Edukasi gizi bagi remaja dinilai perlu bertransformasi dari sekadar penyampaian materi teoritis menjadi pembelajaran yang lebih mudah dipahami, relevan dengan keseharian, dan memberi ruang praktik langsung. Berangkat dari kebutuhan tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Transformasi Edukasi Gizi Seimbang melalui Media Interaktif dan Demonstrasi Praktik Isi Piringku pada SMP Al-Wathan Ambon” digelar untuk memperkuat literasi serta keterampilan gizi siswa.
Kegiatan dilaksanakan pada 6 Juni 2026 di SMP Al-Wathan Ambon, sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi program. Sebanyak 56 siswa terlibat sebagai peserta, bersama tim dosen pelaksana dan empat mahasiswa. Dukungan sekolah diberikan oleh Kepala SMP Al-Wathan Ambon A.R. Kaimudin, S.Pd., S.Sos.I., M.Pd., serta Wakasek Kurikulum dan Wakasek Urusan Kesiswaan. Sekolah dipandang sebagai lingkungan strategis untuk membentuk kebiasaan makan dan perilaku hidup sehat pada usia remaja.
Dalam materi kegiatan, masa remaja dipaparkan sebagai periode pertumbuhan dan perkembangan yang menuntut kecukupan energi dan zat gizi. Pada fase ini, remaja juga mulai lebih bebas menentukan pilihan makanan. Berbagai faktor seperti lingkungan pertemanan, iklan makanan, ketersediaan jajanan, kebiasaan sarapan, serta pola makan keluarga dapat memengaruhi keputusan konsumsi. Karena itu, intervensi gizi pada remaja diposisikan bukan hanya untuk mendukung kebutuhan pertumbuhan saat ini, tetapi juga sebagai investasi kesehatan jangka panjang.
Sekolah menjadi salah satu titik intervensi karena siswa menghabiskan waktu yang cukup panjang di lingkungan belajar dan berinteraksi dengan guru, teman sebaya, kantin, serta beragam sumber informasi. Sejumlah kajian yang dirujuk dalam kegiatan ini menyebutkan bahwa intervensi edukasi pangan dan gizi berbasis sekolah dapat berdampak positif pada perilaku konsumsi remaja, termasuk peningkatan konsumsi buah dan sayur.
Pemilihan SMP Al-Wathan Ambon sebagai mitra didasarkan pada analisis situasi dalam proposal kegiatan. Sekolah disebut masih menghadapi tantangan berupa rendahnya pemahaman siswa mengenai prinsip gizi seimbang dan konsep “Isi Piringku”, belum tersedianya media edukasi visual yang memadai, serta kebiasaan konsumsi makanan yang cenderung tinggi kalori namun rendah zat gizi. Pihak sekolah juga mengidentifikasi kebiasaan tidak sarapan dan konsumsi jajanan yang kurang sehat sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Program PKM dirancang dengan pendekatan edukatif-partisipatif berbasis praktik. Siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dilibatkan aktif dalam proses belajar. Rangkaian kegiatan meliputi edukasi gizi seimbang, diskusi interaktif, permainan edukatif, demonstrasi penyusunan “Isi Piringku”, praktik mandiri siswa, refleksi, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test.
Konsep “Isi Piringku” menjadi inti kegiatan. Siswa diperkenalkan pada pembagian porsi makan dalam satu piring secara seimbang, yakni sekitar setengah bagian berisi sayur dan buah, seperempat bagian sumber karbohidrat, serta seperempat bagian sumber protein. Edukasi juga dikaitkan dengan kebiasaan minum air putih, aktivitas fisik, kebersihan, serta pembatasan konsumsi pangan tinggi gula, garam, dan lemak. Pendekatan ini dimaksudkan agar pesan gizi lebih sederhana karena dapat langsung dikaitkan dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Salah satu penekanan dalam demonstrasi adalah pemanfaatan pangan lokal Maluku. Siswa diajak melihat kemungkinan menyusun pola makan seimbang dengan bahan yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti ikan laut, papeda, ubi, pisang, dan sayuran lokal. Pendekatan ini menegaskan bahwa pola makan sehat tidak harus identik dengan makanan mahal atau berasal dari luar daerah, melainkan dapat disesuaikan dengan ketersediaan pangan, budaya, preferensi, dan kebiasaan makan setempat.
Pada sesi demonstrasi, siswa mengamati langsung cara menyusun piring makan agar lebih seimbang, kemudian mempraktikkan kembali konsep tersebut secara mandiri. Kegiatan ini menekankan bahwa kemampuan memilih dan mengombinasikan makanan merupakan keterampilan yang tidak selalu terbentuk hanya melalui ceramah.
Selama pelaksanaan, siswa terlihat aktif mengikuti materi, berdiskusi, menjawab pertanyaan, dan terlibat dalam praktik penyusunan “Isi Piringku”. Pembelajaran juga diarahkan pada refleksi melalui pertanyaan sederhana: “Apa yang saya makan setiap hari, dan apakah makanan tersebut sudah seimbang?” Pertanyaan ini digunakan untuk membantu siswa menghubungkan pengetahuan gizi dengan kebiasaan makan mereka sendiri.