Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak generasi muda untuk kembali mencintai kuliner lokal sekaligus membangun kesadaran berpikir kritis sebagaimana yang diajarkan para pendiri bangsa, khususnya Presiden pertama RI Soekarno.
Pernyataan itu disampaikan Hasto saat berada di Surabaya. Ia mengatakan, setiap berkunjung ke daerah ia selalu memanfaatkan kesempatan untuk mengenal dan menikmati makanan khas setempat. Menurutnya, kebiasaan tersebut sejalan dengan pemikiran Bung Karno yang menyusun buku Mustika Rasa, yang ia sebut sebagai karya monumental tentang kekayaan kuliner Nusantara.
“Bung Karno menyusun Mustika Rasa hampir enam tahun. Itu bukan sekadar buku resep, tetapi upaya revolusioner agar lidah dan perut bangsa Indonesia tidak terjajah makanan impor,” kata Hasto.
Hasto menjelaskan, buku tersebut merangkum keragaman makanan, bumbu, hingga kandungan gizi yang disebut telah diteliti secara ilmiah. Ia menilai konsepnya dirancang agar rakyat, terutama kelompok marjinal di negara agraris seperti Indonesia, dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga secara mandiri.
Ia mencontohkan perhitungan kebutuhan karbohidrat, protein, dan vitamin bagi satu keluarga Marhaen, termasuk opsi pengganti beras serta sumber protein dan vitamin dari bahan pangan sekitar. “Di situ sudah dihitung kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin untuk satu keluarga Marhaen. Beras bisa diganti ketela atau cantel, proteinnya dari tahu, tempe, telur, vitaminnya dari tanaman sekitar. Itu luar biasa,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Hasto juga menilai kuliner lokal Indonesia memiliki kekuatan untuk bersaing dengan jaringan makanan cepat saji global. Ia menyebut sejumlah contoh makanan yang tetap diminati masyarakat, seperti Bebek Sinjay, warteg, dan rawon.
“Makanan lokal ini bagian dari politik strategis Bung Karno dan Ibu Mega. Ini bukan soal nostalgia, tetapi kedaulatan,” tuturnya.
Selain membahas kuliner, kedatangan Hasto ke Surabaya juga untuk menghadiri public lecture yang digagas kalangan muda PDI Perjuangan. Ia menilai forum semacam itu penting untuk menggugah kesadaran kritis generasi muda di tengah tantangan global dan krisis kepemimpinan demokrasi.

