PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menggelar kegiatan JAPFA for Kids selama dua hari di Sumatera Barat, Kamis–Jumat (21–22/5/2026). Program sosial perusahaan ini diawali di Kantor JAPFA Padang, kawasan Padang Industrial Park, dengan melibatkan kepala sekolah dan guru dari 12 sekolah binaan di Padang Pariaman dan Kota Padang.
Pada hari pertama, kegiatan diikuti 36 peserta. Materi disampaikan Dr. Ir. Asih Setiarini, Msc., dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Sejumlah pemangku kepentingan daerah turut hadir, antara lain dr. Hj. Fitriati Matondang (Kepala Puskesmas Pasar Usang), Elni Sari (Sekretaris Kecamatan Batang Anai), Ali Buzar (Wali Nagari Kasang), Tk. Arif Kulmanan (Sekretaris KAN Nagari Kasang), Jumaidi (Ketua Bamus Nagari Kasang), dan Mairuzal (Wakil Ketua Bamus Nagari Kasang).
Kegiatan hari kedua dilaksanakan di SDN 6 Batang Anai, Padang Pariaman, Jumat (22/5). Hadir perwakilan manajemen JAPFA Padang, Yosi Puspa Sari (Head of HR & GA Feed Padang), para guru, tokoh masyarakat, serta perwakilan siswa sekolah dasar binaan JAPFA.
Argha Akbar, Senior Officer Social Investment JAPFA, menyebut rangkaian kegiatan meliputi senam bersama, pemeriksaan kesehatan, makan bersama dengan menu gizi seimbang, serta seleksi siswa SD khusus untuk pemain catur.
Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, menyampaikan program JAPFA for Kids bertujuan menurunkan malagizi—gizi buruk dan gizi kurang—serta mendorong pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada siswa. Sasaran utama program ini adalah siswa usia sekolah dasar yang berada di sekitar unit operasional JAPFA.
Dalam pelaksanaannya, JAPFA for Kids menerapkan prinsip sharing contribution, yaitu perusahaan hadir sebagai mitra yang mengajak sekolah, guru, orang tua, puskesmas, dan pemangku kepentingan lain untuk bekerja sama dan berkontribusi aktif.
Masih dalam rangkaian kegiatan di Sumatera Barat, JAPFA juga kembali menggelar Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026. Kegiatan ini disebut menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi publik mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak, sekaligus menandai perjalanan 18 tahun program JAPFA for Kids.
Tahun ini, AKJJ 2026 mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”. Tema tersebut merefleksikan perjalanan program dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak, serta mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat edukasi publik terkait pentingnya gizi anak.
Rachmat menyatakan tantangan gizi anak masih menjadi perhatian. Mengacu pada Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Ia menekankan pentingnya sinergi antara dunia usaha, media, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan perubahan berkelanjutan.
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menambahkan data yang dihimpun JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan program pada 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Menurutnya, hingga 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.
Retno juga memaparkan hasil program pada 2024 dan 2025. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk meningkat menjadi gizi baik (51,5 persen). Pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik (62,5 persen).
Ia menjelaskan strategi program dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA. Program ini juga dilengkapi edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala.
Dalam AKJJ 2026, JAPFA melibatkan dewan juri dari berbagai latar belakang, yakni jurnalis senior sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir, fotografer jurnalistik senior Beawiharta, serta pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H. JAPFA menyatakan AKJJ diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan data, fakta, dan cerita lapangan untuk memperkuat edukasi publik mengenai gizi seimbang bagi anak.

