Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Sri Anna Marliyati, menilai pola diet karnivora yang hanya mengandalkan konsumsi pangan hewani tanpa asupan nabati tidak aman dan tidak disarankan bagi masyarakat umum. Dari sudut pandang ilmu gizi, ia menyebut pola makan ekstrem tersebut berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama bila dijalani dalam jangka panjang.
“Diet karnivora tidak direkomendasikan karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang dan tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum. Mungkin dapat diterapkan sementara pada individu tertentu dengan pengawasan medis ketat, tetapi tidak aman untuk populasi umum,” ujar Sri Anna dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Februari 2026.
Menurutnya, penurunan berat badan cepat yang dialami sebagian orang pada fase awal diet karnivora tidak selalu mencerminkan penurunan lemak yang sehat. Ia menekankan, penurunan tersebut lebih banyak terjadi karena berkurangnya cadangan glikogen dan cairan tubuh. Pada tahap adaptasi metabolik, keluhan yang kerap muncul antara lain kelelahan, konstipasi, bau napas, hingga kram otot.
Sri Anna menilai risiko yang lebih serius dapat muncul dalam jangka panjang karena diet karnivora sangat tidak seimbang dari sisi zat gizi. Ia menyebut hampir pasti terjadi defisit serat, vitamin C, folat, serta berbagai fitokimia. Kondisi ini, kata dia, bertentangan dengan pilar gizi seimbang yang menekankan konsumsi pangan beragam. “Tidak ada satu jenis makanan yang mengandung semua zat gizi. Karena itu, kita perlu makan beragam jenis pangan untuk saling melengkapi,” ujarnya.
Terkait klaim bahwa diet karnivora efektif membakar lemak melalui mekanisme ketosis, Sri Anna mengakui kondisi tersebut dapat terjadi karena asupan karbohidrat yang hampir nol membuat tubuh meningkatkan penggunaan lemak sebagai sumber energi. Namun, ia mengingatkan manfaat itu perlu ditimbang dengan risiko kesehatan yang menyertainya, terutama pada jantung, ginjal, dan saluran cerna.
Ia menjelaskan, konsumsi pangan hewani tanpa sayur dan buah cenderung tinggi lemak jenuh dan kolesterol, yang berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL), terutama pada individu dengan riwayat dislipidemia. Selain itu, ketiadaan serat disebut dapat mengganggu metabolisme lipid.
Dari sisi ginjal, asupan protein yang sangat tinggi dapat meningkatkan beban kerja ginjal, terutama bila tidak disertai hidrasi yang cukup. Ginjal harus menyaring limbah nitrogen lebih keras, sehingga meningkatkan risiko kerusakan ginjal hingga gagal ginjal, terlebih pada mereka yang memiliki riwayat penyakit ginjal.
Adapun pada saluran cerna, Sri Anna menyebut ketiadaan serat dapat memicu konstipasi dan ketidakseimbangan mikrobiota usus. Ia juga menyoroti asupan lemak tinggi yang dapat meningkatkan produksi asam empedu. “Dalam jangka panjang, ini bisa merusak mukosa usus, memicu peradangan kronis, hingga meningkatkan risiko kanker kolorektal. Asam empedu sekunder yang tinggi dapat bertindak sebagai karsinogen bagi sel-sel usus,” katanya.
Ia menambahkan, diet tanpa serat nabati juga dapat menghilangkan produksi asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids (SCFA) seperti butirat. Padahal, SCFA disebut memiliki efek protektif terhadap kesehatan usus, sistem imun, dan metabolisme tubuh. “Risiko-risiko ini sering kali bersifat silent dan kumulatif,” ujar Sri Anna.
Sebagai alternatif yang dinilai lebih aman, Sri Anna merekomendasikan pola makan seimbang yang didukung bukti ilmiah. Ia menyebut mediterranean diet sebagai salah satu contoh karena menyeimbangkan protein hewani dan nabati, tinggi serat, serta lemak tak jenuh, dan dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit tidak menular.
Pilihan lain adalah diet tinggi protein yang tetap seimbang, dengan porsi protein sekitar 20–25 persen energi dan tetap mengandung karbohidrat kompleks serta serat. Menurutnya, pola ini lebih berkelanjutan dibandingkan diet ekstrem rendah karbohidrat.
Ia juga menekankan pentingnya menerapkan pedoman gizi seimbang melalui panduan “Isi Piringku” berbasis pangan lokal. “Pola ini mudah diterapkan, sesuai budaya makan Indonesia, dan aman untuk populasi luas,” kata Sri Anna.

