BERITA TERKINI
Jahe dalam Menu Harian: Lima Manfaat yang Disebut Ahli Diet, dari Redakan Nyeri hingga Kurangi Mual

Jahe dalam Menu Harian: Lima Manfaat yang Disebut Ahli Diet, dari Redakan Nyeri hingga Kurangi Mual

Jahe kerap digunakan sebagai rempah untuk menambah rasa pada makanan. Selain itu, jahe juga dikenal mengandung antioksidan serta sejumlah nutrisi, mineral, dan vitamin. Rempah ini telah lama dimanfaatkan dalam praktik pengobatan Timur sejak abad ke-9.

Ahli diet Candace O’Neill RD, LDN, menjelaskan jahe relatif mudah ditambahkan ke menu sehari-hari dan tidak perlu digunakan dalam jumlah banyak. Menurutnya, jahe segar kerap digambarkan memiliki rasa pedas-manis, sedangkan jahe kering cenderung lebih pedas.

Jahe bisa dibeli dalam bentuk segar, kering, atau bubuk. Akar jahe juga dapat diparut atau digiling sendiri di rumah sesuai kekentalan yang diinginkan. O’Neill menyebut jahe tersedia dalam beberapa pilihan di toko bahan makanan, termasuk dalam bentuk akar, jahe kering, acar jahe, maupun jahe dalam keju.

Selain digunakan sebagai bumbu, teh jahe juga disebut menawarkan manfaat kesehatan, terutama ketika seseorang merasa mual atau mengalami peradangan. O’Neill menilai, bagi orang yang mengkhawatirkan kondisi peradangan seperti radang sendi, minum teh jahe bisa menjadi pilihan yang lebih menguntungkan.

Berikut lima manfaat jahe yang disebutkan:

1. Membantu meredakan nyeri
Jahe segar mengandung senyawa gingerol yang memiliki sifat antioksidan dan dapat mengurangi enzim pemicu peradangan. Karena itu, jahe disebut bermanfaat untuk kondisi terkait peradangan dan membantu meredakan nyeri, terutama pada kram menstruasi serta kondisi berbasis artritis.

O’Neill mencontohkan, dalam uji klinis jahe menunjukkan harapan dalam membantu mengurangi nyeri lutut terkait osteoartritis. Ia juga menjelaskan, jahe kering tetap memiliki senyawa antiinflamasi, namun gingerol dapat berubah bentuk saat dipanaskan menjadi senyawa lain yang dinilai tidak seefektif. O’Neill menambahkan, jahe lebih sering dikaitkan dengan penghilang nyeri jangka panjang dibandingkan efek cepat.

2. Membantu mengatur gula darah
Gingerol juga disebut berperan dalam menjaga kadar gula darah tetap stabil, yang ditujukan untuk membantu mengendalikan dampak kesehatan jangka panjang pada diabetes tipe 2. Jahe dikatakan dapat mengurangi enzim yang memecah karbohidrat sehingga membantu metabolisme glukosa.

Pada diabetes tipe 2, tubuh sering tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk membantu glukosa beredar ke seluruh tubuh dan tidak menumpuk di aliran darah. Jahe disebut dapat membantu mengatur kondisi tersebut.

3. Mengurangi rasa mual
Konsumsi jahe segar disebut dapat membantu berbagai jenis mual, termasuk mual di pagi hari, mabuk perjalanan, hingga efek samping dari beberapa regimen kemoterapi. Jahe diduga membantu dengan meningkatkan pergerakan makanan melalui saluran pencernaan (motilitas lambung) serta memblokir reseptor serotonin di lapisan usus.

4. Berpotensi menurunkan kolesterol
Sebuah studi menemukan, orang yang mengonsumsi pil jahe setiap hari mengalami penurunan trigliserida, kolesterol total, dan kolesterol jahat (LDL) setelah 45 hari dibandingkan kelompok plasebo. Meski demikian, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memperkuat temuan ini.

5. Berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri
Sejumlah penelitian menemukan unsur tertentu dalam jahe, seperti gingerol, diduga memiliki sifat antibakteri. Namun, kesimpulan yang pasti masih memerlukan penelitian lebih lanjut.