BERITA TERKINI
JAPFA for Kids di Lampung Selatan: Pendampingan Gizi Anak Dimulai dari Kebiasaan Kecil

JAPFA for Kids di Lampung Selatan: Pendampingan Gizi Anak Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Pagi baru dimulai di SD Negeri 1 Budidaya, Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan. Para siswa bersiap mengikuti pelajaran, sementara sebuah kebiasaan sederhana menjadi bagian dari rutinitas mereka: menikmati sebutir telur. Bagi sebagian orang, telur mungkin hanya menu sarapan. Namun bagi sebagian anak, kebiasaan ini disebut menjadi awal perubahan menuju pola hidup yang lebih sehat.

Di sekolah tersebut terdapat 186 siswa, dengan delapan anak mendapat perhatian khusus karena berdasarkan data hasil pengukuran dinilai mengalami malanutrisi. Untuk mendukung perbaikan gizi mereka, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menugaskan dua fasilitator gizi, Tamara dan Debora, melalui program JAPFA for Kids. Pendampingan dilakukan melalui edukasi dan sosialisasi kepada guru, orang tua, serta siswa.

Lampung disebut bukan wilayah baru bagi JAPFA for Kids. Program ini mulai hadir di provinsi tersebut pada 2008, dengan pelaksanaan awal di Lampung Tengah dan Lampung Timur yang menjangkau enam sekolah dan 1.632 siswa. Setelah itu, program meluas ke sejumlah daerah lain, termasuk Lampung Selatan, Tanggamus, Pringsewu, dan Pesawaran, serta direncanakan kembali ke Lampung Selatan pada 2026.

Hingga kini, program tersebut telah menjangkau 69 sekolah dan lebih dari 13.400 siswa di Lampung. Pada tahun ini, 15 sekolah di Lampung Selatan dengan 2.051 siswa dan 165 guru kembali bergabung dalam pelaksanaan program.

Pendampingan tidak hanya berfokus pada angka cakupan. Di tingkat sekolah, guru rutin mencatat berat dan tinggi badan siswa setiap bulan, sementara orang tua didorong memahami pentingnya protein hewani serta menu harian yang lebih seimbang. Tenaga kesehatan juga terlibat memberi edukasi agar kebiasaan hidup sehat tumbuh sejak dini.

Debora, salah satu fasilitator gizi JAPFA, menilai keberhasilan program tidak diukur dari jumlah telur yang dibagikan atau banyaknya sekolah yang dikunjungi. Menurutnya, tolok ukur lebih penting adalah ketika anak mulai memilih makanan bergizi tanpa harus diingatkan, orang tua memahami menu seimbang, serta kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dan membersihkan kuku menjadi bagian dari keseharian.

Di Lampung, dua fasilitator mendampingi pelaksanaan program di 15 sekolah. Tugas mereka tidak hanya memantau kegiatan, tetapi juga membangun komunikasi dengan sekolah dan keluarga agar perubahan perilaku tetap berlanjut setelah program selesai. Bersama Tamara, Debora menempatkan diri sebagai pendamping yang belajar bersama guru, orang tua, dan murid.

Dalam pendampingan, kebiasaan hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi perhatian, termasuk kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan kuku. Para fasilitator menyebut, ketika anak-anak mulai saling mengingatkan soal kebersihan, hal itu menjadi tanda bahwa edukasi mulai diterapkan.

Di awal program, fasilitator masih menemukan sebagian orang tua beranggapan kebutuhan gizi anak cukup dipenuhi dengan sepiring nasi dan telur. Sayur kerap tidak hadir karena anak menolak. Tamara menyebut program ini membiasakan anak mengonsumsi gizi seimbang sekaligus memberi contoh aktivitas fisik yang perlu dilakukan.

Karena masih adanya orang tua yang belum memahami gizi seimbang, Tamara memilih menjadi teman diskusi bagi guru dan orang tua untuk mencari cara agar menu keluarga lebih beragam. Sejumlah referensi menu dibagikan dengan tujuan agar makanan yang disajikan tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memenuhi prinsip gizi seimbang, mencakup protein, sayur, buah, dan karbohidrat.

Dalam sepekan terakhir, pendekatan komunikasi itu disebut mulai membuahkan hasil. Orang tua mulai mencoba resep baru, dan bekal anak menjadi lebih berwarna. Sayur yang sebelumnya sering tersisa perlahan mulai disantap.

Program juga menjangkau rumah, menjadikan orang tua bagian dari proses membangun kebiasaan sehat. Di depan salah satu kelas, sejumlah orang tua tampak berkumpul untuk mendengarkan edukasi dari guru, tenaga kesehatan, serta pihak JAPFA terkait upaya peningkatan gizi anak.

Sejumlah orang tua mengakui persoalan gizi tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi, melainkan pada apa yang dimakan dan disajikan di rumah. Rafika, orang tua siswa kelas 4 di SDN 1 Budidaya, mengatakan memenuhi gizi seimbang sebenarnya tidak sulit, tetapi anaknya tidak menyukai telur sehingga asupan protein hewani menjadi kurang. Melalui program ini, ia merasa terbantu untuk memberi pengertian bahwa telur kaya protein dan dapat diolah dengan cara yang disukai anak.

Menurut Rafika, perubahan pada anaknya terjadi perlahan. Ia kini rutin berkonsultasi dengan fasilitator dan guru untuk menentukan menu yang tepat agar kebutuhan gizi seimbang terpenuhi.

Orang tua lainnya, Widi Astuti, mengaku terkejut ketika sekolah mengabarkan anaknya, Ilham, menjadi salah satu siswa yang akan mendapat pendampingan. Ia menilai anaknya memiliki nafsu makan tinggi dan telur hampir selalu ada di rumah. Namun ia kemudian menyadari anaknya kurang menyukai sayur. Penjelasan tenaga kesehatan saat peluncuran program membuatnya memahami bahwa pertumbuhan anak tidak hanya dilihat dari banyaknya makanan, tetapi dari kecukupan dan keberagaman gizi.

Di tingkat nasional, persoalan gizi anak usia sekolah masih menjadi perhatian. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat sekitar 11 persen anak usia sekolah mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Pemantauan JAPFA pada 2024 juga menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa di lokasi program masih menghadapi kondisi serupa.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menyampaikan bahwa JAPFA for Kids tidak berhenti pada pembagian telur. Program ini mengajarkan empat pilar gizi seimbang, membiasakan aktivitas fisik melalui Hari Sehat JAPFA, memantau pertumbuhan anak secara digital, melatih guru, mendampingi orang tua, serta mengevaluasi perkembangan peserta.

Menurut data yang disampaikan, pada 2024 lebih dari separuh anak dengan kondisi gizi kurang berhasil mencapai status gizi baik. Setahun kemudian, angka keberhasilan meningkat menjadi 62,5 persen.

Pemerintah Kecamatan Sidomulyo juga menilai perbaikan gizi anak membutuhkan kolaborasi. Camat Sidomulyo Fran Sinarta Adung mengatakan kepedulian dunia usaha menjadi energi tambahan yang melengkapi intervensi pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, ia menekankan perubahan tidak cukup hanya melalui penyediaan makanan bergizi, melainkan juga edukasi pola makan sehat, pendampingan keluarga, serta pembiasaan PHBS di sekolah.

Melalui pendampingan yang melibatkan sekolah, orang tua, tenaga kesehatan, dan pihak swasta, upaya membangun kebiasaan sehat disebut terus diupayakan. Dari ruang kelas hingga rumah, perubahan digambarkan hadir lewat langkah kecil yang dilakukan berulang—mulai dari sarapan yang tidak lagi terlewat, sebutir telur di meja makan, hingga kebiasaan mencuci tangan sebelum makan.