Harga kopi pada 22 Januari kembali menguat di pasar berjangka, dengan robusta di bursa London mencatat kenaikan tajam dan mencapai level tertinggi dalam lima minggu.
Di bursa London, kontrak kopi robusta pengiriman Januari 2026 naik US$127 per ton atau 3,08% menjadi US$4.253 per ton. Kontrak Maret 2026 menguat US$137 per ton atau 3,48% menjadi US$4.078 per ton, sementara kontrak Mei 2026 naik US$120 per ton atau 3,11% menjadi US$3.984 per ton. Kontrak robusta lainnya juga tercatat meningkat di kisaran US$91–104 per ton.
Sementara itu di bursa New York, harga kopi arabika juga bergerak naik. Kontrak pengiriman Maret 2026 bertambah 1 sen AS per pon atau 0,29% menjadi 347,5 sen AS per pon. Kontrak Mei 2026 naik 0,9 sen AS per pon menjadi 330,8 sen AS per pon. Kenaikan pada kontrak lainnya berada di kisaran 0,35–0,7 sen AS per pon.
Menurut Barchart, penurunan ekspor kopi Brasil turut menopang harga. Data Cecafe menunjukkan total ekspor kopi hijau Brasil pada Desember turun 18,4% menjadi 2,86 juta karung. Dari jumlah tersebut, ekspor arabika tercatat turun 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 2,6 juta karung, sedangkan ekspor robusta merosot 61% menjadi 222.147 karung.
Harga arabika juga dilaporkan pulih dari titik terendah empat minggu pada Rabu dan berbalik menguat. Pergerakan ini didorong aktivitas penutupan posisi jual (short covering) di pasar berjangka, seiring penguatan real Brasil ke level tertinggi dalam 1,5 bulan terhadap dolar AS. Penguatan mata uang tersebut disebut membuat produsen kopi Brasil kurang terdorong untuk mengekspor.
Di sisi lain, prakiraan hujan di wilayah penghasil kopi Brasil sepanjang pekan ini meredakan kekhawatiran kekeringan yang sebelumnya memberi tekanan pada harga. The Weather Channel memperkirakan hujan turun setiap hari minggu ini di Minas Gerais, wilayah penghasil kopi arabika terbesar di Brasil.

