BERITA TERKINI
Kemenkes Tekankan Pangan Lokal untuk Perbaiki Gizi dan Tekan Risiko Penyakit Tidak Menular

Kemenkes Tekankan Pangan Lokal untuk Perbaiki Gizi dan Tekan Risiko Penyakit Tidak Menular

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali menegaskan pentingnya pemanfaatan pangan lokal sebagai strategi pemenuhan gizi seimbang masyarakat. Penegasan itu disampaikan dalam peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 yang mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” pada Kamis, 5 Februari 2026.

Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes menyatakan momentum HGN menjadi pengingat bagi masyarakat untuk memperbaiki pola konsumsi, di tengah masalah gizi yang dinilai masih kompleks. Dalam webinar nasional yang digelar, Kemenkes menyoroti tantangan triple burden of malnutrition, yakni kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan kekurangan zat gizi mikro yang terjadi secara bersamaan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Lovely Daisy, memaparkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang menunjukkan satu dari lima balita masih mengalami stunting. Pada saat yang sama, 37,8 persen penduduk dewasa tercatat mengalami kelebihan berat badan.

Menurut Daisy, kondisi tersebut diperparah oleh pola makan yang kurang beragam. Ia menyebut 96,7 persen masyarakat masih kurang mengonsumsi sayur dan buah. “Kondisi ini diperparah dengan pola makan yang kurang beragam. Sebanyak 96,7 persen masyarakat kita kurang makan sayur dan buah,” kata Daisy dalam keterangan resminya, Jumat, 6 Februari 2026.

Melalui slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”, pemerintah mendorong penerapan konsep “Isi Piringku” dengan memanfaatkan pangan lokal yang kaya nutrisi sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas konsumsi harian.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, Rimbawan, menilai pangan lokal memiliki keunggulan dibandingkan pangan impor, baik dari sisi gizi maupun aksesibilitas. Ia menyebut pangan lokal lebih segar karena rantai pasok yang lebih pendek, mudah diakses, dan harganya lebih terjangkau. Selain itu, konsumsi pangan lokal dinilai berdampak pada ekonomi petani sekaligus memperkuat identitas budaya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyoroti hubungan pola makan dengan meningkatnya penyakit tidak menular. Ia menyebut konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan, terutama di wilayah perkotaan, menjadi pemicu utama hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

Siti Nadia juga mengutip kajian bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang menyatakan penyelarasan kebijakan pengendalian asam lemak trans dan reformulasi makanan berpotensi mencegah 310 ribu kematian dan 580 ribu kasus penyakit jantung. Menurutnya, pengaturan batas maksimum GGL serta penguatan kebijakan label pangan menjadi langkah krusial untuk menekan risiko penyakit tidak menular.