Ketua Umum Gerakan Dapur Indonesia, Nofalia Heikal Safar, melakukan kunjungan kerja ke China untuk menjajaki ekspansi bisnis sekaligus memperkuat kolaborasi di sektor kuliner dan ketahanan pangan, termasuk dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kunjungan tersebut berlangsung selama delapan hari, pada 23–30 April 2026, dengan agenda di sejumlah kota, mulai dari Hong Kong, Shenzhen, Guangzhou, Shanghai, hingga Beijing.
Nofalia yang juga menjabat Ketua Umum Yayasan Garuda Biru Indonesia dan Yayasan Salman Peduli Berkarya, menyampaikan bahwa salah satu tujuan utama kunjungan ini adalah mengikuti ajang Canton Fair atau China Import and Export Fair. Ia menyebut partisipasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan program Gerakan Dapur Indonesia.
Menurut Nofalia, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mendorong ekspor produk unggulan Indonesia ke pasar China, terutama komoditas rempah. Ia menyebut sejumlah komoditas yang dinilai berpeluang, seperti lada, biji pala, kayu manis, cengkeh, jahe, dan kunyit.
“Indonesia merupakan pemasok terbesar kedua untuk lada dan terbesar pertama untuk biji pala ke Tiongkok. Produk lain seperti kemiri dan vanila juga memiliki potensi besar karena tingginya permintaan industri kuliner dan obat tradisional,” ujar Nofalia.
Meski demikian, ia menegaskan fokus utama penjajakan kerja sama saat ini bukan sekadar ekspansi restoran komersial, melainkan pembangunan infrastruktur dapur untuk mendukung program MBG.
Dalam konteks tersebut, Gerakan Dapur Indonesia bersama Kadin Indonesia disebut menjalin komunikasi dengan mitra di China untuk membangun 1.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Nofalia mengatakan pihak pengusaha dari China juga menawarkan investasi untuk pembangunan 1.000 dapur MBG berbasis gotong royong di Indonesia.
Ia menambahkan, kerja sama itu diarahkan untuk memperkuat program pemerintah dalam ketahanan pangan sekaligus memperluas jaringan dapur sehat, baik di dalam negeri maupun melalui pembelajaran dari negara mitra.
Selain penjajakan kerja sama, Gerakan Dapur Indonesia turut memperkenalkan konsep dapur sehat melalui pameran miniatur, mulai dari Jakarta Fair hingga Canton Fair di Guangzhou. Konsep tersebut menampilkan alur produksi makanan bergizi, dari penyediaan bahan baku hingga distribusi.
Penjajakan juga mencakup transfer teknologi dan standar operasional, termasuk penerapan teknologi dapur modern, sistem sanitasi, serta manajemen kuliner skala besar yang diadopsi dari praktik di China. “Kerja sama ini menjadi fondasi bagi pelaku kuliner Indonesia untuk mempelajari manajemen dapur skala besar,” tuturnya.
Nofalia menegaskan pendekatan Gerakan Dapur Indonesia berbeda dengan konsep “Warung Indonesia” di China yang berorientasi pada bisnis kuliner komersial.
Ia juga menyampaikan bahwa upaya ekspansi ke China tidak lepas dari peran almarhum Tong Djoe, yang disebutnya selama ini dikenal sebagai penghubung antara pelaku usaha Indonesia dan China. “Beliau sosok yang bekerja di belakang layar, tetapi jasanya besar bagi Indonesia,” imbuhnya.
Menurut Nofalia, Tong Djoe telah lama berkiprah dalam berbagai sektor bisnis di Indonesia dan berperan menjembatani hubungan dengan pelaku usaha China, termasuk dalam penguatan kerja sama ekonomi kedua negara.

