BERITA TERKINI
Konsumsi Lemak Esensial Dinilai Masih Rendah, Olesan Margarin Disebut Bisa Jadi Alternatif Tambahan

Konsumsi Lemak Esensial Dinilai Masih Rendah, Olesan Margarin Disebut Bisa Jadi Alternatif Tambahan

Lemak esensial dibutuhkan tubuh, namun tidak dapat diproduksi sendiri. Karena itu, asupannya perlu dipenuhi melalui makanan sehari-hari dari berbagai sumber, seperti ikan laut dalam—antara lain salmon, tuna, tenggiri, dan tongkol—serta kacang-kacangan seperti almond dan kedelai.

Selain dari bahan pangan tersebut, asupan lemak baik yang mengandung omega-3 dan omega-6 juga dapat ditambah melalui konsumsi margarin. Assistant Nutrition & Health Manager PT Unilever Indonesia, Andriyani Wagianto, mengatakan konsumsi margarin di Indonesia masih tergolong rendah, meski harganya disebut lebih terjangkau dibanding mentega.

Menurut Andriyani, margarin dapat membantu menambah kebutuhan lemak baik dalam pola makan bergizi seimbang. Ia menyarankan agar manfaatnya lebih terasa, margarin sebaiknya dikonsumsi dengan cara dioleskan. Cara ini dinilai lebih baik dibandingkan menggunakan margarin untuk menumis masakan.

Ia juga menyebut margarin tidak hanya mengandung lemak esensial, tetapi dapat dikembangkan dengan tambahan nutrisi, termasuk vitamin serta kadar omega-3 dan omega-6 yang lebih tinggi. Salah satu contoh yang disampaikan adalah produk margarin Blue Band Gold yang disebut mengandung tambahan nutrisi seperti asam folat dan antioksidan.

Andriyani menjelaskan, vitamin A dan E pada produk tersebut berfungsi sebagai antioksidan. Selain itu, terdapat vitamin B9 yang sama dengan asam folat, serta vitamin B1, B2, B3, B6, B12, dan D. Ia menambahkan, tambahan nutrisi pada margarin disebut tidak berinteraksi sehingga tidak mengurangi kadar lemak esensial di dalamnya. Pernyataan itu disampaikan kepada Kompas Female di sela seminar “Promosi Gizi Seimbang” di Hotel Acacia, Kramat, Jakarta, Sabtu (18/6/2011).

Sementara itu, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) oleh LitBangKes menunjukkan konsumsi lemak baik atau lemak esensial pada rumah tangga Indonesia masih rendah. Makanan dengan kandungan asam lemak tak jenuh ganda, termasuk omega-3 dan omega-6, disebut masih minim dikonsumsi.

Dalam riset tersebut, rumah tangga di Indonesia cenderung lebih sering mengonsumsi lemak jenuh, seperti makanan siap saji dan gorengan. Padahal, pemenuhan lemak esensial dinilai penting sebagai bagian dari pola makan sehat dengan gizi seimbang.

Andriyani menyatakan hasil Riskesdas 2007 serupa dengan temuan pada 2010, yakni konsumsi lemak esensial pada rumah tangga Indonesia masih rendah. Ia menilai kesadaran untuk mengonsumsi lemak baik belum terbentuk, sehingga edukasi perlu terus dilakukan kepada konsumen—terutama kaum ibu—serta kepada dokter dan tenaga kesehatan yang kerap menjadi sumber informasi terdekat bagi masyarakat.