PT Esensi Solusi Buana (ESB), perusahaan teknologi penyedia software all-in-one berbasis cloud untuk industri food and beverage (F&B), resmi memperluas ekspansi bisnisnya ke Medan, Sumatera Utara. Langkah ini melanjutkan perluasan pasar ESB setelah sebelumnya masuk ke Batam.
Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, mengatakan Medan dipilih karena memiliki ekosistem kuliner yang besar, dinamis, dan multikultural. Kota ini juga dikenal dengan julukan “The Kitchen of Asia”. Menurutnya, karakter pelaku usaha di Medan beragam, mulai dari usaha keluarga hingga jaringan besar, sehingga dinilai relevan dengan solusi digital yang dikembangkan ESB.
Gunawan menyebut nilai industri F&B di Indonesia saat ini mencapai sekitar US$60 miliar per tahun, dengan pertumbuhan signifikan di luar Pulau Jawa. Namun, ia menilai masih banyak pelaku usaha yang mengelola bisnis secara manual dan belum terintegrasi secara digital.
ESB menawarkan platform yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi operasional, transparansi keuangan, serta pengambilan keputusan berbasis data. Berdasarkan pengalaman implementasi ESB, digitalisasi disebut dapat meningkatkan efisiensi bisnis hingga 34–37 persen tanpa mengurangi tenaga kerja. Gunawan menyatakan sistem yang lebih terukur justru dapat membuka ruang ekspansi dan penyerapan tenaga kerja, sekaligus membantu pengendalian biaya.
Solusi ESB mencakup sistem kasir (point of sales/POS), manajemen inventori, laporan keuangan, analisis penjualan, hingga sistem pembayaran digital. Produk ini diklaim fleksibel untuk digunakan oleh berbagai skala usaha, dari UMKM seperti warung hingga jaringan restoran berskala nasional.
Ekspansi ke Medan juga menyasar UMKM serta generasi kedua dan ketiga pengusaha yang dinilai lebih terbuka terhadap digitalisasi dan keputusan berbasis data. Regional Sales Lead ESB, Edwin Djaja, mengatakan sejumlah brand nasional pengguna ESB telah lebih dulu beroperasi di Medan. Dengan kehadiran resmi di kota ini, ESB berharap dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha lokal, khususnya UMKM. Untuk segmen tersebut, ESB menawarkan paket berlangganan mulai Rp350 ribu per bulan, dengan opsi fitur lanjutan sesuai kebutuhan usaha.
Di tengah pertumbuhan bisnis kuliner di Medan, ESB menyoroti kebutuhan penguatan kontrol operasional untuk meminimalkan risiko kebocoran bisnis. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Medan tumbuh 14,50 persen sepanjang 2024, tertinggi dibanding sektor lain. Sementara itu, Survei Fraud Indonesia 2025 mencatat 39 persen kasus fraud terjadi akibat lemahnya pengendalian internal.
Gunawan menyatakan ESB menghadirkan solusi digital terintegrasi untuk memperkuat kontrol operasional, meningkatkan transparansi, dan menekan risiko fraud. Ia menekankan pemantauan data secara real time dan sistem yang terhubung dapat membantu pelaku usaha menjaga konsistensi operasional dan mengurangi risiko fraud dalam jangka panjang.
Dalam pendekatan kolaboratif, ESB menjalin kerja sama dengan ekosistem pengusaha lokal, salah satunya melalui diskusi dan kopdar bersama Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Medan. Ketua TDA Medan, Chairil F. Siregar, menilai tantangan operasional masih menjadi persoalan nyata bagi pengusaha kuliner daerah, termasuk selisih pencatatan yang kerap terlewat karena belum adanya sistem pemantauan menyeluruh.
Sebagai tindak lanjut, ESB bersama TDA Medan menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B pada 15 Januari 2026, yang menghadirkan diskusi dan studi kasus terkait pengelolaan bisnis yang lebih sistematis dan terukur.
Gunawan menegaskan ekspansi ke Medan merupakan bagian dari strategi nasional ESB setelah memperluas pasar di Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Ke depan, ESB juga menyiapkan ekspansi ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Malaysia.

