Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) memperkuat kapasitas pelaku usaha kuliner agar mampu tumbuh dan berdaya saing hingga tingkat global. Subsektor kuliner dinilai tidak hanya menjadi bagian dari identitas bangsa, tetapi juga merupakan salah satu kekuatan ekonomi nasional.
Upaya tersebut dilakukan melalui Nusantara Culinary Lab, sebuah pelatihan intensif bagi pelaku usaha kuliner yang menjadi bagian dari program Creative Hub. Kegiatan ini dirancang sebagai pusat kolaborasi, pengembangan kapasitas, dan peningkatan daya saing pelaku ekonomi kreatif.
Nusantara Culinary Lab digelar pada 9–10 Oktober 2026 di Auditorium RRI Bogor, Kota Bogor. Dengan pendekatan praktis dan aplikatif, pelatihan ini menjadi ruang belajar bagi peserta untuk memperdalam pengetahuan, berbagi pengalaman, membangun jejaring, serta memperoleh perspektif baru dalam mengembangkan usaha kuliner berbasis potensi lokal.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, menekankan bahwa kuliner memiliki peran lebih dari sekadar produk konsumsi. “Kuliner bukan sekadar produk yang dikonsumsi, tetapi merupakan bagian dari identitas, kreativitas, dan kekuatan ekonomi Indonesia. Karena itu, tugas kita adalah memastikan kreativitas yang lahir dari pelaku kuliner dapat berkembang menjadi produk yang bernilai tambah, memiliki jenama yang kuat, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, peserta mendapatkan pembekalan strategi bisnis, mulai dari membangun mentalitas pendiri usaha (founder), mengembangkan bisnis, hingga meluncurkan produk baru (new product launching). Kegiatan menghadirkan praktisi dan ahli industri untuk berbagi pengetahuan serta strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha.
Nusantara Culinary Lab diselenggarakan Kementerian Ekraf bekerja sama dengan Forum Ekonomi Kreatif Kota Bogor serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor. Sesi pertama menghadirkan Georgian Marcello dari Forum Ekonomi Kreatif Kota Bogor yang membahas pentingnya mentalitas founder yang tangguh dan inovatif dalam mengembangkan usaha.
Selanjutnya, Nilamsari dari NSK Consulting memaparkan strategi pertumbuhan bisnis melalui pola Vertical & Horizontal Growth, teknik ekspansi, hingga penyusunan pitch deck untuk menggaet mitra bisnis.
Dari sisi operasional, Muhammad Eka Pramudita, CEO PT Kemenady Industri Mandiri, membagikan strategi pengelolaan rantai pasok (supply chain) dan standardisasi produksi. Kedua aspek tersebut ditujukan untuk membantu pelaku usaha menjaga konsistensi kualitas sekaligus memenuhi kebutuhan pasar business-to-business (B2B) dalam skala besar.
Pada hari kedua, peserta mendalami strategi penetrasi pasar dan inovasi produk bersama Hendra Novianto dari Foodiz. Melalui sesi New Product Launching Strategy, peserta mempelajari cara merumuskan formula produk yang kompetitif, memahami siklus hidup produk (product life cycle), serta menyusun strategi peluncuran untuk meningkatkan penjualan secara berkelanjutan.
Kementerian Ekraf menyatakan pelatihan ini diharapkan dapat melahirkan wirausaha kuliner lokal yang tangguh, berdaya saing, serta mampu memperluas jangkauan pasar hingga tingkat nasional dan global.
Rangkaian acara dibuka oleh Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf Yuke Sri Rahayu dan Direktur Kuliner Kementerian Ekraf Romi Astuti. Dari Pemerintah Kota Bogor, hadir Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor Adhitya Bhuana Karana.