BERITA TERKINI
Kuliner Kekinian: Antara Tren Sesaat dan Peluang Berkelanjutan bagi UMKM

Kuliner Kekinian: Antara Tren Sesaat dan Peluang Berkelanjutan bagi UMKM

Bukittinggi—Usaha makanan dan minuman dinilai tetap menjadi salah satu sektor yang mudah berkembang di kalangan UMKM karena cepat menyesuaikan diri dengan perubahan selera konsumen. Tren kuliner bisa berganti dalam waktu singkat: hari ini suatu produk ramai dicari, sementara esoknya muncul varian baru yang dianggap lebih menarik untuk dicoba. Bagi pelaku usaha muda, dinamika ini dapat menjadi tantangan sekaligus peluang.

Namun, mengikuti tren saja dinilai tidak cukup. Produk yang hanya mengandalkan popularitas sesaat berisiko cepat kehilangan perhatian ketika tren bergeser. Sebaliknya, usaha yang memiliki ciri khas lebih berpeluang membangun pelanggan tetap.

Karena itu, pelaku usaha perlu memikirkan faktor pembeda produknya, mulai dari rasa, kemasan, cerita, harga, hingga pengalaman saat konsumen membeli. Upaya membangun identitas dinilai penting agar produk tidak sekadar menjadi bagian dari arus viral yang cepat berlalu.

Peluang bagi kuliner lokal untuk berkembang juga disebut semakin terbuka. Kementerian Perdagangan pada 2026, misalnya, memfasilitasi produk pangan UMKM untuk masuk ke jaringan layanan kereta api melalui proses kurasi dan business matching. Produk yang terpilih antara lain pempek crunchy, tahu walik, keripik singkong panggang, stik keju, serta minuman jahe rempah.

Kesempatan tidak hanya datang dari pasar domestik. Kementerian Perdagangan mencatat produk olahan buah, sayur, dan camilan tempe dari dua UMKM Indonesia memperoleh pesanan dari pembeli di Cile senilai sekitar Rp510 juta pada Agustus 2026.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa produk yang berangkat dari ide sederhana dapat menjangkau pasar yang lebih luas ketika kualitas dan pengelolaannya dinilai siap. Pada akhirnya, kuliner kekinian tidak selalu harus dimaknai sebagai upaya mengejar makanan yang sedang viral. Peluang disebut bisa lebih besar ketika pelaku usaha mampu memadukan tren dengan identitas produk, sehingga bisnis tetap memiliki alasan bagi konsumen untuk kembali meski tren berubah.