cham, Raglai, dan S’tieng, serta kelompok minoritas dari berbagai wilayah lain.
Keberagaman tersebut membentuk kekayaan kuliner yang luas. Setiap daerah memiliki hidangan, cara memasak, dan kebiasaan makan yang berkaitan dengan kondisi alam, hasil bumi, serta gaya hidup masyarakatnya. Di balik rasa yang khas, tersimpan cara mengolah bahan alami, pengalaman memasak, dan kisah budaya yang diturunkan lintas generasi.
Di sejumlah destinasi wisata berbasis komunitas, makanan tradisional kerap dipadukan dengan aktivitas pengalaman lain, seperti pertunjukan gong, pertunjukan budaya, kunjungan ke rumah panjang, mempelajari kerajinan tradisional, hingga menikmati anggur beras. Dari satu hidangan, narasi budaya berkembang menjadi perjalanan mengenal kehidupan komunitas.
Tran Thi Hang, wisatawan asal Tay Ninh, menilai hal paling menarik dari kunjungan semacam itu adalah menikmati hidangan etnik dalam suasana budaya yang otentik. “Saya tidak hanya makan; saya juga berkesempatan mendengarkan tentang budaya, menonton pertunjukan, dan mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana orang-orang hidup. Ini pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan hanya pergi ke restoran,” katanya.
Pelaku pariwisata berbasis komunitas menilai keunikan dan karakter lokal menjadi daya tarik utama kuliner etnis. Dengan pengelolaan yang baik—terutama memastikan keamanan dan kebersihan makanan—serta mengaitkannya dengan cerita budaya, setiap hidangan dapat berkembang menjadi produk wisata yang membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Mulai dari anggur beras tradisional, nasi yang dimasak dalam bambu, ayam bakar, ikan sungai, hingga sayuran liar sederhana, kuliner menjadi “gerbang” bagi wisatawan untuk menelusuri budaya Lam Dong lebih dalam. Ketika nilai-nilai ini diberi ruang untuk berkembang, budaya tidak hanya terjaga, tetapi juga berpotensi menjadi sumber daya bagi pembangunan ekonomi dan penguatan citra tanah serta masyarakat Lam Dong.