Tuban—Ketersediaan pangan di tingkat keluarga belum selalu berarti kebutuhan gizi anak terpenuhi. Pemenuhan gizi tidak hanya ditentukan ada atau tidaknya bahan makanan, tetapi juga pengetahuan memilih pangan bergizi, keterampilan mengolahnya, serta kebiasaan menyajikannya menjadi menu sehat. Pengetahuan gizi di tingkat keluarga dinilai menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan stunting.
Dalam konteks itu, Program Pengembangan Taman Gizi Keluarga (TaGiKa) yang dikembangkan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas dan Yayasan eL-SAL Indonesia dijalankan sebagai ruang belajar bagi warga. Taman ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menanam, tetapi juga menjadi sarana mempertemukan pengetahuan gizi dengan sumber pangan yang tersedia di sekitar keluarga.
Program TaGiKa dikembangkan di enam desa, yakni Simo, Sokosari, Sumurcinde, dan Nguruan di Kecamatan Soko, serta Banjaragung dan Campurejo di Kecamatan Rengel. Melalui Kelompok Kerja (Pokja) TaGiKa, masyarakat belajar mengenali pangan yang ada di lingkungan, memahami nilai gizinya, hingga mengolahnya menjadi makanan yang dapat disajikan bagi keluarga.
Proses tersebut ditampilkan dalam Festival Gizi TaGiKa, ketika enam Pokja membawa berbagai olahan pangan berbahan lokal. Sayuran, umbi, buah, hingga ikan lele disajikan dalam beragam menu. Bahan yang tumbuh di sekitar rumah tidak berhenti sebagai hasil kebun, melainkan diolah menjadi makanan bergizi dan sehat.
Melalui kegiatan itu, kesadaran gizi tidak hanya berhenti pada penyampaian informasi. Kader dan warga memperoleh pengalaman langsung dalam memilih bahan, mengolah, dan menyajikannya. Pengetahuan selama pendampingan juga memiliki jalur untuk diteruskan kepada keluarga melalui praktik yang dekat dengan keseharian, yakni makanan.
Pengenalan pangan bergizi dan sehat juga dilakukan sejak dini. Anak-anak PAUD dikenalkan pada tanaman bergizi melalui kegiatan mewarnai, sementara para ibu mendapatkan ruang untuk mengaitkan pengetahuan tersebut dengan upaya menghadirkan makanan bergizi dan seimbang bagi anak.
Ketua Yayasan eL-SAL Indonesia, Imam Muqroni, menilai kedekatan program dengan kehidupan warga menjadi kekuatan TaGiKa dalam pemberdayaan sekaligus pencegahan stunting. Ia menyebut TaGiKa tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi mendorong gizi dipraktikkan dalam menu keluarga dan membuka ruang bagi pengembangan potensi usaha melalui UMKM.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, Roikan, menyatakan dukungan terhadap TaGiKa sebagai salah satu alternatif peningkatan pengetahuan dan kesadaran gizi masyarakat. Menurutnya, stunting tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan, tetapi juga perkembangan otak, sehingga edukasi menjadi penting.
Dari sisi pelaksana program, Feni Kurnia Indiharti menyampaikan bahwa TaGiKa diarahkan untuk menghadirkan dampak yang nyata dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya komitmen dan kerja keras Pokja, kolaborasi, serta sinergi berbagai pihak agar manfaat program tidak berhenti pada masa pendampingan.
Ketika sumber pangan lokal dikenali dan keterampilan mengolahnya berkembang, manfaat program juga meluas. Pangan tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga, tetapi turut membuka peluang pengembangan olahan bernilai tambah bagi masyarakat, sehingga pemberdayaan gizi bertemu dengan potensi ekonomi desa.
Keberlanjutan program kemudian ditandai dengan serah terima Taman Gizi Keluarga secara simbolis dari EMCL kepada pemerintah desa di enam wilayah penerima manfaat. Pada saat yang sama, Dinas Kesehatan, EMCL, eL-SAL, perwakilan Dinas Pertanian, Camat Soko, Camat Rengel, serta enam kepala desa menandatangani komitmen untuk menjaga keberlanjutan program.
Dengan serah terima tersebut, taman selanjutnya menjadi bagian dari ruang desa untuk terus dirawat. Pokja membawa pengalaman dan keterampilan untuk diteruskan, sementara keluarga diharapkan menerapkan pengetahuan itu dalam pilihan pangan dan hidangan sehari-hari.
Upaya penurunan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor hingga tingkat keluarga. Di Kecamatan Soko dan Rengel, ikhtiar itu dijalankan melalui TaGiKa, ketika pekarangan dimanfaatkan sebagai sumber pangan, pengetahuan tumbuh menjadi keterampilan, dan kepedulian orang tua hadir dalam sajian makanan bergizi dan sehat bagi anak.