Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meluruskan pernyataannya mengenai kebutuhan hingga 19.000 ekor sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dadan menegaskan, angka tersebut bukan kebutuhan riil harian, melainkan simulasi atau pengandaian perhitungan.
Menurut Dadan, perhitungan itu didasarkan pada asumsi apabila seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak menu berbahan daging sapi. Dalam skenario tersebut, kebutuhan sapi tinggal dihitung dari jumlah SPPG yang memasak daging sapi pada hari yang sama.
Ia menjelaskan, untuk satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu SPPG dapat mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram. Jumlah itu setara dengan daging dari satu ekor sapi untuk sekali masak.
Meski demikian, Dadan menyatakan BGN tidak menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Kebijakan itu, kata dia, dihindari agar tidak memicu lonjakan kebutuhan bahan pangan yang berpotensi berdampak pada kenaikan harga di pasar.
Dadan mencontohkan pengalaman saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, ketika menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat. Saat itu, kebutuhan mencapai 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton, dan ia menyebut harga telur sempat naik Rp3.000.
Berkaca dari pengalaman tersebut, BGN memilih pendekatan yang lebih fleksibel dalam penyusunan menu MBG. Menu disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal serta preferensi masyarakat di masing-masing daerah, agar tekanan permintaan terhadap komoditas tertentu tidak terlalu tinggi.