Pemerintah Kota Ho Chi Minh menyebut kota tersebut saat ini menjadi pusat pengolahan makanan terbesar di Vietnam. Wakil Ketua Tetap Komite Rakyat Kota Ho Chi Minh Nguyen Loc Ha mengatakan sektor ini menyumbang sekitar 30–35% nilai produksi kawasan ekonomi utama Selatan, sekaligus berkontribusi 14–15% terhadap total nilai produksi industri kota.
Menurut Ha, pada kuartal pertama 2026 ekonomi Kota Ho Chi Minh tumbuh 8,27%, yang disebut sebagai tingkat tertinggi untuk periode yang sama dalam lima tahun terakhir. Di saat yang sama, sektor makanan dan minuman mencatat kenaikan 12% pada Indeks Produksi Industri (IPM), menempati peringkat kedua di antara sektor industri dan dinilai mencerminkan pemulihan serta perkembangan yang positif.
Namun, Ha menilai capaian pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan tantangan yang dihadapi pelaku usaha. Tekanan terbesar datang dari kenaikan biaya input, terutama harga bahan baku, biaya logistik, serta biaya untuk memenuhi standar yang kian ketat.
Di tengah pasar internasional yang memperketat persyaratan kualitas, ketertelusuran, dan pembangunan berkelanjutan, banyak perusahaan—terutama usaha kecil dan menengah—menghadapi kesulitan menjaga stabilitas pesanan. Kondisi ini mendorong bisnis untuk terus meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus mencari pasar baru guna mengurangi ketergantungan.
Ketua Asosiasi Makanan dan Minuman Kota Ho Chi Minh, Ly Kim Chi, menyatakan tantangan tidak hanya terkait biaya, tetapi juga tuntutan untuk memenuhi berbagai standar internasional secara bersamaan. Ia menyebut perusahaan perlu berinvestasi besar pada teknologi, pengendalian mutu, dan sistem ketertelusuran, sementara margin keuntungan semakin menyusut. Menurutnya, tanpa dukungan dan koneksi pasar, menjaga daya saing jangka panjang menjadi semakin sulit.
Kim Chi menggambarkan banyak bisnis berada dalam kondisi “berjalan dan beradaptasi”, yakni tetap mempertahankan produksi sambil meningkatkan sistem internal agar sesuai dengan persyaratan baru. Situasi ini dinilai menambah tekanan finansial dan kebutuhan sumber daya, terutama ketika persaingan semakin ketat.
Dalam konteks tersebut, Kim Chi menilai penguatan promosi perdagangan, penghubung penawaran dan permintaan, serta penyelenggaraan pameran industri makanan menjadi solusi penting. Melalui kegiatan semacam itu, pelaku usaha berpeluang bertemu langsung dengan pembeli, mencari mitra, dan memperluas pasar ekspor.
Ha mengatakan pemerintah kota tengah menerapkan sejumlah langkah dukungan, termasuk perbaikan lingkungan bisnis, dorongan transformasi digital, penguatan koneksi pasar, serta bantuan akses permodalan. Ia menyebut upaya ini ditujukan untuk membantu perusahaan meningkatkan daya saing dan beradaptasi dengan tuntutan pasar yang baru. Ha juga menekankan pentingnya kerja sama erat antara industri dan pemerintah kota untuk mengatasi kesulitan, memperluas pasar, serta meningkatkan nilai produk demi mendorong ekspor yang berkelanjutan.
Sejalan dengan upaya tersebut, Pameran Makanan dan Minuman Internasional Kota Ho Chi Minh ke-5, HCMC FOODEX 2026, digelar pada 15–18 April di Saigon Exhibition and Convention Center (SECC). Mengusung tema “Cita Rasa Global – Nilai-Nilai Vietnam”, acara ini diselenggarakan oleh Komite Rakyat Kota Ho Chi Minh dan diorganisir oleh Pusat Promosi Perdagangan dan Investasi Kota Ho Chi Minh (ITPC). Pameran menghadirkan sekitar 350 bisnis dengan hampir 500 stan dari lebih 20 provinsi dan kota, serta sejumlah negara dan wilayah, dan disebut menjadi ajang pertemuan perdagangan skala besar bagi industri makanan.

