Harga kopi di pasar dunia menguat tajam pada akhir sesi perdagangan pekan ini, didorong kekhawatiran pasokan global serta faktor keuangan. Di bursa London, kopi Robusta untuk pengiriman Januari 2026 melonjak US$176 menjadi US$4.332 per ton. Sementara di bursa New York, kopi Arabica untuk pengiriman Maret 2026 naik 3,20 sen menjadi 350,90 sen per pon.
Kenaikan harga dipicu oleh kekhawatiran berkurangnya pasokan. Di Brasil, cuaca yang tidak menguntungkan dan laju ekspor yang lebih lambat dari perkiraan mengurangi ketersediaan kopi di pasar. Untuk Robusta, sikap penjualan yang lebih hati-hati di negara produsen utama seperti Vietnam turut memperketat pasokan jangka pendek.
Selain faktor fundamental, aliran modal spekulatif dan melemahnya dolar AS juga disebut mendukung penguatan harga. Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan tetap sangat fluktuatif dan bergantung pada perkembangan cuaca serta aksi ambil untung oleh dana investasi.
Di pasar domestik Vietnam, harga kopi di sejumlah wilayah tercatat bervariasi. Di Di Linh, Bao Loc, dan Lam Ha (Provinsi Lam Dong), harga berada di level 100.500 VND/kg. Di Gia Nghia diperdagangkan 101.000 VND/kg, sedangkan di Dak R'lap 100.900 VND/kg.
Di Provinsi Dak Lak, harga di distrik Cu M'gar mencapai 100.900 VND/kg, sementara di Ea H'leo dan Buon Ho berada di 100.800 VND/kg. Di Provinsi Gia Lai, wilayah Chu Prong tercatat 100.800 VND/kg, sedangkan Pleiku dan La Grai bertahan di 100.700 VND/kg.
Sementara itu, pasar beras di Delta Mekong secara umum stabil sepanjang pekan lalu dengan fluktuasi kecil. Di pasar beras Asia, aktivitas perdagangan relatif tenang di tengah persaingan yang kian ketat antarnegeri pengekspor.
Harga beras pecah 5% dari Vietnam dilaporkan tetap di kisaran US$360–US$365 per ton di tengah ketidakpastian permintaan. Meski data bea cukai menunjukkan ekspor yang relatif baik pada paruh pertama Januari 2026, pelaku pasar masih mencermati keberlanjutan permintaan ke depan. Secara spesifik, ekspor beras Vietnam pada semester pertama 2026 mencapai lebih dari 318.200 ton dengan nilai hampir US$149,8 juta.
Di tingkat domestik, Institut Strategi dan Kebijakan Pertanian dan Lingkungan mencatat harga sejumlah varietas beras di Can Tho tidak berubah dibanding pekan sebelumnya: beras melati 8.400 VND/kg, IR 5451 6.200 VND/kg, ST25 9.400 VND/kg, dan OM 18 6.600 VND/kg.
Di Dong Thap, IR 50404 masih 7.000 VND/kg dan OM 18 7.100 VND/kg. Di Vinh Long, OM 5451 tercatat 6.700 VND/kg dan OM 4900 7.200 VND/kg. Di An Giang, harga beras segar juga stabil, antara lain OM 18 dan Dai Thom 8 di kisaran 6.300–6.500 VND/kg, OM 5451 5.600–5.800 VND/kg, serta IR 50404 5.500–5.600 VND/kg.
Untuk pasar ritel di An Giang, harga beras dilaporkan tidak banyak berubah: beras biasa 12.000–13.000 VND/kg, beras wangi Thailand 20.000–22.000 VND/kg, beras melati 14.000–15.000 VND/kg, beras putih 16.000 VND/kg, beras Nang Hoa 21.000 VND/kg, beras Huong Lai 22.000 VND/kg, beras wangi Taiwan 20.000 VND/kg, beras Soc biasa 17.000 VND/kg, beras Soc Thailand 20.000 VND/kg, dan beras Jepang 22.000 VND/kg.
Di kawasan Asia, pasar beras pekan lalu cenderung lesu di tengah persaingan harga. Di India, harga beras ekspor turun tipis seiring depresiasi rupee dan permintaan yang lemah. Beras parboiled pecah 5% ditawarkan di kisaran US$351–US$356 per ton, turun dari US$353–US$358 per ton pada pekan sebelumnya. Seorang eksportir di Kolkata menyebut pelemahan rupee menekan harga, sementara pembeli masih ragu melakukan pemesanan besar.
Di Thailand, harga beras pecah 5% naik tipis menjadi US$380 per ton. Namun, seorang pedagang di Bangkok menilai level tersebut masih rendah dan menghadapi tekanan dari penawaran India yang lebih murah. Ia juga menyebut pasar relatif sepi, dengan pembeli dari Filipina cenderung bertransaksi untuk kebutuhan pokok.
Penilaian awal bulan ini memperkirakan harga beras global tetap berada di bawah tekanan pada 2026. Kondisi tersebut dikaitkan dengan persaingan di antara produsen utama—termasuk India, Thailand, dan Vietnam—untuk mengekspor kelebihan pasokan, sehingga pembeli cenderung menunda pembelian.
Di pasar biji-bijian AS, harga komoditas pertanian di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat pada 23 Januari seiring gelombang dingin parah di AS dan sejumlah wilayah dunia yang memunculkan kekhawatiran kerusakan tanaman serta gangguan operasi pabrik pengolahan.
Pada penutupan perdagangan Jumat, kontrak gandum Maret 2026 naik 14 sen menjadi US$5,295 per bushel. Kontrak kedelai untuk periode yang sama naik 3,75 sen menjadi US$10,6775 per bushel, sementara jagung naik 6,5 sen menjadi US$4,305 per bushel.
Menurut situs perdagangan komoditas pertanian AgMarket.net, suhu rendah di AS mengganggu operasi pabrik pengolahan dan menimbulkan kekhawatiran kerusakan pada lahan pertanian yang tidak terlindungi dari embun beku. Kekhawatiran cuaca juga muncul di wilayah lain: kekeringan di Argentina selatan memengaruhi tanaman jagung dan kedelai, sedangkan gelombang dingin berkepanjangan di Rusia meningkatkan risiko pada tanaman gandum. Perusahaan konsultan Sovecon menyatakan dapat memangkas perkiraan produksi Rusia jika cuaca dingin terus berlanjut.

