BERITA TERKINI
Guru di Lampung Selatan Jadi Detektor Dini Masalah Gizi Anak Lewat Pemantauan di Sekolah

Guru di Lampung Selatan Jadi Detektor Dini Masalah Gizi Anak Lewat Pemantauan di Sekolah

Di SDN 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, kebiasaan sederhana seperti cuci tangan sebelum makan kini dijalankan dengan pengawasan ketat guru. Seusai senam sehat, murid-murid mengantre di keran sekolah, menggosok sabun hingga berbusa, lalu membilas tangan. Dwi Handayani, salah satu guru, memeriksa kebersihan jemari dan kuku mereka satu per satu sebelum anak-anak makan.

Rutinitas itu menjadi bagian dari pelaksanaan program JAPFA for Kids di sekolah tersebut. Melalui program ini, peran guru meluas dari sekadar mengajar di kelas menjadi pendamping kebiasaan hidup bersih dan sehat, pengingat bekal makan yang lebih bergizi, hingga pemantau pertumbuhan anak melalui pengukuran tinggi dan berat badan. Dalam praktiknya, guru kerap menjadi pihak pertama yang menangkap tanda-tanda masalah gizi pada siswa.

Perubahan peran itu terjadi di tengah persoalan gizi anak usia sekolah yang masih menonjol. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Pada saat yang sama, SKI 2023 juga menemukan 96,7 persen penduduk usia 5 tahun ke atas masih kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai rekomendasi, menandakan persoalan gizi juga berkaitan dengan kualitas pola makan harian.

Sejumlah kajian menekankan pentingnya perhatian pada status gizi anak usia sekolah. Dalam jurnal “The Nutritional Status of School-Aged Children: Why Should We Care?” (Food and Nutrition Bulletin, 2010) karya Cora Best dkk., disebutkan status gizi memengaruhi kesehatan, pertumbuhan fisik, kemampuan berpikir, serta capaian belajar. Kajian itu juga menilai sekolah sebagai tempat strategis untuk mendeteksi sekaligus memperbaiki masalah gizi, sehingga keterlibatan guru dalam memantau kebiasaan makan dan kondisi fisik murid menjadi penting.

Winarti, bidan dari puskesmas setempat, mengatakan masih ada orang tua yang menganggap tubuh kecil anak semata faktor keturunan. Padahal, pertumbuhan perlu dipantau secara berkala melalui pengukuran tinggi dan berat badan, disertai edukasi mengenai gizi seimbang. Menurutnya, anak yang terlihat aktif belum tentu seluruh kebutuhan gizinya terpenuhi.

Di SDN 1 Budidaya, pengalaman mengikuti program menjadi pembelajaran baru bagi Dwi Handayani yang mengajar sejak 2007. Ia menceritakan antusiasme siswa saat menerima telur yang dibagikan dalam program. Guru juga mendampingi anak sejak sebelum makan dimulai, memastikan cuci tangan, memantau saat makan, dan mendorong siswa yang enggan mengonsumsi telur agar mau mencoba.

Dwi menilai keterlibatan sekolah dalam program perbaikan gizi bukan beban tambahan. Ia menyebut guru kerap berperan sebagai orang tua kedua, sehingga perhatian pada kebiasaan hidup, termasuk pola makan dan kesehatan, menjadi bagian dari tugas keseharian.

Peran itu semakin terasa ketika guru mendampingi petugas puskesmas melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan siswa. Dari kegiatan tersebut, SDN 1 Budidaya menemukan delapan siswa masuk kategori memerlukan perhatian khusus terkait kondisi gizi. Temuan itu, menurut Dwi, mengubah cara pandang guru yang sebelumnya mengira anak aktif berarti sehat.

Dwi menduga persoalan lebih terkait kebiasaan makan ketimbang ketersediaan pangan. Sebagian besar warga sekitar sekolah berprofesi sebagai petani, sehingga sayuran seperti kangkung, bayam, dan daun singkong relatif mudah diperoleh. Menurutnya, tantangan terbesar adalah membiasakan anak mengonsumsi sayur dan makanan bergizi, karena ada kondisi ketika anak sulit makan dan orang tua cenderung membiarkan.

Sebelum program makan bergizi gratis berjalan, sekolah juga telah membiasakan makan bersama. Guru rutin mengingatkan siswa membawa bekal yang mengandung sayuran dan sumber protein, seperti tahu, tempe, atau telur.

Kepala SDN 1 Budidaya, Andri Sugiarto, mengatakan pemantauan kesehatan siswa dilakukan melalui kerja sama dengan puskesmas setempat. Pemeriksaan berlangsung berkala, meliputi pengukuran tinggi dan berat badan serta pemberian imunisasi sesuai program yang berjalan. Selain pendampingan gizi, JAPFA for Kids juga mendorong pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.

Setiap Sabtu, siswa mengikuti rangkaian kegiatan seperti senam bersama, praktik cuci tangan yang benar, pemeriksaan kebersihan kuku, dan edukasi konsumsi makanan bergizi. Untuk mendukung pelaksanaan, sekolah menunjuk dua guru sebagai koordinator kegiatan sekaligus pendamping siswa. Andri menyebut komunikasi dengan pihak program berjalan lancar, termasuk distribusi telur yang diterima sekolah.

Menurut Andri, keterlibatan guru memang menambah tanggung jawab di luar belajar-mengajar, tetapi manfaat untuk anak dinilai lebih besar. Sekolah mengatur agar kegiatan program tidak mengganggu pelajaran, misalnya dilakukan sebelum kelas dimulai, saat istirahat, atau setelah kegiatan belajar.

Dampak pemantauan juga dirasakan orang tua. Salah satu siswa yang teridentifikasi memerlukan perhatian khusus adalah Khatam Zikrullah Persada Agung, siswa kelas 4. Ayahnya, Agung Kurniawan, mengaku baru mengetahui kondisi putranya setelah pengukuran tinggi dan berat badan oleh tenaga kesehatan dalam kegiatan yang melibatkan sekolah dan puskesmas. Hasil pengukuran menunjukkan tinggi dan berat badan Khatam tidak seimbang sehingga masuk kategori yang memerlukan perhatian khusus.

Agung awalnya mengira penerima bantuan telur ditentukan berdasarkan rekomendasi sekolah. Setelah mendapat penjelasan bahwa penetapan penerima manfaat berdasarkan hasil pengukuran status gizi oleh tenaga kesehatan, ia mengaku terbantu. Ia mengatakan keluarga sudah berupaya memberi vitamin penambah nafsu makan, tetapi hasilnya belum maksimal karena anak lebih senang bermain daripada menghabiskan makanan. Melalui program, Khatam menerima tambahan asupan protein berupa telur serta pendampingan dan edukasi terkait pemenuhan gizi.

Konselor JAPFA for Kids, Tamara Karent, mengatakan program juga menekankan penguatan kapasitas guru untuk mendampingi siswa dan berkomunikasi dengan orang tua. Guru diberi pembekalan agar dapat menyampaikan hasil pemantauan dengan pendekatan positif, tanpa langsung memberi label, melainkan menekankan kebutuhan peningkatan gizi. Tamara menyebut kegiatan dilaksanakan setiap Sabtu agar tidak membebani aktivitas belajar-mengajar.

Social Investment Supervisor JAPFA, ST Khumaidah, menyampaikan hasil pemeriksaan awal terhadap sekitar 2.051 siswa dari 15 sekolah di Lampung Selatan menemukan 159 siswa masuk kategori gizi kurang dan gizi buruk. Delapan di antaranya berada di SDN 1 Budidaya. Sebagai intervensi, JAPFA mendistribusikan tujuh butir telur setiap pekan selama enam bulan kepada siswa penerima manfaat yang telah memperoleh persetujuan orang tua.

Namun, menurut Khumaidah, intervensi tidak berhenti pada pemberian telur. Program juga melibatkan sekolah dan orang tua untuk melengkapi kebutuhan gizi lain seperti karbohidrat, sayur, buah, dan nutrisi lainnya melalui bekal yang dibawa anak ke sekolah. Selain itu, program mengembangkan pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat melalui kegiatan Hari Sehat JAPFA, yang mencakup senam empat pilar gizi seimbang, cuci tangan pakai sabun, pemeriksaan kebersihan kuku, edukasi kesehatan, pengukuran berat dan tinggi badan, serta makan bekal bersama.

Pemantauan pelaksanaan dilakukan melalui pelaporan guru menggunakan Google Form, mencakup konsumsi telur, pelaksanaan Hari Sehat, dan kehadiran peserta. Jika seorang siswa tercatat tidak mengonsumsi telur tiga kali dalam tujuh hari, pihak sekolah dan orang tua diminta melakukan komitmen ulang. Pengukuran awal, pertengahan, dan akhir program dilakukan puskesmas sesuai standar antropometri Kementerian Kesehatan, sementara pemantauan bulanan dilakukan guru yang telah mendapat pelatihan bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan hingga 2026 program telah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi. Retno juga menyebut capaian program pada 2024 menunjukkan 762 dari 1.479 siswa yang sebelumnya mengalami gizi kurang dan gizi buruk meningkat menjadi gizi baik (51,5 persen). Pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik (62,5 persen).

Tahun ini, JAPFA menargetkan 16.000 siswa di berbagai wilayah Indonesia mengikuti program, termasuk di Lampung Selatan. Retno menyebut Lampung memiliki sejarah panjang pelaksanaan program yang dimulai pada 2008 di Lampung Tengah dan Lampung Timur, lalu berkembang ke sejumlah kabupaten lain. Dengan pelaksanaan tahun ini, program tercatat telah menjangkau 69 sekolah dan lebih dari 13.400 siswa di Provinsi Lampung.

Di lingkungan sekolah, anak-anak yang selesai mencuci tangan kembali ke kelas sambil tertawa dan berlari kecil. Di balik rutinitas itu, guru kini menjadi salah satu “alarm” pertama yang mengingat siapa yang sering datang tanpa sarapan, siapa yang kerap menyisakan makanan, dan siapa yang menunjukkan perubahan pola makan. Ketika ada hal yang perlu diwaspadai, guru pula yang lebih dulu berkomunikasi dengan orang tua, menjembatani upaya pencegahan dan perbaikan masalah gizi sejak dini.