BERITA TERKINI
Komunitas Urban Farming di Sleman Bagikan 7 Cara Pemupukan Organik untuk Panen dan Rasa Sayur Lebih Baik

Komunitas Urban Farming di Sleman Bagikan 7 Cara Pemupukan Organik untuk Panen dan Rasa Sayur Lebih Baik

Piramida Projects, komunitas urban farming yang berlokasi di kawasan perumahan di Sleman, DI Yogyakarta, menerapkan sistem pertanian terintegrasi (integrated farming) untuk mendukung ketahanan pangan skala rumahan. Mereka menekankan bahwa berkebun organik tidak semata mengejar kuantitas panen, melainkan juga kualitas nutrisi dan rasa hasil kebun.

Menurut Piramida Projects, perawatan tanaman tanpa bahan kimia dan pemupukan yang tepat dapat menghasilkan panen yang lebih baik sekaligus rasa sayur dan buah yang dinilai lebih enak dibandingkan produk konvensional. Pendekatan yang mereka sebut holistik itu juga diklaim mampu menekan pengeluaran keluarga untuk kebutuhan pangan hingga 70%.

Berikut tujuh praktik pemupukan yang dibagikan Piramida Projects berdasarkan pengalaman pengelolaan kebun rumahan mereka dalam tiga bulan terakhir.

1. Beralih ke pupuk organik dan meninggalkan pupuk kimia
CEO Piramida Projects, Taufik Azhari, mengatakan mereka pernah menggunakan pupuk kimia, namun merasakan perubahan pada hasil panen. Pengalaman tersebut mendorong mereka kembali menggunakan pupuk organik sepenuhnya.

Dalam penjelasannya, pupuk kimia disebut memiliki basis “panas” yang dapat memengaruhi struktur tanah. Dalam beberapa siklus panen, tanah bisa menjadi lebih keras dan kualitas media tanam menurun. Kondisi itu berpotensi mengganggu penyerapan nutrisi tanaman dan berimbas pada rasa panen. Sebaliknya, pupuk organik dinilai membantu menjaga tanah tetap gembur dan dapat digunakan terus-menerus tanpa penurunan kualitas yang sama.

2. Menyesuaikan nutrisi dengan fase vegetatif dan generatif
Piramida Projects membedakan kebutuhan nutrisi tanaman berdasarkan fase pertumbuhan. Pada fase vegetatif—saat tanaman membentuk daun, batang, dan akar—tanaman membutuhkan nitrogen lebih tinggi. Sementara pada fase generatif—ketika mulai berbunga dan berbuah—kebutuhan fosfor dan kalium lebih menonjol untuk mendukung pembentukan bunga dan buah.

Taufik mencontohkan pada tanaman tomat: ketika masih fokus pada pertumbuhan daun, pupuk yang digunakan diarahkan untuk mendukung pertumbuhan vegetatif. Saat tanaman mulai berbunga, pemupukan dialihkan untuk mendukung fase pembuahan.

3. Memanfaatkan air kolam lele sebagai pupuk cair alami
Dalam sistem integrated farming, Piramida Projects memanfaatkan air kolam ikan, khususnya lele, sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. Taufik menyebut air kolam lele kaya nutrisi karena adanya amonia yang berasal dari aktivitas ikan dan penguraian sisa pakan.

Air kolam tersebut dinilai mengandung nitrogen, fosfor, serta mineral lain yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, mikroorganisme di dalamnya disebut dapat membantu menyuburkan tanah dan meningkatkan aktivitas biologis di sekitar akar.

4. Membuat kompos dari alas kandang ayam lewat sistem “cekerator”
Piramida Projects juga memanfaatkan kandang ayam untuk menghasilkan kompos. Mereka menggunakan alas berupa daun kering atau sekam padi, lalu membiarkan ayam menggaruk dan mengaduk material tersebut bersama kotorannya—metode yang mereka sebut “cekerator”.

Proses pengadukan alami ini disebut membantu aerasi dan mempercepat dekomposisi. Dalam waktu sekitar 3–4 bulan, material dapat berubah menjadi kompos. Taufik menyebut satu periode tiga bulan bisa menghasilkan sekitar dua karung kompos yang dapat dipakai untuk kebutuhan kebun berikutnya.

5. Meracik pupuk organik cair sendiri dengan mikroba unggul
Setelah mencoba produk komersial, Piramida Projects mengembangkan formulasi pupuk organik cair sendiri. Taufik menyatakan mikroba yang mereka gunakan merupakan hasil seleksi dari beberapa jenis mikroba dan telah melalui uji laboratorium, kemudian dipilih yang paling bertahan dan kuat.

Sebelumnya mereka menggunakan EM4 yang memerlukan aktivasi dengan molase. Namun proses ini dianggap kurang praktis bagi pemula, sehingga mereka bekerja sama dengan pengelola mikroba di Yogyakarta untuk mengembangkan pengurai yang disebut lebih kuat dan langsung aktif.

6. Mengatur frekuensi dan dosis: sedikit tapi rutin
Piramida Projects menekankan efisiensi pemupukan dengan prinsip “sedikit tapi sering”. Taufik menilai pemberian pupuk berlebihan sekaligus dapat membuat nutrisi terbuang dan tanaman justru mengalami stres.

Ia memberi contoh penggunaan pupuk organik cair yang mereka pakai: sekitar 5 ml untuk 1 liter air, diaplikasikan seminggu sekali. Dengan pola itu, satu jenis pupuk bisa bertahan hingga tiga bulan karena pemakaian yang minim. Untuk kompos, mereka menyebut dapat diberikan sebulan sekali atau saat awal tanam.

7. Menjaga kesehatan ekosistem agar tanaman tidak stres
Piramida Projects menempatkan kesehatan ekosistem—tanaman, ikan, dan ayam—sebagai bagian penting dari hasil panen. Taufik menyebut tanaman yang stres dapat menghasilkan buah atau sayur dengan rasa yang tidak optimal.

Beberapa faktor yang disebut dapat memicu stres pada tanaman antara lain kekurangan atau kelebihan air, serangan hama dan penyakit, nutrisi yang tidak seimbang, suhu ekstrem, serta tanah yang terlalu padat. Dalam kondisi stres, tanaman dinilai akan mengalihkan energi untuk bertahan hidup sehingga produksi dan kualitas panen menurun.

Untuk mencegahnya, Piramida Projects menekankan perlunya observasi harian, penyiraman yang konsisten sesuai kelembapan tanah, pengendalian hama secara organik, serta jadwal perawatan yang teratur agar tanaman tidak mengalami perubahan perlakuan yang mendadak.