BERITA TERKINI
Pakar Jelaskan Mengapa Mi Instan di Jepang-Korsel Lazim Jadi Menu Harian, Sementara di Indonesia Sering Dianggap Tak Sehat

Pakar Jelaskan Mengapa Mi Instan di Jepang-Korsel Lazim Jadi Menu Harian, Sementara di Indonesia Sering Dianggap Tak Sehat

Perbincangan di media sosial X ramai setelah sebuah unggahan membandingkan kebiasaan konsumsi mi instan di Indonesia dengan di Jepang dan Korea Selatan. Dalam unggahan yang dimuat akun @txt*********yer pada Minggu (24/5/2026), pengunggah menyebut mi instan di Indonesia kerap dianggap kurang sehat bila dikonsumsi setiap hari, bahkan ada yang membatasi maksimal sekali seminggu.

Pengunggah menilai situasinya berbeda di Jepang dan Korea Selatan, di mana cup ramen atau mi instan dianggap normal dimakan sehari-hari. Ia pun mempertanyakan apakah perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kandungan mi instan di masing-masing negara.

Hingga Jumat (5/6/2026), unggahan itu telah dilihat lebih dari 4,1 juta kali dan memperoleh setidaknya 16.000 likes.

Ahli gizi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Toto Sudargo, menjelaskan bahwa perbedaan persepsi dan dampak konsumsi mi instan tidak semata soal produk, tetapi juga budaya makan dan gaya hidup. Menurut Toto, mi memang sudah menjadi makanan pokok di Jepang dan Korea Selatan. Ia menambahkan, mi—seperti halnya beras, kentang, jagung, dan ketela—termasuk sumber karbohidrat yang lazim dikonsumsi sehari-hari.

“Nah sekarang bagaimana negara-negara maju itu sudah menggantikan posisi beras diganti menjadi menjadi mi, lalu ada bihun, ada kentang, ada roti, dan sebagainya. Karena apa? Karena kulturnya berbeda,” kata Toto kepada Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

Toto menilai kandungan mi instan di Indonesia dan di Jepang atau Korea Selatan pada dasarnya hampir mirip. Namun, perbedaan pentingnya terletak pada cara konsumsi. Di Jepang dan Korea Selatan, mi instan yang dijadikan makanan pokok umumnya dimakan bersama sayuran dan sumber protein.

Di Indonesia, Toto menilai masih banyak mi instan dikonsumsi tanpa dilengkapi makanan bergizi lainnya. Ia menyebut mi sebagai pengganti makanan pokok tetap dapat dikonsumsi, asalkan disertai lauk seperti ayam goreng, tahu, atau tempe.

Meski demikian, Toto menekankan mi instan—termasuk yang dikonsumsi di Jepang dan Korea Selatan—tetap mengandung natrium tinggi yang berisiko memicu tekanan darah tinggi atau hipertensi. Menurutnya, di negara-negara tersebut, dampak natrium dapat dilawan dengan kebiasaan mengonsumsi sayur dan buah.

Ia juga menyoroti praktik penyajian mi instan di Indonesia yang kerap tidak memenuhi standar gizi. Toto mencontohkan masih ada penjual yang setelah memasak mi, memasukkannya kembali ke bungkus untuk dimakan anak-anak. Ia juga menyebut kondisi yang lebih buruk ketika mi dikonsumsi tanpa diseduh atau dimasak.

Saat berkunjung ke Korea Selatan, Toto mendapati mi instan kerap dikonsumsi bersama kimchi sebagai pelengkap sayur. Toto—yang juga dosen gizi Universitas Gadjah Mada (UGM)—menyebut warga Korea Selatan gemar mengonsumsi sayuran. Ia menambahkan, kimchi khas Korea Selatan disebut mampu mengurangi lemak dalam tubuh. Selain mi instan, ia juga menemukan kebiasaan mengonsumsi ikan yang dibuntal dengan sayur kimchi.

Di luar pola makan, Toto menilai gaya hidup di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan juga berperan. Menurutnya, aktivitas fisik warga di negara-negara tersebut relatif tinggi, salah satunya kebiasaan berjalan kaki setiap hari, termasuk untuk mengejar transportasi umum.

Sebaliknya, ia menilai sebagian warga Indonesia lebih sering memilih sepeda motor atau mobil meski jarak tujuan dekat. Toto menyimpulkan, perbedaan budaya makan, kelengkapan gizi saat menyantap mi instan, serta gaya hidup menjadi faktor yang memengaruhi perbedaan dampak konsumsi mi instan antara Indonesia dan Jepang maupun Korea Selatan.