BERITA TERKINI
Harga Kopi dan Lada 24 Januari 2026: Robusta Melemah, Arabika Menguat Tipis; Lada Berbalik Naik

Harga Kopi dan Lada 24 Januari 2026: Robusta Melemah, Arabika Menguat Tipis; Lada Berbalik Naik

Pergerakan harga komoditas pertanian pada 24 Januari 2026 menunjukkan arah yang berbeda antara kopi dan lada. Di pasar kopi, robusta melemah mengikuti perdagangan internasional, sementara arabika menguat tipis. Di sisi lain, harga lada di pasar domestik tercatat pulih setelah periode pergerakan yang cenderung mendatar.

Pada penutupan perdagangan 23 Januari, harga kopi robusta di bursa London untuk pengiriman Maret 2026 turun 1,27% atau US$52 per ton menjadi US$4.026 per ton. Kontrak Mei 2026 juga melemah 1,02% atau US$41 per ton ke level US$3.943 per ton.

Berbeda dengan robusta, kopi arabika di bursa New York bergerak naik tipis. Kontrak Maret 2026 meningkat 0,06% menjadi 347,7 sen AS per pon, sementara kontrak Mei 2026 naik 0,15% menjadi 331,3 sen AS per pon.

Di pasar domestik, survei di wilayah penghasil kopi utama menunjukkan harga di Dataran Tinggi Tengah pagi ini turun 700–900 VND/kg dibandingkan sesi sebelumnya, dengan kisaran umum 98.800–99.300 VND/kg. Penurunan ini dinilai selaras dengan melemahnya harga robusta di London.

Di Dak Nong, harga beli turun paling tajam, yakni 900 VND/kg menjadi 99.300 VND/kg. Di Dak Lak dan Gia Lai, harga turun 800 VND/kg menjadi 99.200 VND/kg. Sementara itu, Lam Dong tetap menjadi wilayah dengan harga terendah, 98.800 VND/kg, turun 700 VND/kg.

Secara umum, penurunan harga kopi disebut lebih bersifat teknis setelah periode kenaikan yang cepat, dan belum cukup menjadi dasar untuk menetapkan tren penurunan yang dalam. Di saat harga turun, pasokan yang dilepas ke pasar domestik juga tidak meningkat secara sebanding.

Menurut Reuters, banyak eksportir masih aktif membeli, sementara pasokan dari petani terbatas. Seorang pedagang di wilayah utama menyebut petani cenderung menjual dalam jumlah kecil karena berharap harga lebih tinggi dan menilai level saat ini belum cukup menarik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi pasar, keterbatasan pasokan ini dinilai membuat robusta berpeluang mengalami koreksi jangka pendek, namun penurunan besar dianggap tidak mungkin terjadi. Dalam beberapa pekan terakhir, meski terjadi koreksi, harga robusta tetap bertahan di kisaran US$4.000 per ton.

Kondisi penjualan yang lambat juga terjadi di sejumlah negara pemasok. Di Kolombia, petani membatasi ekspor seiring apresiasi peso yang menekan keuntungan saat dikonversi ke dolar AS. Peso Kolombia disebut berada di level tertinggi dalam hampir lima tahun, sehingga kopi Kolombia menjadi kurang kompetitif dibanding sumber lain.

Pasar turut mencermati data dari India. Dewan Kopi India memproyeksikan ekspor kopi 2025 turun 4,47% menjadi sekitar 384.000 ton, namun nilainya diperkirakan naik 22,5% hingga melampaui US$2 miliar. Kondisi “volume turun tetapi nilai meningkat” ini dinilai mencerminkan dampak tingginya harga global, sekaligus memperkuat pandangan bahwa reli harga kopi masih berlanjut meski fluktuasi jangka pendek tetap mungkin terjadi.

Sementara itu, harga lada di pasar domestik tercatat pulih. Survei pasar menunjukkan harga hari ini naik seragam 500–1.000 VND/kg dibandingkan sesi sebelumnya, dengan rata-rata perdagangan berada di kisaran 148.000–149.000 VND/kg.

Wilayah Tenggara masih memimpin, dengan Ba Ria–Vung Tau mencatat kenaikan terkuat, naik 1.000 VND/kg menjadi 149.000 VND/kg dan menjadi level tertinggi nasional. Di Dataran Tinggi Tengah, Dak Lak dan Dak Nong berada di sekitar 149.000 VND/kg setelah naik 500 VND/kg. Gia Lai naik 500 VND/kg menjadi 148.500 VND/kg, sedangkan Dong Nai mencapai 148.000 VND/kg, juga naik 500 VND/kg dan menjadi yang terendah di antara provinsi penghasil utama.

Di pasar internasional, harga lada secara umum stabil, namun sinyal positif datang dari Indonesia. Asosiasi Lada Internasional mencatat harga lada hitam Indonesia naik tipis menjadi US$6.662 per ton, memunculkan sentimen positif di tengah belum adanya tanda surplus pasokan global.

Di negara pengekspor utama lain, harga cenderung tidak berubah. Lada hitam ASTA 570 Brasil bertahan di kisaran US$6.000 per ton, sementara lada hitam Malaysia tetap berada di level tinggi sekitar US$9.000 per ton.

Untuk Vietnam, harga ekspor lada sebagian besar tidak berubah dibanding sesi sebelumnya. Lada hitam (500 g/l dan 550 g/l) berfluktuasi di rentang US$6.400–US$6.600 per ton. Di segmen lada putih, Muntok Indonesia naik menjadi US$9.106 per ton, sedangkan lada putih Vietnam dan Malaysia masing-masing berada di US$9.150 per ton dan US$12.000 per ton.

Kenaikan harga domestik yang tidak terlalu besar ini dinilai penting karena terjadi setelah periode pergerakan yang relatif datar. Ketika tekanan jual mereda, kenaikan permintaan yang kecil dari pelaku usaha atau pedagang dapat mendorong harga berbalik naik.

Ke depan, Departemen Impor-Ekspor Kementerian Perindustrian dan Perdagangan memperkirakan harga lada pada 2026 cenderung tetap tinggi dan berpeluang naik, didorong pasokan yang berkurang, persediaan rendah, dan permintaan yang stabil. Produksi lada global diproyeksikan menurun 15–20% akibat cuaca yang tidak menguntungkan, meningkatnya biaya input, serta tren penyusutan lahan tanam di sejumlah negara penghasil.

Namun, harga tinggi disebut tidak otomatis membuat ekspor berjalan mulus. Pelaku usaha masih menghadapi keterbatasan bahan baku, meningkatnya biaya kepatuhan, serta hambatan teknis yang makin ketat dari pasar pengimpor. Dengan demikian, persaingan industri lada pada 2026 tidak hanya terkait harga, tetapi juga kualitas, ketelusuran, dan kemampuan memenuhi standar internasional.