Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai penggunaan tabung compressed natural gas (CNG) 3 kilogram berpotensi berjalan efektif jika diterapkan pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner atau food and beverage (FnB).
Faisal mengatakan, penerapan CNG 3 kg layak dicoba pada UMKM, terutama bila merujuk pada pengalaman penggunaan CNG di restoran skala besar yang dinilai lebih murah. “Kalau sudah digunakan di restoran FnB yang skalanya besar dan terbukti lebih murah, semestinya cukup layak untuk dicobakan di UMKM,” ujarnya saat dihubungi Kamis (20/8/2026).
Menurut Faisal, potensi efisiensi biaya operasional menjadi alasan utama pengenalan energi alternatif tersebut. Ia menyebut CNG dapat menekan biaya produksi dan pada akhirnya berpeluang meningkatkan daya saing pelaku usaha di sektor FnB.
Ia menjelaskan bahwa dalam skala besar, peralihan penggunaan bahan bakar ke CNG telah terbukti mampu memangkas biaya operasional hingga 20%. Penghematan itu, kata dia, didorong oleh harga CNG yang cenderung lebih stabil dan lebih terjangkau dibandingkan LPG.
Meski demikian, Faisal menekankan penerapan CNG 3 kg tetap memerlukan tahap uji coba terlebih dahulu. Ia menilai program percontohan perlu menyasar kelompok usaha yang tepat, yakni UMKM kuliner yang bergantung pada tabung gas untuk kebutuhan memasak harian.