Bagi banyak orang, secangkir teh hangat menjadi bagian dari rutinitas harian yang identik dengan ketenangan dan kesehatan. Namun, di balik kepraktisan teh celup, muncul kekhawatiran terkait potensi paparan mikroplastik dari kantong teh, terutama ketika diseduh dengan air bersuhu tinggi.
Dalam industri teh modern, sejumlah kantong teh tidak hanya dibuat dari kertas atau serat alami. Beberapa produk menggunakan material sintetis seperti nilon, polipropilena, atau jenis plastik lainnya. Bahan-bahan tersebut dipakai untuk meningkatkan daya tahan agar kantong tidak mudah robek saat terkena air panas, mempertahankan bentuk tertentu—termasuk model piramida—serta meningkatkan kemampuan filtrasi.
Masalahnya, material sintetis dapat menjadi tidak stabil ketika terkena suhu tinggi. Saat kantong teh diseduh dengan air mendidih atau sangat panas, struktur polimer pada plastik berpotensi melepaskan partikel mikroskopis. Partikel ini dikenal sebagai mikroplastik, yakni berukuran kurang dari 5 milimeter, serta nanoplastik yang ukurannya lebih kecil lagi. Kondisi tersebut memunculkan kemungkinan konsumen menelan partikel plastik yang tidak kasat mata saat minum teh.
Paparan partikel asing ke dalam sistem pencernaan menjadi perhatian para ahli kesehatan. Salah satu risiko yang dikhawatirkan adalah respons sistem imun yang menganggap partikel plastik sebagai benda asing, sehingga dapat memicu peradangan (inflamasi) kronis. Meski kajian mengenai dampak penuh mikroplastik pada manusia masih terus berkembang, potensi risikonya dinilai cukup untuk mendorong kewaspadaan.
Untuk mengurangi risiko tanpa harus berhenti menikmati teh, ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan. Salah satu cara yang disebut paling efektif adalah beralih ke teh serbuk atau daun teh lepas (loose leaf tea), karena tidak menggunakan kantong. Penyeduhan dapat dilakukan dengan penyaring (infuser) berbahan aman dan tahan panas, seperti stainless steel, kaca, atau keramik.
Bagi yang tetap memilih teh celup karena alasan praktis, konsumen disarankan lebih cermat membaca label kemasan. Pilih produk yang secara jelas menyatakan kantong berbahan serat alami, seperti kertas abaca atau selulosa tumbuhan, serta bebas pelapis plastik dan perekat sintetis.
Dengan penyesuaian sederhana dalam memilih produk dan metode seduh, risiko kontaminasi plastik dapat diminimalkan sehingga konsumsi teh tetap sejalan dengan tujuan menjaga kesehatan.

