Harga perak dunia tengah berada di level tinggi dan bergerak cepat, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri yang menggunakan logam tersebut sebagai bahan baku. Reli perak tidak hanya menarik minat investor, tetapi juga mulai menekan sektor-sektor manufaktur yang bergantung pada perak, mulai dari panel surya hingga elektronik.
Pada perdagangan terbaru, harga spot perak di pasar global berada di kisaran USD94–95 per ons troy, atau sekitar Rp1,58–Rp1,60 juta per ons dengan asumsi kurs Rp16.800. Level ini mendekati rekor tertinggi sepanjang sejarah. Secara kinerja, perak dilaporkan naik sekitar 26% sepanjang 2026 dan lebih dari 200% dibandingkan setahun lalu, meski sempat berfluktuasi dalam jangka pendek akibat aksi ambil untung.
Di Indonesia, harga perak yang mengacu pada pasar global tercatat di kisaran Rp51.700–Rp52.000 per gram, sejalan dengan tren penguatan internasional. Kenaikan ini ditopang aliran dana investor ke aset safe haven, pasokan global yang ketat, serta permintaan industri—terutama dari sektor energi surya dan teknologi. Namun, sebagian analis mulai mengingatkan bahwa harga yang terlalu tinggi berisiko memicu penyesuaian jika permintaan industri melemah.
Saxo Bank menilai reli perak yang “membara” berpotensi mendorong industri mengurangi konsumsi atau mencari substitusi. Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menyatakan bahwa pada tingkat harga tertentu, pabrikan dan pengguna akhir tidak lagi mampu menyerap kenaikan biaya. Ia menyebut industri pada umumnya akan dihadapkan pada tiga opsi: menaikkan harga jual dengan risiko kehilangan pasar, memangkas pembelian, atau mengganti perak dengan bahan yang lebih murah.
Tekanan ini dinilai penting karena perak bukan sekadar aset investasi, melainkan juga komponen utama dalam berbagai produk industri, termasuk panel surya, perangkat elektronik, dan chip yang menopang perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Dengan posisi tersebut, lonjakan harga perak berpotensi merembes dari pasar ke rantai pasok global.
Berbeda dengan emas yang lebih dominan sebagai instrumen lindung nilai, perak berada di persimpangan antara logam mulia dan komoditas industri. Selain terdorong sentimen perlindungan nilai—seperti kekhawatiran inflasi, geopolitik, dan ketidakpastian global—perak juga dipengaruhi tren jangka panjang seperti elektrifikasi, energi surya, dan pertumbuhan industri elektronik. Kombinasi ini membuat perak lebih sensitif terhadap guncangan pasokan.
Lonjakan harga juga disebut dipengaruhi dinamika pasar fisik. Tahun lalu, terjadi short squeeze fisik di London ketika persediaan menipis secara tidak biasa. Kondisi tersebut dipicu arus besar logam yang mengalir ke gudang-gudang di Amerika Serikat di tengah kekhawatiran tarif, sehingga stok yang menipis bertemu lonjakan permintaan.
Dari Asia, tekanan turut datang seiring produksi berlebih di China dan persaingan industri yang ketat dalam beberapa tahun terakhir yang mendorong permintaan perak dan input industri lainnya. Namun, dengan harga perak yang sempat disebut berada di kisaran USD91 per ons, sebagian konsumen industri mulai menyesuaikan penggunaan, termasuk dengan mengurangi pemakaian atau mencari alternatif.
Langkah substitusi mulai terlihat pada industri panel surya. Dua produsen besar asal China, Longi Green Energy Technology dan Jinko Solar, menyatakan akan mulai menggantikan sebagian penggunaan perak dengan logam dasar yang lebih murah. Sinyal ini dipandang sebagai indikasi bahwa tekanan harga telah memasuki tahap yang semakin sulit ditanggung bagi pelaku industri.
Meski begitu, dampaknya diperkirakan tidak langsung tercermin pada pergerakan harga. Hansen menilai perlambatan pembelian dan pemanfaatan stok lama dapat memerlukan waktu sebelum terlihat jelas dan cukup kuat untuk mengubah narasi reli perak. Ia mengingatkan bahwa setiap reli memiliki batas, dan untuk perak, batas tersebut berpotensi datang dari penurunan permintaan industri.
Perkembangan ini menjadi pengingat bahwa kenaikan harga komoditas tidak hanya ditentukan sentimen pasar, tetapi juga kemampuan sektor riil menyerap biaya. Ketika pabrikan mulai menghitung ulang dan menyesuaikan komposisi bahan baku, arah pergerakan pasar perak dapat menghadapi perubahan.

