SUMENEP — Membangun usaha kuliner kerap menuntut proses panjang dan tidak selalu berjalan mulus. Hal itu dialami Farah Dila, pemilik usaha rumahan Dapur Dila, yang membagikan perjalanan jatuh bangunnya saat merintis bisnis makanan.
Dalam obrolan pada Senin, 9 Februari 2026, Farah bercerita bahwa sebelum akhirnya fokus mengembangkan Dapur Dila, ia sempat membuka empat warung dengan konsep berbeda. Perjalanan bisnisnya dimulai pada 2022, ketika ia mencoba berbagai bentuk usaha, mulai dari warung makan hingga angkringan.
Dari rangkaian percobaan tersebut, Farah menilai tantangan terbesar membangun bisnis kuliner bukan semata soal modal atau menu, melainkan konsistensi dalam menjalankan prosesnya. Ia juga menekankan pentingnya memahami target pasar, terutama bagi anak muda yang ingin memulai usaha. “Jadi kalau anak-anak muda yang pengen buka usaha, dilihat dulu targetnya,” kata Farah. Menurutnya, kesalahan menentukan target dapat berdampak pada keberlangsungan bisnis.
Berbekal pengalaman pribadi, Farah menyarankan pemula memulai penjualan secara daring sebelum membuka warung fisik. “Untuk pertama kali buka usaha mending di online dulu. Kita kumpulin dulu pelanggan-pelanggan biar tahu ke kita. Nanti bertahap berproses, baru kita pelan-pelan buka warung,” ujarnya.
Selain strategi penjualan, Farah menilai konten media sosial, khususnya TikTok, bisa berpengaruh terhadap penjualan karena membantu memperluas jangkauan dan mengenalkan produk. Ia juga mengingatkan pentingnya kemasan atau packaging sebagai kesan pertama yang dilihat konsumen.
Di akhir obrolan, Farah menyampaikan tiga pesan bagi anak muda yang ingin memulai bisnis: tidak gengsi, berani capek, dan pantang menyerah. Prinsip itu, menurutnya, menjadi pegangan dalam menjalani proses hingga Dapur Dila dapat bertahan dan berkembang.

