Aktor sinetron sekaligus DJ Vicky Nitinegoro mulai menekuni dunia bisnis kuliner bersama rekannya. Usaha tersebut telah dijalani Vicky selama sekitar tiga tahun terakhir dan disebut sudah berkembang hingga memiliki enam cabang.
Vicky menjelaskan, keputusan beralih ke bisnis berangkat dari keinginannya sejak lama untuk memiliki usaha. Ia menyebut baru menemukan rekan yang cocok untuk bekerja sama karena memiliki kemampuan memasak serta kesamaan visi dan selera.
“Karena memang dari dulu salah satu impian gua itu punya usaha. Akhirnya ketemu partner yang bisa masak, satu visi misi, dan lidahnya satu selera. Yaudah jalan gitu aja,” kata Vicky saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin (15/9/2025) malam.
Menurut Vicky, bisnis kuliner dipilih karena ia mengaku hobi makan dan ingin menghadirkan makanan yang enak dengan harga terjangkau. Ia menilai respons masyarakat terhadap usahanya cukup baik.
“Ya karena ini makanan murah, enak, jadi respon pembeli atau masyarakat bagus. Senang aja gua melihat orang bisa makan enak dengan harga murah,” ujarnya.
Meski demikian, Vicky mengakui menjalankan bisnis bukan hal mudah. Ia menilai kecocokan dengan rekan usaha menjadi faktor penting agar kerja sama bisa berjalan baik.
“Sebenarnya bisa aja dari dulu terjun bisnis. Cuma namanya bisnis kayak cari pacar. Cari chemistrynya harus bener, karena kan akan intens, harus terbuka sama rekan bisnis, dan nerima masukan satu sama lain. Mungkin allah kasih jalannya sekarang ya alhamdulillah dilancarin,” jelasnya.
Ia juga menyebut modal usaha yang dijalankan kini sudah kembali. “Alhamdulillah sekarang juga sudah balik modal,” sambungnya.
Dalam keseharian mengelola usaha, Vicky mengatakan dirinya kerap datang langsung ke outlet. Ia ingin membangun suasana kerja yang tidak terlalu kaku agar pegawai merasa nyaman.
“Gua pengin staf gua pengin pegawai gua itu kerja kayak di rumahnya sendiri. Gak terlalu kaku, biar gak kaku kerjanya,” ungkapnya.
Vicky menambahkan, kehadirannya di outlet sering ia posisikan layaknya pembeli untuk melihat langsung kondisi di lapangan. “Makanya gua sering dateng ke outlet, becanda, ngobrol. Gua memposisikan diri datang ke outlet sebagai pembeli. Kalau salah ya kasih tau,” katanya.
Ia juga mengaku kerap menerima komplain dari pelanggan. Namun, Vicky mengatakan tidak semua keluhan diterima begitu saja, salah satunya ketika ada pembeli yang mempersoalkan porsi lalapan dan sayur saat datang menjelang jam tutup.
“Sempat gua balesin kenapa gak dateng jam 12 malam? Masih ada kok sisanya. Harga Rp 10 rb pengin kualitas mahal bintang lima cari yang lain. Gua kan pengin ini makanan rakyat, gua mau orang makan enak dengan harga murah,” ujar Vicky.

