BERITA TERKINI
Industri Semen Tertekan, Semen Merah Putih Perkuat Strategi Keberlanjutan dan Green Cement

Industri Semen Tertekan, Semen Merah Putih Perkuat Strategi Keberlanjutan dan Green Cement

JAKARTA — PT Cemindo Gemilang Tbk melalui merek Semen Merah Putih menegaskan agenda keberlanjutan sebagai bagian integral dari strategi bisnis untuk menjaga daya saing di industri material konstruksi. Langkah ini ditempuh di tengah tekanan pasar, kondisi oversupply, serta meningkatnya tuntutan efisiensi dan regulasi lingkungan.

Di saat utilisasi industri semen nasional masih rendah, tingkat pemanfaatan kapasitas produksi pada 2025 berada di kisaran 54% dengan kelebihan kapasitas lebih dari 56 juta ton. Dalam situasi tersebut, Semen Merah Putih menyatakan mengadopsi pendekatan sistemik dengan memperkuat praktik berkelanjutan sebagai fondasi bisnis ke depan, meliputi efisiensi energi, optimalisasi proses produksi dan logistik, serta pengembangan portofolio green cement yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan arah kebijakan pembangunan nasional.

Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk Surindro Kalbu Adi mengatakan keberlanjutan tidak lagi ditempatkan sebagai inisiatif tambahan, melainkan bagian dari cara industri beroperasi saat ini.

“Sustainability kami posisikan sebagai bagian dari cara industri bekerja hari ini, bukan sekadar inisiatif tambahan. Di Semen Merah Putih, praktik sustainability dibagi dalam empat pilar: process, product, people, dan planet. Pendekatan ini penting agar strategi keberlanjutan lebih holistik dan terintegrasi dalam mendukung pembangunan nasional tanpa mengorbankan kualitas,” ujarnya dalam konferensi pers Sustainability Business Updates 2026 di Jakarta, Jumat (23/1).

Perusahaan menyebut pendekatan tersebut turut mendorong kinerja, dengan pertumbuhan sekitar 4,2% di relevant area sepanjang 2025, di tengah perlambatan permintaan semen secara nasional. Pada periode 2024–2025, volume penjualan semen domestik tercatat menurun sekitar 1,5%, dari sekitar 64,95 juta ton pada 2024 menjadi 63,85 juta ton pada 2025.

Penurunan penjualan terjadi di hampir seluruh wilayah seiring melambatnya proyek infrastruktur dan konstruksi, termasuk perlambatan proyek Ibu Kota Nusantara. Pertumbuhan positif disebut hanya terjadi di wilayah Indonesia bagian timur.

Efisiensi sebagai fondasi ketahanan operasional

Semen Merah Putih juga menekankan penguatan efisiensi energi sebagai fondasi ketahanan operasional. Perusahaan mengoperasikan Waste Heat Recovery System (WHRS) berkapasitas total 2 x 15 MW di Indonesia dan 13 MW di Vietnam. Sistem ini diklaim mampu menyuplai sekitar 24% kebutuhan energi produksi klinker serta menurunkan emisi sekitar 100 ribu ton CO2 per tahun.

Sepanjang 2016–2024, perusahaan menyatakan berhasil menurunkan intensitas emisi karbon sekitar 21% per ton semen melalui efisiensi energi, optimalisasi premix yang menurunkan konsumsi energi hingga 3 kWh per ton klinker, serta pemanfaatan bahan baku alternatif seperti fly ash lokal.

Efisiensi juga diterapkan di sektor logistik melalui penggunaan 17 unit truk listrik di area quarry dan 23 forklift listrik. Secara agregat, langkah ini diklaim berkontribusi menurunkan emisi sekitar 8.500 ton CO2 per tahun.

Di luar aspek proses dan produk, perusahaan turut mengembangkan inovasi seperti MPTree, solusi penyerapan karbon berbasis mikroalga yang telah diuji melalui prototipe di pabrik Jatiasih dan direncanakan untuk diperluas ke ruang publik serta area transportasi.

Green cement dan inovasi produk

Strategi efisiensi tersebut diterjemahkan ke dalam pengembangan produk melalui portofolio green cement, antara lain FLEXIPLUS, ECOPRO, Semen Patriot, dan Watershield. Produk-produk ini disebut dirancang dengan jejak karbon lebih rendah sekaligus menawarkan nilai tambah pada performa konstruksi.

Saat ini, porsi produk non-OPC dalam portofolio Semen Merah Putih telah mencapai 81%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri yang masih berada di kisaran 71%. Perusahaan juga menyatakan seluruh produknya telah mengantongi sertifikasi Green Label Indonesia (GBCI), dengan mayoritas berada pada peringkat Platinum.