Upaya pencegahan stunting terus ditekankan melalui optimalisasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini dinilai menjadi fondasi utama pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara fisik maupun kognitif, sehingga membutuhkan perhatian serius dari keluarga dan lingkungan.
Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Malang, Dr. Heny Astutik, S.Kep.Ners, M.Kes, menjelaskan stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama. Dampaknya tidak hanya terlihat dari tinggi dan berat badan anak yang tidak sesuai usia, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan otak.
Menurut Heny, stunting tidak sekadar berkaitan dengan postur tubuh anak. Ia menekankan pentingnya asupan gizi seimbang sejak awal kehidupan karena stunting dapat berdampak pada perkembangan intelektual, motorik, dan kognitif anak.
Selain faktor gizi, sanitasi lingkungan disebut berperan besar terhadap terjadinya stunting. Lingkungan yang kurang bersih meningkatkan risiko infeksi penyakit pada anak, yang pada akhirnya dapat menghambat penyerapan nutrisi.
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh, anak juga perlu mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal. Hal ini ditegaskan oleh Ita Yuliani, S.ST., M.Keb, yang menyebut imunisasi dasar wajib diberikan sebelum anak berusia satu tahun. Ia menilai kelengkapan imunisasi penting untuk membangun kekebalan tubuh dan mencegah penyakit infeksi yang dapat memicu stunting.
Ita menambahkan, di Kota Malang kasus penolakan imunisasi relatif jarang karena orang tua sudah banyak terpapar edukasi kesehatan. Namun, jika masih ada keluarga yang menunda imunisasi, tenaga kesehatan dan kader dinilai memiliki peran penting untuk terus mengingatkan jadwal imunisasi sesuai ketentuan.
Ketika angka stunting meningkat, pemerintah daerah menetapkan wilayah tertentu sebagai lokus penanganan dengan pembinaan intensif. Upaya tersebut meliputi pemberian makanan tambahan, edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang bayi, hingga kerja sama lintas sektor. Meski demikian, perubahan perilaku masyarakat disebut tidak dapat dilakukan secara instan.
Heny menekankan, pengentasan stunting tidak cukup hanya dengan menimbang berat badan anak. Ia menilai upaya pencegahan juga perlu memastikan pengukuran dilakukan dengan benar, menjaga lingkungan tetap sehat, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang.
Kedua narasumber berharap masyarakat semakin aktif membawa balita ke posyandu secara rutin. Kader kesehatan akan melakukan pemantauan, bahkan mendatangi keluarga yang tidak hadir, termasuk memberikan edukasi kepada pengasuh anak seperti nenek atau pengasuh rumah tangga. Peran kader dinilai krusial agar tidak ada anak yang luput dari perhatian dalam upaya pencegahan stunting.

