Sejumlah berita kuliner menarik perhatian pembaca pada Rabu (29/7/2026), mulai dari kisah para lulusan S1 yang memilih berjualan makanan, penutupan restoran Indonesia tertua di Hong Kong, hingga komentar Chef Juna yang menyindir kebiasaan makan seblak.
Fenomena lulusan sarjana yang terjun ke bisnis kuliner menjadi salah satu sorotan. Sejumlah orang membagikan cerita mereka melalui unggahan di Threads, termasuk seorang penjual bakso yang ternyata lulusan sarjana bidang perfilman. Penjual tersebut mengaku pendapatannya justru lebih besar dibandingkan pekerjaan dengan gaji setara UMR.
Kisah lain datang dari penjual kue gabin yang diketahui merupakan lulusan S1 Arsitektur. Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa keputusan beralih ke usaha kuliner tidak selalu sejalan dengan latar pendidikan, namun didorong oleh alasan dan pertimbangan masing-masing.
Dari luar negeri, kabar datang dari Indonesian Restaurant 1968 di Hong Kong yang menutup operasionalnya secara permanen pada awal Juli 2026 setelah berdiri selama 58 tahun. Restoran tersebut didirikan oleh pasangan asal Indonesia, Chang Chian Lo dan Lee Tau Chen.
Restoran itu awalnya berlokasi di Yun Ping Road, lalu pindah ke kawasan Central sejak 2023. Beragam menu Nusantara disajikan, dengan beberapa hidangan andalan seperti soto ayam, sop buntut, dan rendang.
Sementara itu, Chef Juna turut menjadi perbincangan setelah menyampaikan pandangannya mengenai seblak. Seblak dikenal sebagai jajanan khas Jawa Barat yang terbuat dari kerupuk mentah yang dimasak dengan bumbu rempah bercita rasa pedas, ditambah sayuran, telur, dan pelengkap lain. Makanan ini memiliki banyak penggemar.
Namun Chef Juna menilai seblak sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering karena dapat berdampak pada kesehatan. Ia juga menyinggung cara pengolahan kerupuk yang menurutnya semestinya digoreng, bukan dimasak dalam kondisi mentah. “Tidak perlu ahli gizi atau dokter sekalipun yang tahu (makan seblak) sering-sering itu tidak baik (untuk kesehatan),” ujar Chef Juna.