BERITA TERKINI
Jamu Beradaptasi: Dari Dapur Tradisional ke Ruang Nongkrong Anak Muda

Jamu Beradaptasi: Dari Dapur Tradisional ke Ruang Nongkrong Anak Muda

Hampir setiap hari, Topan Juan meneguk minuman berbahan rempah. Bagi pemuda generasi Z itu, jamu tidak lagi dipahami sebagai minuman pahit yang hanya diminum saat tubuh terasa kurang sehat. Jamu justru ia jadikan bagian dari kebiasaan hidup, berangkat dari ketertarikan pada rempah yang ia anggap lekat dengan sejarah dan budaya Indonesia.

Awalnya Topan sekadar mencoba. Namun, perlahan konsumsi rempah berubah menjadi kebutuhan. Jamu tidak lagi ia posisikan sebagai minuman obat, melainkan teman keseharian. Pengalaman ini mencerminkan pergeseran cara pandang sebagian generasi muda terhadap jamu—yang selama ini identik dengan rasa pahit dan minuman khas generasi tua—menjadi sesuatu yang dikonsumsi secara sadar dalam keseharian.

Bagi generasi Z, jamu juga tidak harus hadir dalam bentuk tradisional. Pengemasan yang lebih modern dinilai membuatnya lebih mudah diterima. Meski demikian, Topan menilai jamu tetap penting sebagai warisan budaya tak benda. Selama jamu terus dikonsumsi dan tidak dilupakan, bentuk penyajian bukan persoalan utama.

“Kalau aku apapun bentuknya, rempah ini mau diinovasikan atau murni jamu pada umumnya jaman dulu, yang penting tidak dilupakan karena rempah ini milik kita sebagai warisan bangsa Indonesia,” kata Topan.

Perubahan cara menikmati jamu tampak di sejumlah ruang konsumsi modern yang mengangkat rempah sebagai menu utama. Salah satunya Wiratea Spices Bar di Yogyakarta yang ramai oleh pengunjung generasi Z. Tempat ini menyajikan beragam minuman rempah dengan pendekatan yang lebih modern, seperti ginger latte, cinnamon choco ginger, cinnamon choco, dan turmeric latte.

Pemilik Wiratea Spices Bar, Fattah Sugiarto, mengatakan ia tidak ingin memosisikan jamu sebagai minuman kesehatan. Menurutnya, pendekatan seperti itu justru membuat anak muda enggan mencoba. Ia memilih memaknai rempah sebagai bagian dari gaya hidup dan mengomunikasikannya agar relevan dengan kebutuhan generasi Z, termasuk isu kesehatan mental.

“Kami memaknai rempah sebagai minuman lifestyle, kami ingin mengomunikasikan bahwa rempah itu sebagai antidepresan sehingga relevan dengan kebutuhan anak muda zaman sekarang dimana isu generasi Z ini kebanyakan tentang kesehatan mental,” ujar Fattah.

Pendekatan tersebut juga berangkat dari realitas gaya hidup anak muda yang rentan terhadap stres dan tekanan mental. Rempah kemudian ditawarkan sebagai alternatif minuman selain kopi. Fattah menyebut, di tengah banyaknya coffee shop di Yogyakarta, konsep minuman rempah yang diinovasikan dengan bahan lain diharapkan bisa menjadi pilihan ruang berkumpul.

“Karena sudah terlalu banyak coffe shop yang ada di jogja ini, kami mengambil rempah yang diinovasikan dengan bahan lain. Sehingga ruang yang kami bentuk dapat menjadi pilihan untuk orang itu nongkrong sambil nge-rempah,” kata Fattah.

Di tempat itu, pengunjung datang silih berganti. Anak muda tampak menikmati minuman rempah sambil berbincang, mengerjakan tugas, atau menghabiskan waktu luang. Meski dikemas modern, Fattah menegaskan perannya hanya sebagai jembatan pengenalan. Setelah mengenal rempah, pengunjung diharapkan tertarik untuk mengenal jamu tradisional yang lebih murni.

Di sisi lain, ketertarikan pada jamu tradisional juga datang dari generasi milenial dan generasi X, sering kali melalui pengalaman personal. Nurul Estiruna, salah satu pembeli jamu tradisional di Jamu Ginggang—kedai jamu warisan abdi dalem Keraton Pakualaman—mengaku terbiasa mengonsumsi jamu sejak kecil karena dikenalkan oleh nenek dan ibunya. Ia juga kerap menyempatkan diri menikmati jamu bersama keluarga di tempat tersebut.

Bagi Nurul, jamu bukan sekadar minuman kesehatan, melainkan bagian dari kebiasaan keluarga. Meski inovasi jamu kini bermunculan, ia tetap memilih jamu murni yang sesuai dengan selera dan pengalaman hidupnya.

“Saya lebih suka murni jamu tanpa campuran dan itu mungkin preferensi lidah ya karena saya dari kecil sudah biasa minum jamu murni,” ungkap Nurul.

Nurul tidak menolak perubahan. Baginya, inovasi diperlukan agar jamu tetap relevan dan tidak ditinggalkan. Ia juga mengaku bangga melihat generasi muda mulai menaruh minat kembali pada jamu.

Praktik jamu tradisional sendiri masih dijaga oleh peracik jamu secara turun-temurun. Ike Yulita Estiani, peracik jamu di Yogyakarta sekaligus pemilik generasi kelima Jamu Ginggang, mengenal proses pembuatan jamu sejak kelas 3 sekolah dasar. Sepulang sekolah, ia terbiasa membantu keluarganya memproduksi jamu, mulai dari mencuci bahan hingga menghaluskannya dengan alat tradisional.

Menurut Ike, jamu bukan sekadar minuman penyegar, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh agar tidak mudah sakit. Resep yang digunakan merupakan resep turun-temurun sejak 1925 dan tetap dipertahankan tanpa campuran bahan kimia. Proses peracikan manual dinilai menjadi bagian dari pengetahuan tak tertulis yang diwariskan lintas generasi.

“Yang paling penting itu resepnya. Di situ nilai warisan budayanya,” ujar Ike.

Namun, mempertahankan tradisi di tengah perubahan zaman juga menghadirkan tantangan. Ike menilai generasi muda kini menjadi tantangan sekaligus peluang. Ia mulai menyesuaikan cara berkomunikasi agar jamu lebih dekat dengan Gen Z, termasuk melalui bahasa promosi di media sosial yang lebih akrab dengan keseharian mereka. Pendekatan kebutuhan konsumen, seperti keluhan stres atau badan mudah lelah yang kerap disebut Gen Z dengan istilah “remaja jompo”, juga digunakan untuk memperkenalkan jamu.

Fenomena ini menunjukkan jamu sebagai warisan budaya tak benda tidak bersifat kaku. Nilainya terletak pada pengetahuan, proses, dan praktik yang terus dilestarikan—baik melalui dapur tradisional, inovasi minuman modern, maupun cara komunikasi yang mengikuti zaman. Dari peracikan manual hingga café rempah, jamu menemukan cara baru untuk bertahan dan kembali mendapat tempat di kalangan penikmat muda.