BERITA TERKINI
Harga Perak Berfluktuasi, Perajin Celuk Tunda Produksi dan Kesulitan Tetapkan Harga Jual

Harga Perak Berfluktuasi, Perajin Celuk Tunda Produksi dan Kesulitan Tetapkan Harga Jual

Kenaikan harga perak dunia berdampak langsung pada aktivitas perajin perak di Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Fluktuasi harga bahan baku yang terjadi dalam waktu singkat membuat banyak perajin memilih menunda pengerjaan pesanan karena kesulitan menyesuaikan harga jual.

Perbekel Desa Celuk, I Nyoman Rupadana, yang juga perajin perak, menilai situasi ini berisiko merugikan perajin sekaligus menurunkan kepercayaan pelanggan. Ia menyampaikan hal tersebut pada Minggu (25/1/2026).

“Karena bahan baku perak harganya naik turun. Kalau sekarang kita jual sekian, besoknya naik lagi, jadi tidak baik buat customer. Kita bisa kehilangan customer atau malah rugi,” ujar Rupadana.

Ketidakpastian harga ini turut memukul keberlangsungan kerja perajin dan tenaga kerja. Rupadana menyebut banyak perajin dan pekerja terpaksa menganggur, terutama perajin skala kecil yang selama ini bergantung pada pasokan bahan baku dari pedagang pengecer di toko-toko sekitar Celuk maupun Denpasar.

Rupadana berharap kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dapat membantu perajin skala kecil memperoleh bahan baku dengan harga yang lebih stabil. Ia juga menyebut opsi pembelian langsung ke perusahaan tambang PT Antam sebagai salah satu langkah yang bisa difasilitasi.

Ia menilai sebagian perajin tidak selalu memantau harga perak secara teliti sehingga kerap kesulitan mengambil keputusan saat terjadi perbedaan harga antara pasar, pengecer, dan produsen. “Sering kali perajin tidak tahu dan tidak memantau harga perak dengan teliti. Pernah kejadian, ketika di pasar harganya murah, di Antam justru naik, dan sebaliknya. Ketidakpastian harga di pasar, pengecer, dan produsen inilah yang membuat perajin bingung,” tuturnya.

Saat ini harga bahan baku perak berada di kisaran Rp35.000 per gram, setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp45.000 per gram. Kenaikan harga tersebut terjadi sejak akhir 2025, sekitar November. Sebelumnya, pada Oktober 2025, harga bahan baku perak masih berada di angka Rp17.000 per gram.

Harga Rp17.000 per gram itu bertahan cukup lama dan menjadi patokan perajin dalam menentukan harga jual. Namun, perubahan harga yang kini terjadi lebih cepat membuat perajin kesulitan menetapkan harga produk, terutama untuk pesanan yang membutuhkan waktu pengerjaan tertentu.

Menurut Rupadana, kenaikan harga perak diduga dipicu meningkatnya permintaan global seiring pemanfaatannya yang tidak hanya untuk perhiasan, tetapi juga kebutuhan industri elektronika. Ia juga mengaku mendengar informasi bahwa harga perak di luar negeri lebih murah dibandingkan di Indonesia, meskipun Indonesia memiliki sumber tambang perak.

Rupadana menjelaskan, perajin perak di Desa Celuk terbagi dalam tiga kluster penjualan. Pertama, perajin yang membuka toko sendiri. Kedua, perajin yang menjual produk ke wholesaler atau pembeli partai besar. Ketiga, perajin yang memproduksi perhiasan berdasarkan pesanan langsung dari konsumen maupun toko-toko.

Ia menambahkan, selama ini sekitar 70 persen peminat perhiasan perak Celuk berasal dari warga negara asing, sementara pasar domestik sekitar 30 persen. Produk perhiasan perak Celuk sebagian besar diekspor ke Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Australia.