Rasa jengkel dan marah dapat muncul dalam situasi sehari-hari. Dalam penjelasan yang dikaitkan dengan pandangan Gus Baha, terdapat sejumlah langkah yang ditekankan untuk membantu seseorang meredakan emosi, terutama dengan menguatkan kemampuan mengendalikan diri dan memperbanyak doa.
Salah satu langkah yang disorot adalah mengendalikan diri. Pengendalian diri disebut sebagai keterampilan emosional penting untuk menjaga hubungan yang sehat dan produktif dengan orang lain. Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah berhenti sejenak ketika emosi memuncak, lalu mengambil napas dalam-dalam. Menghirup dan menghembuskan napas secara perlahan dinilai dapat membantu menenangkan sistem saraf.
Penekanan tentang pentingnya menahan amarah ini juga merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa ukuran kekuatan seseorang bukan terletak pada kekuatan fisik, melainkan pada kemampuan menguasai diri ketika marah.
Selain pengendalian diri, langkah lain yang dianjurkan adalah membaca doa. Dalam ajaran Islam, berdoa saat marah dipandang sebagai cara untuk mengekspresikan emosi sekaligus membantu individu menenangkan diri, menemukan kedamaian, dan mempererat hubungan spiritual dengan Allah.
Adapun doa yang disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim adalah membaca kalimat perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ada satu kalimat yang, bila diucapkan, dapat meredakan keadaan seseorang yang sedang diliputi amarah, yakni: “A’udzu billahi minasy-syaithanir rajim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).
Dengan menggabungkan upaya menenangkan diri secara fisik melalui pengaturan napas dan upaya spiritual melalui doa, langkah-langkah ini diarahkan untuk membantu seseorang meredam amarah dan menjaga sikap dalam berinteraksi dengan orang lain.

